Senin, 02 Juli 2012

Pendekatan Instrumental Dalam Regulasi Emosi: Emosi Positf vs Emosi Negatif

Lagi-lagi, saya iseng memposting hasil tulisan saya untuk UTS. Kali ini tentang emosi. Saya yakin semua sudah tahu apa itu emosi positif, apa itu emosi negatif. Tapi, sebenarnya bukan hal simpel dalam menggolongkan bahwa marah itu negatif, bahagia itu positif. Ada pertimbangan yang lebih dalam terkait penggolongan emosi. Monggo disimak kalau mau tahu lebih lanjut, kalau tidak tertarik ya nggak papa... :)


Pendekatan Instrumental Dalam Regulasi Emosi: Emosi Positif vs Emosi Negatif

Nadya Anjani Rismarini
09/ 283173/ PS/ 05735

Abstrak
Selama ini kita mengenal istilah emosi positif dan emosi negatif. Emosi positif biasanya mengacu pada kebahagiaan, sedangkan emosi negatif mengacu pada kesedihan, ketakutan, atau kemarahan. Akan tetapi tidak selamanya manusia ingin merasakan emosi positf dan tidak selamanya emosi positif itu bernilai positif. Studi telah menunjukkan adanya pendekatan instrumental dalam regulasi emosi, ketika seseorang mungkin ingin merasakan emosi negatif tertentu agar tujuannya tercapai. Di sisi lain, emosi positif seperti kebahagiaan pun tidak selamanya bernilai positif.

Regulasi Emosi: Sebuah Pendekatan Instrumental
Dalam kesehariannya, manusia seakan diarahkan untuk merasakan emosi yang bernilai positif. Wajah-wajah tersenyum dan memancarkan kesenangan lebih diharapkan dan lebih bisa diterima oleh lingkungan daripada wajah-wajah murung yang memancarkan kesedihan, atau, wajah-wajah marah yang memancarkan permusuhan. Emosi, yang aslinya bersifat refleks, alami, dan bebas dari penilaian, layaknya menjadi sesuatu yang dapat dibedakan dan dinilai berdasarkan dua kubu: positif dan negatif, di mana yang negatif haruslah dihindari.
Akan tetapi, anggap saja emosi positif itu memang berdampak positif, dan emosi negatif itu memang berdampak negatif, bagaimana kita dapat menjelaskan orang yang merasa senang dan lega sehabis menangis? Bukankah menangis (bersedih) itu emosi negatif? Mengapa ada orang yang marah dan mengumpat lalu setelah itu merasa lega? Tampaknya, orang-orang tidak selalu ingin merasakan emosi yang positif.
Di dalam teori psikoanalisa, dikenal istilah pleasure principle, yang mana manusia dipandang sebagai makhluk hedonis, cenderung mencari kesenangan dan menghindari rasa sakit. Pertanyaan yang muncul adalah: Benarkah begitu jika dikaitkan dengan emosi? Apakah manusia ingin selalu merasakan kesenangan atau emosi-emosi lain yang tergolong positif? Jika benar, lalu apa gunanya kapasitas alami kita untuk merasakan berbagai macam emosi selain emosi positif? Kita dapat berpikir ulang mengenai makna positif dan negatif yang biasanya dilekatkan pada emosi: bisa jadi, positif dan negatif itu situasional dan tidak sesederhana yang dipaparkan dalam seminar-seminar motivasi diri.
Regulasi sendiri berarti “mengatur”, sehingga jika dikaitkan dengan emosi, regulasi emosi dapat berarti pengaturan, pengelolaan emosi. Regulasi emosi sering kita kaitkan dengan kestabilan emosi, adaptasi, dan lain-lain. Hal ini tidaklah salah, karena regulasi emosi memiliki konsekuensi yang penting bagi kesehatan dan fungsi adaptif (Tamir, 2011). Bagaimana pun, paradigma regulasi emosi yang ditinjau dari pendekatan instrumental barangkali membawa angin segar bagi pengetahuan kita akan emosi.
Pendekatan instrumental terhadap regulasi emosi menyatakan bahwa manusia mengatur emosi mereka agar dapat sukses meraih tujuan instrumental (Bonanno, 2001; Parrott, 1993; Tamir, 2009a dalam Tamir, 2011). Jadi, regulasi emosi bukanlah semata-mata ditujukan untuk merasakan emosi tertentu, akan tetapi regulasi ini digunakan untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan ini dapat diartikan sebagai target perubahan pada fisiologi, kognisi, motivasi, perilaku, atau lingkungan sosial. Maka tidak dapat kita simpulkan secara sederhana bahwa regulasi emosi berarti mengubah perasaan menjadi positif. Ada hal-hal yang jauh lebih kompleks daripada sekedar mencari kesenangan.
Lebih jauh lagi, emosi apa yang ingin dirasakan oleh seseorang tergantung pula oleh pleasure dan utility. Pleasure merujuk pada emosi yang positif, kesenangan; sedangkan utility merujuk pada manfaat emosi tertentu untuk pencapaian tujuan. Ketika manusia ingin mencapai tujuan instrumental, yang bersifat jangka panjang (long-term benefits), manusia rela menunda pleasure demi mendapatkan apa yang mereka inginkan. Dengan kata lain, manusia tak hanya mengejar pleasure, tetapi juga cenderung memilih emosi yang dirasa bermanfaat bagi mereka, dan emosi ini tidak harus selalu positif.
Tamir (2011) mencontohkan situasi ketika mahasiswa belajar untuk ujian. Mereka rela merasakan emosi tidak menyenangkan seperti stres dan lelah, menunda rencana bermain mereka, dengan harapan mendapatkan hasil yang baik. Mereka juga menginginkan pleasure, namun mereka mengutamakan ‘penderitaan’ terlebih dulu agar mendapatkan long-term benefits, yakni pleasure yang tertunda sebagai hasil dari kesuksesan dalam mencapai tujuan. Istilahnya, “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”.

Preferensi Emosi dan Personality Trait
Setiap individu mempunyai kepribadian yang berbeda. Kepribadian yang berbeda-beda ini pun menyebabkan adanya perbedaan kecenderungan dalam berperilaku, dan tentunya perbedaan kecenderungan preferensi emosi. Seseorang mungkin senang menyendiri di kamar yang tertutup sambil mendengarkan lagu-lagu sedih, sementara seorang lainnya berkelana di pesta-pesta sambil bercanda dan tertawa.
Berdasarkan Behavioral Concordance Model oleh Cote & Moskowitz, 1998, orang-orang cenderung lebih menyukai pengalaman yang konsisten dengan personality trait mereka. Individu mencari validasi self-theory mereka karena teori tersebut membuatnya mengerti dan dapat mengontrol realitas sosialnya, dengan kata lain indvidu akan mencari pengalaman yang konsisten dengan aspek karakteristiknya (Epstein, 1973, dalam Tamir, 2009). Preferensi emosi merupakan salah satu fungsi dari personality trait.
Sebagai bukti, data terbaru menunjukkan bahwa neoroticism berasosiasi dengan preferensi trait-consistent (Tamir, 2005 dalam Tamir, 2009) yang mana individu dengan neuroticism tinggi cenderung memiliki kekhawatiran dan kecemasan yang lebih tinggi (Watson, 2000 dalam Tamir, 2009) dan lebih termotivasi menghindari ancaman. Di lain sisi, individu yang memiliki extraversion tinggi merasakan emosi positif (misalnya kebahagiaan) yang lebih besar (Costa & McCrae, 1980 dalam Tamir, 2009) dan termotivasi untuk mendapatkan reward (Carver, dkk., 2000; Elliot & Thrash, 2002 dalam Tamir, 2009). Orang dengan extraversion rendah mengalami yang sebaliknya.
Adanya preferensi emosi yang terkait dengan personality trait ini dapat kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Bayangkan jika Anda adalah seorang introvert. Berada di tengah orang banyak dalam suatu pertemuan tidak membuat Anda merasa nyaman. Maka emosi yang ingin Anda rasakan adalah emosi yang sekiranya membuat orang ingin menjauhi Anda, misalnya jengkel. Sebaliknya, jika Anda adalah seorang ekstrovert yang suka keramaian dan suka bertemu dengan orang-orang baru, Anda cenderung merasakan emosi yang membuat orang-orang ingin berada di dekat Anda. Anda akan merasakan semangat dan kesenangan, yang terpancar dari sikap yang ramah dan luwes, sehingga akhirnya banyak orang yang mendekati Anda.      
Selain itu, kita cenderung merasakan emosi yang mendukung ekspektasi kita terhadap sesuatu atau situasi tertentu. Misalnya, emosi marah yang muncul ketika kita diremehkan seseorang. Kita tanpa sadar ingin merasakan emosi marah karena adanya perasaan ingin melawan. Emosi marah ini diperlukan sebagai “bahan bakar” dalam menghadapi lawan. Atau ketika seseorang baru saja putus dari kekasihnya. Ia mungkin lebih suka merasakan kebencian karena emosi ini barangkali dapat membantunya untuk berhenti mencintai dan mengharapkan pasangannya untuk kembali.


Emosi Negatif dan Positif: Kapan?
            Emosi adalah respon bagi keadaan-keadaan tertentu. Orang-orang merasakan kebahagiaan sebagai respon dari tercapainya tujuan, ketakutan sebagai respon dari adanya ancaman, dan kemarahan sebagai respon dari hinaan (Lazarus, 1991 dalam Gruber, Mauss, & Tamir, 2011). Bisa dibilang, emosi itu situasional. Ketika kita merasakan emosi yang tidak sesuai dengan situasi, emosi tersebut bisa saja bernilai negatif. Ketakutan dan kemarahan dapat bernilai positif jika muncul di situasi yang tepat. Hal yang sama pun dapat terjadi pada kebahagiaan.
Kebahagiaan akan bernilai negatif ketika tidak lagi berada dalam derajat yang normal, tidak lagi berada dalam situasi yang tepat, diraih dengan cara yang tidak semestinya, dan termasuk ke dalam tipe kebahagiaan yang salah. Seorang maniak merasa bahagia, namun tidak dalam derajat yang sewajarnya. Merasa bahagia ketika seorang teman menderita tentu bukan hal yang terpuji. Bahkan sebuah studi menunjukkan, pengejaran kebahagiaan (pursuit of happiness) dapat berujung pada hasil yang maladaptif karena dapat menyebabkan kekecewaan. Menginginkan kebahagiaan bukan saja dapat menurunkan kesejahteraan (well-being) seseorang, tetapi juga dapat membuatnya kesepian (Gruber, Mauss, & Tamir, 2011). Kata-kata bijak “yang terlalu itu tidak baik” berlaku di sini. Terlalu bahagia bukan hal yang menyehatkan, sama halnya dengan berusaha terlalu keras mengejar kebahagiaan.
Jika ditinjau dari pendekatan instrumental yang sudah dibahas di atas, tampaknya nilai positif dan negatif itu sendiri juga tergantung dari dampak emosi tersebut terhadap pencapaian tujuan instrumental individu. Jika merasakan sebuah emosi dapat mendukung tujuannya, maka emosi tersebut bernilai positif, dan sebaliknya. Saya membayangkan seorang anak yang menangis agar orang tuanya mau memberikan barang yang ia inginkan, yang mana emosi negatif (sedih, menangis) menjadi cara agar ia dipedulikan dan keinginannya dituruti. Di sini, emosi negatif bernilai positif.
             Tidak selamanya emosi yang dianggap positif itu memang positif dan emosi yang dianggap negatif itu memang negatif. Pemberian label positif terhadap emosi-emosi seperti senang dan bahagia, serta pemberian label negatif terhadap emosi-emosi seperti marah dan takut sebenarnya merupakan pembatasan yang sempit akan dimensi emosi manusia yang sesungguhnya sangat luas. Jika ditanya apakah marah itu emosi negatif, atau apakah senang itu emosi positif, jawabannya adalah “tergantung”. Tergantung situasi, tergantung derajatnya, serta tergantung apakah emosi tersebut berguna bagi pencapaian tujuan kita atau tidak.
             

DAFTAR PUSTAKA

Tamir, M. (2011). The Maturing Field of Emotion Regulation. Emotion Review,  3, 1, 3-7. Retrieved September 14, 2011, from  https://www2.bc.edu/~tamirm/download/Tamir_2011.pdf

Gruber, J., Mauss, I. B., Tamir, M. (2011). A Dark Side of Happiness? How, When, and Why Happiness Is Not Always Good. Perspectives on Psychological Science, 6, 3, 222-233. Retrieved November 7, 2011 from  http://yalepeplab.com/pdf/GruberMaussTamir_2011_DarkSideHappiness.pdf

Tamir, M. (2009). What Do People Want to Feel and Why? Pleasure and Utility in Emotion Regulation. Current Directions in Psychological Science, 18, 2, 101-105. Diakses pada Retrieved September 14,  2011 from https://www2.bc.edu/~tamirm/download/Tamir_CDir_2009.pdf

Tamir, M. (2009). Differential Preferences for Happiness: Extraversion and Trait-Consistent Emotion Regulation. Journal of Personality, 77, 2, 447-470. Retrieved September 14,  2011 from  https://www2.bc.edu/~tamirm/download/Tamir_JP_2009.pdf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar