Tampilkan postingan dengan label Flashthoughts. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Flashthoughts. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Desember 2014

Own Love, Before You Give Love

Di suatu pagi, kelas Psikologi Positif.

Mahasiswa: "Bu, bisa ga kita memberikan cinta kepada orang lain meskipun kita ga mencintai diri kita sendiri?"
Dosen: (dengan santainya menjawab) "Tidak."
Mahasiswa tersebut agak mengernyitkan wajahnya. Aku mengamati dari tempat dudukku. Tampaknya ekspresinya adalah campuran antara tidak percaya dan kaget. Aku beralih melihat ekspresi dosenku. Wanita itu tersenyum kecil sambil mengangkat alis. Senyum yang khas. Aku selalu merasa beliau menyimpan sesuatu di balik senyum dan tawa cekikikan yang sering ia perdengarkan di depan para mahasiswanya. Setiap beliau tersenyum atau tertawa, aku selalu merasa senyuman atau tawa itu berarti sesuatu yang lebih dalam, seakan-akan ia menyimpan sebuah rahasia atau sebuah kebenaran hidup yang sangat berharga dan tidak ada orang lain yang tahu.

Ia kemudian mengambil beberapa spidol warna-warni di atas meja; ia menggenggam spidol-spidol tersebut dan memberikan mereka kepada seorang mahasiswa yang duduk di dekatnya. Ia berkata, "Coba kamu berikan ke orang di sampingmu."Mahasiswa itu dengan patuh memberikannya kepada mahasiswa lain yang duduk di sampingnya. Kemudian, sang dosen tersebut mengambil semua spidol yang dipegang oleh mahasiswa tersebut, lalu berkata, "Coba kamu kasih spidol ke orang di sampingmu." Sontak mahasiswa tersebut menjawab, "Lah ga bisa Bu, saya ga punya spidol."

Aku melihat ekspresi senyum yang penuh arti itu lagi-lagi membayangi wajah dosenku. Wanita itu berkata pelan dan dramatis, "Persis itu yang saya maksud."

Ia berjalan kembali ke depan kelas dengan santai. "Ketika kalian tidak punya cinta, kalian tidak akan bisa memberi orang lain cinta. Cinta yang kalian punya asalnya darimana? Bisa dari mana-mana, yang membuat kalian merasa dicintai. Ada orang yang mungkin ketika kita melihatnya kita berpikir ia tidak memiliki cinta dalam hidupnya, mungkin hidupnya terlalu mengerikan. Tapi bisa jadi ia bisa memberi cinta kepada orang lain. Kalau begitu, dia pasti memiliki cinta dalam dirinya sendiri. Pasti ada yang mencintainya dan membuatnya merasa dicintai. Entah darimana; mungkin dari sesuatu yang lebih besar darinya."

Kelas hening. Sepoi-sepoi suara hembusan angin buatan dari AC adalah satu-satunya suara yang kami dengar. Semuanya terhenyak ke dalam  pertanyaan besar:

Sudahkah kita memiliki cinta, sebelum berusaha memberikan cinta kepada orang lain?

Sudahkah kita merasa dicintai....termasuk oleh diri kita sendiri?

Selasa, 09 Desember 2014

Boleh Gagal is Such A Bliss

Baru-baru ini saya sedang membaca The Geography of Bliss dari Eric Weiner yang dipinjamkan pacar saya (thank you so much dear! you're such a great bliss to me :D). Buku yang menarik menurut saya. Sebuah kombinasi yang manis antara dokumentasi pribadi Eric Weiner yang berkeliling dunia untuk menemukan arti kebahagiaan, dan juga sisipan ilmu psikologi positif -hasil-hasil penelitian dan beberapa teori- yang kerap disertakan Eric dalam menjelaskan fenomena-fenomena yang ia temui.

Saya memang belum selesai membaca buku yang mengibur ini -yang membuat saya beberapa kali terpingkal sendiri di kamar dan merasa bahagia- tetapi ada satu bab tentang Islandia, negara kecil yang diselimuti es dan kegelapan, literally, di mana judul bab tersebut adalah: kebahagiaan adalah kegagalan. Bab tentang kebahagiaan ala Islandia ini banyak membuat saya merenung.

Berdasarkan percakapan Eric dan beberapa native Islandia yang ia temui, ada gambaran yang sangat menyenangkan di balik kelam dan dinginnya Islandia. Negara kecil tersebut penuh dengan seniman dan orang kreatif. Berganti pekerjaan ke bidang yang benar-benar berbeda dari pekerjaan sebelumnya bukan merupakan hal yang mustahil. Istilahnya, sekarang kamu bisa menjadi ilmuwan yang mempelajari kadar air dalam tanah dan bekerja di laboratorium, besoknya kamu mencoba berkarir di bidang industri kreatif sebagai penyair, lalu lusa kamu ingin bekerja di kantor pemerintahan. Setidaknya gambaran itulah yang saya dapatkan dari salah satu percakapan di buku tersebut.

Orang-orang di sana mencoba banyak hal. Mereka bebas menjadi apa yang mereka inginkan. Mereka bebas mencoba. Hal ini membuat mereka bahagia. Eric bahkan berkata bahwa teori "seniman itu tidak bahagia" tidak berlau di Islandia. Ia melihat banyak seniman yang bahagia, yang juga memelihara sedikit melankolia. Tapi bahagia.

Apa rahasianya?

Jawabannya sederhana, tapi menurut saya luar biasa.

Mereka yakin bahwa kegagalan adalah wajar. Seseorang tidak diharuskan untuk menjadi sukses dalam apa yang mereka lakukan. Seorang tokoh yang Eric wawancarai, seorang seniman, berkata bahwa jika seseorang tidak dibebani dengan keharusan untuk sukses, maka ia bisa bebas mencoba apa saja tanpa rasa takut. Sederhana.

Eric menulis bahwa di Islandia, gagal dalam rangka mencapai tujuan yang baik adalah hal yang baik. Ini yang mungkin orang-orang bilang "yang penting itu prosesnya" dan hal ini terwujud secara utuh, tanpa syarat. Kenapa saya bilang tanpa syarat? Karena bahkan kamu tidak perlu memastikan bahwa 'pada akhirnya' kamu akan sukses setelah serangkaian kegagalan itu. Di Islandia, kegagalan tidak perlu dipermanis dengan 'sukses pada akhirnya'. Sehari-hari, kita sering mendengar cerita inspiratif tentang seseorang yang gagal terus menerus, dalam bisnis misalnya, kemudian setelah usaha keras bertahun-tahun, melewati serangkaian episode kagagalan yang menyakitkan, akhirnya...sukses. Ya, kita -dengan menyakitkan saya katakan- akan bisa menoleransi kegagalan ketika akhirnya kita sukses. Kita punya harapan itu. Orang lain pun sama. Orang akan berpikir kita patut untuk dijadikan contoh, masuk koran atau apapun, ketika kita punya kisah kegagalan yang berahir kesuksesan. Kemudian, tentu bisa ditebak, dengan otomatis kita tidak akan bisa menerima kegagalan. Kita menjadi ambisius karena kita yakin pada akhirnya kita HARUS sukses. Kata Eric dalam bukunya, "kegagalan hanyalah menu pembuka."

Tidak begitu dengan Islandia.

Eric menulis bahwa di negara tersebut, kegagalan adalah menu utama. Menu utama, lho. Ini berarti, orang-orang memang tidak mengharuskan kesuksesan dalam mencoba apapun. Sounds pesimistic, eh? Menurut saya tidak. Ini adalah bentuk kebebasan yang membahagiakan. Toh, menu penutupnya juga belum tentu kegagalan, kan? Jadi ada harapan di ujung sana tentang kemungkinan sukses. Lagipula, coba kamu pikir, siapa yang mengharuskan kamu untuk sukses? Tidak ada. Oh, orangtua mungkin. Atau guru. Atau siapapun yang punya ekspektasi pada dirimu, yang akhirya pandangan dari mereka kamu internalisasi ke dalam dirimu. Tapi bukan kamu, kan? Saya jadi ingat perkataan dosen saya di kelas: Manusia terlahir bebas. Dalam beberapa hal, saya yakin ada batasannya, seperti misalnya ada kewajiban dalam agama yang harus kamu penuhi. Tapi di luar itu, kamu bisa memilih kamu mau jadi apa dan bagaimana. Kalau ada tuntutan, coba tanya lagi pada dirimu sendiri: Siapa yang menuntut? Suara siapa itu?

Dulu, saya adalah orang yang memuja kesuksesan. Saya takut gagal, jujur saja. Dalam kuliah, dalam hal apapun yang bisa dinilai. Saya membuat segala sesuatu di mata saya menjadi sebuah kompetisi. Akibatnya buruk. Harga diri saya mudah hancur ketika saya tidak mencapai 'kesuksesan' dalam standar saya, atau mungkin standar orang lain juga. Ketika saya bangkit untuk kembali berusaha, ambisilah yang menggerakkan saya. Pada akhirnya, memang, saya berhasil. Lalu tepat setelah itu saya kelelahan.

Bebas untuk mencoba tanpa takut gagal. Kedengarannya sangat surgawi bagi saya. Saya membayangkan saya berada di Islandia, betapa bahagianya saya mungkin. Yah...tapi toh itu juga cuma impian saya. Saya masih harus struggling di sebuah lingkungan yang membatasi saya untuk bebas mencoba tanpa takut gagal. Maklum, negara berkembang. Sebuah impian harus dijamin untuk menjadi nyata, karena modal untuk menggapai impian itu mahal sekali di sini. Coba-coba apa saja tanpa ada jaminan kamu sukses di bidang itu, bisa membuatmu bangkrut. Kalau di negara makmur, hidup mereka sudah ditanggung negara. Tidak ada rasa khawatir, bebas mencoba, tidak takut gagal. Coba bandingkan situasinya di sini, di mana seorang anak sudah didoktrin untuk "belajar rajin ya, biar nanti jadi orang sukses." Well, ini sebenarnya sudah salah satu bentuk cinta yang kondisional. Sukses =  hebat.

Saya membayangkan, suatu saat nanti,  ketika saya punya anak, saya akan mengizinkannya mencoba hal-hal yang ia minati. Kamu tidak perlu takut gagal, Nak. Teruslah berjalan ke depan, jangan terlalu sibuk lihat kiri-kanan takut kalau-kalau ada lubang kegagalan. Karena kalau kamu gagal pun, tetap ada tangan terbuka yang akan menerimamu tanpa syarat. Aseeeekkk....

Begitulah sekelumit renungan saya dari buku yang bahkan belum selesai saya baca. Haha. Cukup sekian dan terima kasih.

*langsung ngelanjutin The Geography of Bliss* 


Senin, 22 Juli 2013

Ikhlas (?)

Don't wanna talk much here. Just wondering why dulu pernah denger beberapa orang berkata -kurang lebih- seperti ini:

"Sudah, gapapa...saya ikhlas kok."

"Bukannya mau menyombong, tapi saya ikhlas loh...dan alhamdulillah Allah memberikan yang berlipat ganda..."

Dari saya kecil sampai sekarang, sudah beberapa kali saya mendengar kalimat ini terucap. Dan dari kecil sampai sekarang, rasa heran saya tidak pernah berubah: Bagaimana bisa mereka mengatakan mereka ikhlas jika mereka memang ikhlas?

Bukankah ikhlas itu hanya Allah yang bisa menilai? Maka siapa kamu sok2 bilang "saya ikhlas"? Saya tidak peduli bahwa beberapa orang yang saya dengar mengucapkan kalimat ini adalah orang yang sudah berumur dan makan asam garam kehiduan, bagi saya....it just doesn't sound right. It sounds weird.

Saya rasa, berbahaya sekali ketika manusia berani mengatakan bahwa mereka ikhlas. Saya memang ga alim2 banget, tapi menurut saya ikhlas itu adalah kata yang sangat...sangat sakral mungkin. Ya....karena hanya Allah yang bisa menilai. Dan saya sendiri merasa manusia punya hati yang terlalu kotor untuk menilai perbuatan yang begitu murni. Apalagi menilai dirinya sendiri....narsistik.

Hhhh....bergembiralah mereka yang selalu meragukan dan mempertanyakan perbuatan yang mereka lakukan berlandaskan keikhlasan atau tidak. Bergembiralah mereka yang selalu takut jikalau mereka tidak ikhlas melakukan sesuatu, alih2 dengan pede berkata: "Saya ikhlas".

Kamis, 20 Juni 2013

Catatan Kecil Kala Kucing Tertidur Di Sampingku


Kadang-kadang aku berpikir betapa hewan peliharaan mempunyai cinta yang begitu tulus kepada majikannya. Aku punya dua ekor kucing yang sangat kusayangi, namun kerap aku harus menyabet mereka dengan kain agar berhenti menyobek-nyobek sofa kesayangan orang tuaku. Tapi, tetap saja, di malam hari salah satu dari mereka -atau bahkan keduanya- akan naik ke tempat tidurku, berbaring melingkar sambil bersandar di perutku, dadaku, dan kadang-kadang juga di belakang punggungku. Hewan yang kita anggap bodoh, namun karena kebodohan itu mereka pun tidak mengingat-ingat kejahatan yang kita lakukan pada mereka. Saat kita mengulurkan tangan membelai kepala mereka, kesalahan kita termaafkan. Begitu kita menyajikan sepiring ikan di depan mereka, mereka akan tetap memakannya tanpa merasa jijik. Entah apakah itu karena mereka tidak punya harga diri –mau saja disuap dengan belaian atau makanan- atau karena mereka pemaaf? Manusia yang punya harga diri lebih tinggi kadang tak bisa menerima perbuatan baik orang lain yang telah melukai mereka. Apakah memang harga diri manusia lebih tinggi? Atau malah terlalu angkuh?

Senin, 10 Juni 2013

Selera

Kadang masih bingung kenapa ada orang yang disebut punya selera yang tinggi dan selera yang rendah. Apakah selera punya alat ukur tersendiri yang valid dan reliabel? Apa ada "Skala Selera" begitu? Apa ada "Skala Selera Humor", "Skala Selera Berpakaian", atau bahkan "Skala Selera Musik"?

Bukan hanya itu. Sebenarnya apa saja sih aspek-aspek dari selera humor, fashion, musik, dll itu? Kalau mau mengukur suatu variabel. kita pasti harus tahu kan aspek atau indikator apa saja yang ada dalam variabel tersebut?

Bagi saya sih, selera bukan stratifikasi, tapi lebih sebagai diferensiasi. Selera orang berbeda-beda. "Selera tidak dapat diperdebatkan" adalah satu hal yang saya pelajari di mata kuliah Filsafat Umum waktu semester 1 dulu (dan satu-satunya materi yang nyantol di otak saya). Jadi ga perlu ya sepertinya mengukur selera seseorang tinggi atau rendah.

Sepertinya akan lebih tepat jika selera itu dideskripsikan, bukan diukur. Misalnya: "selera humornya cerdas"". Bisa juga "selera musiknya lembut". Mungkin juga bisa kita bilang "selera berpakaiannya unik, seksi, dll".

Ah, trus ngapain juga saya memperdebatkan pengertian "selera" ini?

Selamat menunaikan selera masing-masing :)

Jumat, 31 Mei 2013

'Cause Everybody's Changing...


"Semua hal berubah, kecuali perubahan itu sendiri."


Ya, itu benar.
Kita semua berubah, bahkan yang paling konsisten dari kita pun pasti pernah berubah walau tidak signifikan. Kalau kata Dumbledore, bahkan orang yang paling bijaksana pun terkadang perlu menarik kembali perkataannya. Perubahan adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari.

Saya pun begitu.

Kadang-kadang, saya membongkar lemari meja belajar ketika bersih-bersih, dan menemukan diary lama ketika SD, SMP, SMA. Menemukan hasil tes IQ waktu SMP dan SMA. Menemukan kliping-kliping artis idola saya. Lalu saya tersenyum-senyum sendiri.

Betapa saya berubah begitu banyak.

Waktu saya membaca kembali diary ketika SD, ada terbesit sedikit rasa sedih ketika membacanya (tampaknya dulu saya bukan seorang anak yang bahagia; cenderung penyendiri dan kaku, pemurung dan merasa bersalah) namun di sisi lain ada rasa bahagia ketika melihat diri saya sekarang, yang sudah jauh lebih bahagia :)

Begitu juga waktu saya membaca diary SMP dan SMA. Well, harus saya akui, waktu SMP, saya punya pemikiran yang rumit untuk anak seusia saya waktu itu, idealis, anti-mainstream, kaku (yang membuat saya sempat mengalami masa-masa bullying) dan....konsep diri yang buruk. Things got better ketika SMA. Saya sudah menjadi seorang gadis yang sedikit lebih fleksibel, mau membuka diri, dan jauh lebih supel daripada sebelumnya. Perjalanan saya menuju aktualisasi diri baru saja dimulai. Pemikiran-pemikiran saya tentang kehidupan jauh lebih dewasa dan bijaksana, lebih dalam, dan lebih positif. Tapi memang sih, di balik semua perubahan itu, saya masih seorang yang introvert. Hanya saja lebih bisa membawa diri di situasi sosial. Saya ketika SMA adalah seorang gadis yang jauh lebih hangat daripada saya waktu SMP.

Bahkan, hasil tes IQ pun berubah.

Saya melihat IQ saya waktu SMP: 113. Lalu saya bandingkan dengan IQ waktu SMA: 121. Tampaknya saya lebih pintar ketika SMA daripada ketika SMP -.-

Tapi saya tidak tahu IQ saya sekarang berapa. Semoga saja bisa melampaui batas standar tes masuk S2; itu yang utama.

Abova all, walaupun saya berubah, selalu, saya tetaplah saya. Karena manusia berubah. Berubah bukan berarti menjadi orang lain; kamu ya tetap kamu, tapi kamu yang berbeda. Segala aksi yang kamu lakukan tetap dalam kuasa rasio dan emosimu; pikiran dan perasaanmu tetaplah milikmu. Terlalu naif rasanya jika menghakimi perubahan yang mutlak adanya. Hmm...asalkan agama dan keyakinan terhadap Tuhan tidak berubah.

Saya rasa, kata-kata dari novelis Neil Gaiman yang saya kutip dari novelnya yang baru saya baca, The Graveyard Book (novel keren, wajib baca!) ini bisa mejadi penutup buat posting ini:


“You're always you, and that don't change, and you're always changing, and there's nothing you can do about it.”



Minggu, 20 Januari 2013

A Simple Thought

Somehow, I tend to believe that things work in a continuum. Sometimes you're a bad person, sometimes you're a good one. It moves from time to time, either backward or forward. Everything has its own extreme point; either it's positive or negative.
All we can do is to stay in a good point as long as we can; we can move backward, change into a less strong, less stable person than we used to be, we have to take a rest sometimes. But remember, do not waste our time just to make excuses and withdraw from the reality, from the roles we have to take in daily life.
Because no one is too weak to fight for himself. And no one is too bad to be a better person.

Rabu, 16 Januari 2013

His Wisdom

"I asked for STRENGTH and I was given DIFFICULTIES to make me strong."
"I asked for COURAGE and I was given OBSTACLES to overcome."
"I asked for PROSPERITY and I was given BRAIN and BRAWN to work."

It's a quote form my English teacher in highschool, Mr. Mahmud Janal. I read it in my Facebook, written on the homepage, and it's like shining among the other statuses. It opened my eyes wide and that morning, suddenly I feel relieved and relaxed. All of those words contained one great message:

God knows more than you do and He works in a very mysterious and elegant way. He has His own wisdom which may seems difficult for us to understand. But never doubt Him. Karena Ia sendiri telah berkata, dan ia tidak akan mengkhianati perkataan-Nya terhadap hamba-Nya:

"Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
(Q. S. Al-Baqarah ayat 30)

Jumat, 28 Desember 2012

Kebenaran yang Abu-abu?

Saat ini, sulit rasanya memutuskan mana yang benar dan mana yang salah, relativitas suatu kebenaran kadang-kadang membuat pusing. Atau mungkin sebenarnya kebenaran itu tidak relatif? Mungkin kebenaran tampak relatif hanya karena manusia selalu menggunakan pembenaran versi mereka sendiri? Bisa jadi. Tapi toh belum tentu pendapat saya ini benar. Ah, zona abu-abu yang semakin melebar.

Kini, hampir semua hal berwarna abu-abu. Abu-abu. Ke mana si putih? Ke mana si hitam? Mereka kerap disalahkan. Si putih disalahkan karena terlalu bersih tanpa noda. Si hitam disalahkan karena jelas-jelas tanpa cahaya. Ekstrim. Maka, berbondong-bondong kita pindah ke zona yang tampaknya paling bijaksana, yakni abu-abu. Namun sampai kapan kita nyaman memakai warna abu-abu ini? Gamangkah kita jika terus menerus menjadi abu-abu? Berada di antara hitam dan putih, kadang-kadang terkesan tidak memberikan kejelasan sama sekali.

Ya, mungkin memang benar (mungkin, lagi-lagi karena bisa saja ini tidak benar) bahwa tidak ada hal yang 100% benar dan 100% salah. Tapi apakah kalimat "tidak ada kebenaran 100% dan kesalahan 100% ini benar? Bisa jadi salah. Jadi, intinya, apa itu kebenaran? Apa kebenaran itu adalah sesuatu yang utopis, bahwa sebenarnya dunia yang payah ini tidak menawarkan sedikit pun kebenaran? Jadi, mana yang benar, sebenarnya? Tidak ada? Bingung. Ya, bingung.

Akhir kata: Apakah semua kebingungan saya ini benar atau salah? Kalau ada yang menjawab relatif (suatu komentar abu-abu yang paling mainstream), apakah jawabannya itu benar atau salah?

Saya yakin pertanyaan ini tidak akan bisa dijawab, karena manusia sendiri sedang krisis dalam membedakan benar dan salah. Kita ternyata belum akil-baligh. Oh, tunggu sebentar. Belum tentu yang saya nyatakan ini benar. Mungkin saya hanya memberikan pembenaran atas perkataan saya...

Yah, mungkin inilah sebabnya manusia membutuhkan petunjuk dalam hidupnya. Seperti yang bisa dilihat, semua kebingungan ini sungguh menyesatkan....

Kamis, 20 Desember 2012

Karena Manusia Itu Begitu Kecil

Manusia memang kecil.
Kalau saya melihat langit di luar sambil melamun, membayangkan atmosfir yang membungkus bumi, planet lain, rasi bintang lain, galaksi lain....BAM! Saya merasa sangaaaaaaaaat kecil. Tapi saya tidak sedih. Kadang-kadang saya tersenyum sendiri.
Karena kita begitu kecil dan ringan, buat apa kita merasa berat?

Sabtu, 15 Desember 2012

Aku Ingin Mengusap Air Matanya Diam-diam

Aku merasa aku mendengar wanita itu menangis. Entahlah, mungkin hanya dugaanku yang salah; bisa saja udara dingin ini membuatnya sakit dan isak tadi bukanlah isak tangis, hanya suaranya ketika menarik nfas yang disumbat flu. Lagipula, dia menangis ataupun tidak, aku merasa tidak punya hak untuk bertanya padanya. Aku bukanlah orang terdekatnya; sehingga aku tak berhak menanyainya jika ia tak meminta. Kadang-kadang, membiarkan seseorang menangis sendirian, sampai ia puas dan menuntaskan air matanya, lebih baik daripada mengusik kesendiriannya sehingga ia harus memasang topeng yang melindungi egonya. Setelah ia selesai menangis, mungkin aku akan menyampaikan beberapa lelucon sampai ia tersenyum kembali.

Kalaupun ia benar menangis, aku ingin mengusap air matanya diam-diam.

Rabu, 21 November 2012

Coraline Contemplation

"Ayolah. Siapa namamu?" tanya Coraline pada si kucing. "Namaku Coraline. Oke?"
Si kucing menguap perlahan-lahan dengan hati-hati, memperlihatkan mulut dan lidahnya yang sangat merah jambu. "Kucing tidak punya nama," katanya.
"Tidak punya?" kata Coraline.
"Tidak," sahut si kucing. "Kalian, manusia, punya nama. Sebab kalian tidak tahu siapa diri kalian. Kami tahu siapa kami, jadi kami tidak butuh nama."

 .....


"Udara penuh dengan tawon-tawon kuning. Tadi kami pasti menginjak sarang tawon yang ada di ranting yang sudah busuk, waktu kami berjalan. Sementara aku lari mendaki bukit, ayahku tetap di tempatnya, disengati tawon, supaya aku sempat melarikan diri. Kacamatanya terjatuh waktu dia lari."
"Nah," kata Coraline, "menjelang sore itu, ayahku kembali ke lapangan kosong tadi, untuk mengambil kacamatanya. Katanya kalau kacamata itu dibiarkannya di situ sehari saja, dia tidak bakal ingat di mana kacamatanya itu jatuh."
"Tidak lama kemudian, dia pulang, sudah menegnakan kacamatanya. Dia bilang dia tidak takut waktu berdiri di sana, disengat tawon-tawon, sambil melihat aku lari. Sebab dia tahu dia mesti memberi cukup waktu padaku untuk kabur, kalau tidak tawon-tawon itu pasti menyerang kami berdua."
"Dam kata ayahku, dia berbuat begitu bukan karena dia berani, berdiri saja di situ, membiarkan tawon-tawon menyengatnya," kata Coraline pada si kucing. "Katanya itu tidak bisa disebut berani, sebab dia tidak merasa takut: hanya itu yang bisa dia lakukan. Tapi tindakannya kembali ke tempat itu untuk mengambil kacamatnya, padahal dia tahu tawon-tawon itu ada di sana, dan dia merasa ketakutan...nah, itu baru berani."
"Kenapa bisa begitu?" tanya si kucing yang kedengarannya tidak terlalu berminat.
"Sebab," kata Coraline, "kalau kau merasa takut, tapi tetap nekat maju terus, itu namanya berani." 

....


Si kucing menjatuhkan si tikus di antara kedua kaki depannya. Sambil mendesah, dia berkata dengan nada teramat halus, "Ada yang menganggap kebiasaan kucing mempermainkan mangsanya sebagai kebiasaan yang baik hati- mangsa kecil yang lucu itu jadi punya kesempatan melarikan diri, sekali-sekali. Coba, seberapa sering kau memberi kesempatan kabur pada makan malammu?"

....


Coraline. Sebuah novel karangan Neil Gaiman, yang sebenarnya digolongkan novel untuk anak-anak. Tetapi novel ini membuat saya terkesima; salah satu novel yang paling saya sukai. Novel ini membuat saya banyak merenungkan hal-hal yang tampaknya sepele, tetapi dalam maknanya.

Yang paling membuat saya tergelitik adalah dialog Coraline dengan si kucing tentang manusia. Saya jadi berpikir: Human. Why do we have names? Simply because we cannot recognize who we are. We're lost without names. Menarik, dan menyentil dengan cara yang jenaka.

Kemudian, arti keberanian. Saya belajar bahwa keberanian bukannya keadaan tanpa rasa takut. Berani bukan berarti tidak merasa takut. Bukan manusia namanya jika tidak memiliki rasa takut. Berani adalah melawan ketakutanmu, menolaknya menyeretmu mundur dari arena pertempuran, dan dengan gagah berani mendorong dirimu ke depan untuk menghadapi tantangan. Itulah keberanian.
Sebagai contoh, orang yang tidak takut dengan laba-laba bukan belum tentu seorang pemberani. Bisa jadi, baginya, laba-laba hanyalah sekedar serangga. Di lain sisi, seseorang yang fobia laba-laba, namun berusaha menyembuhkan ketakutannya dengan menghadapi laba-laba...saya kira kita semua tahu mana yang memerlukan kekuatan lebih besar antara dua orang tersebut. Itu hanya contoh kecil yang konkret.

Bagian terakhir, yang juga membuat saya terkekeh sendirian ketika membaca novel ini, adalah bagian tentang "makan malam". Seberapa sering kita membiarkan makanan kita kabur? Manusia jauh lebih ganas daripada hewan. Kita merupakan "pembunuh" yang paling efektif dan efisien.


Oh iya, bagi yang suka dengan seni rupa, saya cukup yakin akan menyukai ilustrasi Dave McKean dalam novel ini. Gothic, dan agak "seram"; tidak seperti ilustrasi buku anak-anak pada umumnya.  Dark, but it's beautiful. I love it :) Sangat cocok dengan ceritanya yang juga dark.

Anyway, saya sangat menyukai buku ini dan merekomendasikan kepada siapapun yang ingin menemukan hiburan yang bermakna di waktu senggangnya. Tidak tebal, hanya 228 halaman.
Selamat membaca! Ingat, Co-ra-line, bukan Ca-ro-line ;)


Kamis, 01 November 2012

Diskusi Malam Hari

Saat itu sekitar jam enam menjelang malam, sepulang kerja, saya dan Mbak Sari (senior dan atasan saya yang sangat humble) berjalan kaki menuju lembah. Kami pulang berdua karena kebetulan kos Mbak Sari searah dengan arah saya pulang. Saya lupa awalnya bagaimana, tapi kami sampai pada percakapan mengenai skripsi. Saya pun bertanya kepada Mbak Sari.

N: "Skripsi Mbak Sari dulu tentang apa?"
S: "Tentang kebahagiaan pada remaja."

Mbak Sari pun menjelaskan bahwa skripsinya menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif, serta bersifat eksploratif. Penelitian eksploratif maksudnya penelitian yang semata-mata bertujuan mengetahui sesuatu di balik sesuatu; menjelajah suatu tema. Semata-mata mencoba menemukan. Tergolong rumit.

Saya semakin penasaran.

N: "Trus hasilnya gimana Mbak?"
S: "Nah, hasilnya itu...."

Selagi kami berjalan melewati pos satpam, Mbak Sari mulai memaparkan hasil skripsinya.

Ternyata, komponen kebahagiaan pada remaja banyak melibatkan hubungan dengan orang lain. Leisure time, misalnya. Remaja bahagia bila leisure time-nya melibatkan orang lain, seperti bermain dan jalan-jalan dengan temannya. Pandangan orang lain terhadap dirinya, bahkan penggunaan uang yang melibatkan orang lain, misalnya memberikan kado atau hadiah kepada teman, dll. Pokoknya banyak melibatkan orang lain, melibatkan hubungan sosial. Khas budaya Timur yang kolektif.

Kemudian Mbak Sari melanjutkan:

S: "....tapi bukankah itu seperti penyakit? Kebahagiaanmu tergantung pada orang lain?"
N: "Iya sih...aku pernah denger sebuah teori -walaupun ini yang mengatakan memang ilmuwan Barat, jadi aku ga tau ini berlaku di Indonesia atau ga- bahwa kebahagiaan itu harusnya kamu temukan di dalam diri kita sendiri, tidak tergantung orang lain. Jadi "kalo orang lain menderita, kamu tidak perlu ikut menderita", begitu kan? Kamu bisa tetap bahagia."
S: "Iya..."

Kami menyeberang jalan sambil melanjutkan obrolan.

S: "Nah, kalau di Barat, kebahagiaan itu banyak melibatkan achievement. Tapi menurutku, itu juga semacam penyakit juga kan, Dek? Ketika berhasil baru bahagia."
N: "Iya, semacam...you have to be something to be happy, you have to achieve something to be loved. Haruskah ada pengakuan untuk bahagia?"

Kami berdua tertawa ketika melewati pos satpam lembah. Seraya saya dan Mbak Sari berjalan ke arah motor, saya nyeletuk sambil tertawa: "Jadi, apa sebenarnya kebahagiaan itu?". Mbak Sari terkekeh.

Diskusi acak kami belum selesai. Ketika di lampu merah dan motor saya berhenti, Mbak Sari nyeletuk.

S: "Freud bilang agama itu menimbulkan kecemasan lho."
N: "Iya sih. Contohnya saja ketika berdoa. Di agamaku, harus berbaik sangka terhadap Tuhan bahwa doa akan terkabul. Tapi di lain sisi, ada kecemasan yang timbil, karena tidak boleh dengan sombong yakin bahwa doa akan terkabul. Gimana ya itu?"
S: "Hmm...kalau ga sholat, kamu cemas ga?"
N: "Hehe, iya lah, takut dosa."
S: "Ya, mungkin Freud jadi atheis karena menganggap agama banyak membuat manusia menjadi cemas ya, haha..."

Lampu hijau menyala, kami melanjutkan perjalanan.

N: "Tapi Mbak, walaupun mungkin Freud menganggap orang beragama tidak sehat karena cemas, aku merasa lebih baik menjadi orang beragama daripada orang yang tidak cemas. Kadang-kadang kecemasan itu kan berguna juga dalam taraf tertentu."
S: "Iya. Oh, iya, atheis itu sebenarnya percaya Tuhan lho, Dek."
N: "Haha, betul Mbak. Karena dengan menyangkal keberadaan Tuhan, berarti dia berusaha menegasikan keberadaan Tuhan yang mungkin pernah dia rasakan, kan? Toh dia belajar tentang Tuhan juga."
S: "Iya. Nah, malah orang-orang di pelosok yang belum pernah mendengar agama, yang tidak pernah mendengar apa sebenarnya Tuhan, mungkin mereka lah atheis."
N: "Ya, atheis yang murni karena ketidaktahuannya."

Mbak Sari meminta saya berbelok ke kiri dan beberapa saat kemudian, kami sampai di kos Mbak Sari, namun Mbak Sari minta diturunkan di rumah makan beberapa meter dari situ.

S: "Makasi ya Dek, udah dianterin dan berdiskusi..."
N: "Sama-sama Mbak..."

Di sepanjang perjalanan pulang, saya berterima kasih kepada Tuhan bahwa saya memiliki teman diskusi sehebat Mbak Sari :)

Obrolan seperti ini membuat hidup terasa sarat dengan makna.

Terima kasih :)

Senin, 22 Oktober 2012

Unfinished Business

Salah satu hal yang saya pelajari dari Psikologi dan ingin saya aplikasikan terhadap diri saya sendiri adalah: jangan terlalu banyak menimbun unfinished business. Kalo pake teori Mbah Freud, jangan terlalu banyak me-repress. 

Apa itu unfinished business? Apa itu repressing?

Unfinished business itu literally ya...urusan yang belum selesai. Jelas.
Well, contohnya banyak. Kekecewaan yang terpendam. Perasaan yang bergejolak namun disembunyikan. Kata-kata yang belum sempat terucap dan membuat tidurmu tak lelap. Amarah yang tertahan dan tak menemukan pelampiasan. Tangisan yang tak kunjung menemukan muaranya; tak kunjung jadi air mata, malah menguap, memenuhi udara dan atmosfir kehidupan dengan aroma duka yang pahit. Banyak sekali. Kita alami semua hal yang "menggantung" dalam hidup kita, detik demi detik, hari demi hari, tahun demi tahun, dari kita anak-anak sampai kita dewasa dan mungkin sudah berkeluarga dan merasa "selesai".

Repressing adalah mekanisme "perlindungan" yang kita lakukan ketika mengalami peristiwa atau merasakan hal yang tidak mengenakkan; yakni "mengubur" dalam-dalam memori kita terkait peristiwa tersebut ke alam bawah sadar. Menekannya sehingga tak muncul ke permukaan.

Unfinished business ini jelas masuk ke alam bawah sadar, kita repress, dan kita bahkan tak sadar ketika kita menutup pintu besar bergembok tebal antara alam bawah sadar dan alam sadar kita, unfinished business itu masih menggedor-gedor, mendorong-dorong pintu itu agar terbuka.

Bahayanya adalah: kita tak pernah tahu kapan semua kekuatan dahsyat dari unfinished business yang kita penjara dalam diri kita sendiri itu kemudian mendobrak keluar, melukai jiwa kita yang tadinya sudah diperban sedemikian rupa sehingga terkesan utuh. Mengalirkan kembali darah dari luka yang kita pikir sudah kering.

Kekecewaan. Amarah. Tangisan. Semuanya ternyata masih menunggu saat di mana kita lengah dan rapuh. Kemudian, mereka meledakkan kita dari dalam.

Kita tak pernah tahu kapan mereka akan meledak.

Selagi masih bisa kau selesaikan, selesaikan. Lampiaskan selagi kau masih kuat. Ucapkan kata-kata itu selagi kau masih bisa berkata. Tumpahkan air matamu selagi masih belum membeku. Marahlah, ketika kau memang sudah merasa keadaan sudah keterlaluan. Marahlah ketika memang diperlukan. Bilanglah kalau kau kecewa, biarkan ia tahu bahwa kau kecewa.

Atau mungkin kau bisa pilih jalan lain.

Let it go. Bukan ditekan, tapi diikhlaskan. Kau sakit, ya, hidup memang menimbulkan banyak luka, tapi biarlah. Relakan. Jabat tangannya, dan biarkan ia pergi. Inilah yang sulit. Letting go is one of the hardest arts to learn; one of the hardest parts of living.

Pilihlah antara melampiaskan, atau mengikhlaskan.


Finish your business. Do not wait until your business "finish" you.

Kamis, 28 Juni 2012

Tentang Mimpi

Saya pernah mengikuti kuliah Dasar-dasar Intervensi. Saya ingat waktu itu pembahasan tentang Freud dan Interpretation of Dreams yang ia tulis. Di sela kuliah, dosen saya memutarkan film tentang Freud dan interpretasi mimpi. Dalam film itu, dapat saya ambil kesimpulan bahwa mimpi adalah salah satu cara alam bawah sadar merepresentasikan isinya dengan imej yang bisa kita terima. Dalam bermimpi pun ternyata ada sitem sensornya, saudara-saudara. Mengapa? Karena kadang-kadang yang tersembunyi di alam bawah sadar kita tidak bisa kita terima. Mungkin terlalu mengerikan. Mungkin terlalu kasar. Karena itulah di dalam mimpi biasanya ceritanya tidak gamblang menggambarkan apa yang kita tekan ke alam bawah sadar; konten mimpi seringkali berupa simbol, tidak eksplisit. Kita harus menerjemahkan sendiri.

Dosen saya sempat bilang bahwa ada pentingnya memahami mimpi, agar kita bisa mengerti apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri kita. Mengungkap rahasia diri (ceile). Kemudian beliau beralih dengan menanyakan soal Johari Window. "Ada yang tahu?" tanyanya. Kemudian saya dengan spontan -karena pernah membaca soal itu sebelumnya- berkata, "Oh, yang itu." Sang dosen menoleh ke arah saya dan berkata puas sambil sedikit tersenyum. "Kalau begitu tolong dijelaskan nanti ya. Saya beri break dulu."
Sial.

Saat Pak Dosen keluar dan memberi break 5 menit untuk kelas, saya langsung meminjam laptop teman saya yang sedang onlen untuk memastikan ingatan saya akan teori itu. Hmm, oke, ya. Saya mengerti. Pak Dosen masuk kelas. Kelas kembali tenang. Kemudian ia berkata: "Silakan mbak dipresentasikan soal Johari Window."

Saya maju, meminjam spidol yang dipegang Pak Dosen, dan menggambar 4 kotak seperti jendela. "Kepribadian kita terdiri atas 4 bagian," ujar saya keras, "yang pertama ada bagian: Saya Tahu, Orang Lain Tahu" sambil menulis, lalu melanjutkan lagi, "...lalu Saya Tidak Tahu, Orang Lain Tahu," spidol saya bergerak cepat di papan tulis, "kemudian ada bagian Saya Tahu, Orang Lain Tidak Tahu, dan terakhir...yang paling terpendam, adalah bagian Saya Tidak Tahu, Orang Lain Tidak Tahu." Saya menambahkan contoh untuk tiap bagian kemudian mengalihkan pandangan ke Pak Dosen dan bertanya, "Boleh saya sambungkan dengan teori mimpi, Pak?" Pak Dosen menjawab, "Oh ya, boleh, silahkan."

Saya menarik napas. "Tadi disebutkan bahwa mimpi berguna sebagai cara kita memahami diri sendiri. Kalau saya hubungkan dengan Johari Window ini, mimpi mungkin dapat membantu kita untuk bergerak dari area ini," saya menunjuk bagian Saya Tidak Tahu Orang Lain Tidak Tahu, "...ke area ini." Spidol saya berhenti di area Saya Tahu Orang Lain Tidak Tahu. "Dengan mimpi, mungkin kita bisa mencoba mengenali bagian diri kita yang mungkin tidak kita dan orang lain sadari. Setelah kita sadar akan bagian tersembunyi itu, kita bisa melangkah ke area Saya Tahu Orang Lain Tidak Tahu. Paling tidak, kita menjadi tahu apa yang tadinya tersembunyi, walaupun orang lain tidak perlu tahu akan hal itu. Kita menjadi lebih sadar akan siapa diri kita sebenarnya." Vin. Pak Dosen mengangguk. Kelas bertepuk tangan. Saya kembali ke tempat duduk saya.

Ya. Itu yang saya katakan di kelas beberapa bulan lalu. Tapi sebenarnya saya belum benar-benar paham akan mimpi dan kepribadian. Saya harus lebih banyak membaca, terutama tentang Psikoanalisa / Psikodinamika. Ah, pokoknya berbau Freudian. Memang sih, teori itu sudah kuno dan dinilai tidak empiris, tapi buat saya, teori mbah Freud itu sebenarnya menarik dan mengasyikkan.

Setelah itu, dosen pun memberi saya dan teman-teman saya tugas yang sangat unik: interpretasi mimpi selama seminggu! Nah loh. Ini jadi masalah buat saya. Karena saya jarang bermimpi. Jarang. Kalaupun iya, saya biasanya agak lupa mimpi saya seperti apa, tentang apa, karena ceritanya sama sekali tidak jelas. Bahkan imejnya pun tidak terlalu jelas atau vivid. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk mencatat mimpi saya begitu saya terbangun. Demi tugas ini.


Dan hasilnya nihil.
Pertama, saya malas mencatatnya dan lebih memilih ngebo lagi setelah terbangun.
Kedua, saya juga cuma ingat samar-samar saja isi mimpi saya -__-


Anyway, saya jadi berpikir. Bodohnya saya tidak terpikir untuk menanyakan hal ini ke dosen waktu itu: Apakah jarang bermimpi itu adalah tanda bahwa tidak banyak hal ditekan ke alam bawah sadar? Saya jadi penasaran. Suatu saat saya akan menanyakan hal ini kepada mereka yang mengerti.

Psikoanalisa memang mengasyikkan. Hal yang berbau alam bawah sadar selalu menarik untuk dibahas, karena kita akan banyak menebak-nebak di situ, haha. Sesuatu yang tidak bisa kita lihat akan selalu membuat penasaran :3

Rabu, 20 Juni 2012

Forgetful

It isnn't time that heals the pain. It is our own inability to remember everything that does. How great Lord is. He has created us to be such forgetful creatures. In one side, it means that we, humans, are not smart enough to retain important informations and make better changes; but in the other side, it means that we are smart enough to forget, even just in a single minute, all of those bad memories. And because humans forget, they can survive from conscious nightmares.

Sabtu, 16 Juni 2012

Tentang Introvert

Kemarin saya sempat ngobrol dengan teman saya. Teman saya ini sedang berspekulasi tentang kepribadian seseorang. "Hmm...dia orang introvert, tapi sufficient," gumamnya.
Saya penasaran, melihat gambar yang dipegangnya, dan...ya, terlihat bahwa orang ini benar-benar percaya diri. Aspek ini terlihat dari bentuk dan caranya menggambar.
"So, you wanna say that...walaupun dia introvert, dia tetap merasa cukup dengan dirinya, dan itu tidak membuatnya kesepian?" tanya saya.
Teman saya mengangguk. "Ya, dia introvert karena itu pilihannya."
"Jadi begini: Dia introvert dan dia merasa nyaman, bukan tipe orang yang tertutup lalu terasing dan merasa sedih karena tidak terlibat dengan orang lain?" tanya saya memastikan.
"Kira-kira begitu."

Di sini saya tidak akan melanjutkan membahas kelanjutan obrolan kami.

Setelah percakapan itu, saya jadi merenung lagi tentang apa itu introvert. Terlepas dari definisi ilmiah dan psikologisnya, buat saya sendiri, seorang introvert adalah orang yang lebih nyaman sendirian. Merenung sendirian, bermain dengan alam pikiran dan perasaannya. Mungkin tidak begitu banyak membuka "pintu" dunianya, dirinya, kepada orang lain. Seorang introvert mungkin bisa diibaratkan dengan sebuah rumah yang pintunya lebih sering tertutup sehingga jarang ada seseorang yang bisa masuk begitu saja tanpa mengetuk. Bahkan kalau pun ada orang yang mengetuk, belum tentu boleh masuk.

Saya cukup yakin bahwa aslinya, saya adalah orang yang introvert. Sangat. Tapi seiring berjalannya waktu, saya semakin sering bersosialisasi, ikut organisasi, kegiatan ini itu, banyak hal, yang menuntut saya untuk membuka diri. Dan ya, saya membuka diri saya. Saya memilih untuk membuka diri saya. Kalau ada introvert yang bisa menekan tombol "ekstrovert" pada dirinya manakala diperlukan, mungkin saya orangnya.

Tapi tetap, saya punya ruang kecil di dunia saya sendiri, yang tidak boleh diusik orang lain. Bagi saya, itu adalah hak istimewa setiap manusia: memiliki rahasia. Seorang guru besar pernah berkata ketika saya kuliah: "Mengapa kita punya rahasia? Karena nyaman! Mana ada orang yang ga punya rahasia? Semua punya. Rahasia membuat kita seimbang."

Beliau tidak menjelaskan apa arti seimbang. Tapi saya sendiri mengartikan seimbang itu adalah: kamu punya sisi yang tidak sepenuhnya dimiliki orang lain. kamu masih punya bagian yang "asli milikmu sendiri". Kalau bagian ini tidak ada, rasanya aneh. Tidak nyaman. Seperti telanjang. Jadi wajar kan kalau orang punya rahasia. Ini sesuatu yang alami, dari sononya.

Nah, karena trait alami saya adalah introvert, saya punya kebutuhan yang lebih besar daripada orang ekstrovert, untuk berduaan dengan diri saya alias menyendiri. Dan saya tidak keberatan. Apalagi dulu, sebelum saya masuk kuliah dan aktif kemana-mana. Saya sering ke kantin sendirian waktu SMA. Lalu teman-teman bertanya: "Kok sendirian?" Jujur sejujur-jujurnya, saya jengkel ditanyain seperti ini. Memangnya tidak boleh ya kalau sendirian? Apa itu sebuah hal yang aneh? Apa yang salah? Saya memilih untuk pergi ke kantin sendirian karena saya memang lagi ingin makan sendirian. Titik.

Hal inilah yang membuat saya kembali merenung ketika teman saya bilang "introvert yang suffiicient". Hmm, mungkin inilah tipe saya. Introvert yang memang cukup dengan dirinya sendiri. Self-sufficient. Bukan berarti tidak suka berteman. Saya cukup ramah (kayaknya). Saya bisa berteman. Kebutuhan afiliasi saya masih tergolong sedang. Tapi saya tidak terlalu "attached" atau "nempel" mungkin dengan teman saya. Sahabat saya yang paling amat sangat dekat hanya ada beberapa orang, termasuk pacar saya. Saya nyaman dengan mereka, saya merasa tercukupi. Saya tidak memaksakan diri untuk mengoleksi teman.

Ngomong-ngomong, saya pernah mencoba tes kepribadian yang sama dua kali. Hasil pertama menunjukkan bahwa saya orang ekstrovert. Saya ingat waktu itu saya mengerjakan dengan suasana ramai, dengan teman-teman saya. Tapi yang kedua kalinya, saya mengerjakan sendirian...dan hasilnya introvert. Oke, mungkin faktor suasana juga bisa mempengaruhi. But, after all, saya ga terlalu ambil pusing sih. Saya sudah nyaman dengan diri saya, mau intorvert, ekstrovert, tengah-tengahnya juga boleh. Tes kepribadian sebenarnya ga terlalu penting.

Selasa, 05 Juni 2012

Akhir Dari Kegalauan 7 SKS

Setelah kemarin menulis tentang galau skripsi...saya terjerat dalam percakapan-percakapan galau di antara teman-teman yang juga galau skripsi:

"Nad...ambil sekarang aja. Kalau kamu mau mendalami Psikologi dan aplikasinya lebih jauh, di S2 Mapro aja, bareng aku, hehe. Aku juga ngambil semster 7 kok...biar lulusnya bareng temen-temen. Rasanya tuh sedih juga kalo kita telat lulus, asing...teman-teman udah pada ga ada di kampus..."

Itu ujar seorang teman saya.

"Aku ngambil semester 8 aja deh...mau nyantai dulu nih, hehe."

Itu kata teman saya yang lain.

"Kamu kan pinter Nad."

Pintar tidak menjamin saya bakal tekun menyelesaikan skripsi. Lagian pernyataan ini juga bukan saran.

"Aku masih bingung nih....kamu mau ngambil kapan Naaaad?"

Ini malah balik nanya.

Kemudian saya ingat wejangan seorang anak S2 yang saya kenal:

"Kamu mau ambil semester 8? Pikirin lagi deh. Iya kalau kamu dalam 1 tahun bisa nyelesaiin skripsi tanpa hambatan, kalau nggak? Lulusnya bisa tambah lama lagi...lebih dari 4 tahun. Ambil semester 7 aja dek...kita kan ga tahu apa yang bakal terjadi. Jangan ditunda-tunda, lebih cepat lebih baik."

Oke, Mbak. Saya memang belum makan asam garam. Dan akhirnya....

Pagi ini, beberapa menit sebelum menulis post ini, saya menuliskan "Penulisan Skripsi" di lembar KRS saya. Ditambah 1 mata kuliah lain (Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja Berkebutuhan Khusus) untuk nambah-nambah kegiatan, hehe.

Bismillahirrahmanirrahim.

Perjuangan baru saja dimulai. Perjuangan menyelesaikan mata kuliah 7 sks.

Semangaaaaaaat!!! :D

Senin, 28 Mei 2012

Skripsh*t

Ambil-nggak-ambil-nggak-ambil-nggak.....
Ah! Jadi ababil gini!

Padahal tinggal menuliskan kata "skripsi" di lembar KRS. Pekerjaan ringan yang ternyata memerlukan tekad yang kuat dan pertimbangan yang matang. Mau semester 7 atau semester 8, ternyata bukan pilihan yang gampang ditentukan.

Sepertinya saya harus sholat istikharah.

Minggu, 20 Mei 2012

Catatan Random Di Malam Hari

It is because the world is so full of suffering,
that your happiness is a gift.
It is because the world is so full of poverty,
that your wealth is a gift.
It is becuase the world is so unfriendly,
that your smile is a gift.
It is because the world is so full of war,
taht your peace of mind is a gift.
It is because the world is in such despair,
that your hope and optimism is a gift.
It is because the world is so afraid,
that your love is a gift.

Vision Statement by Robert Holden

Mau tidak mau saya jadi ingat tulisan ini ketika menonton sebuah film yang selalu membuat air mata saya jatuh, walaupun terhitung sudah tiga kali saya menonton film itu: Hotel Rwanda.

Film yang bercerita tentang perang antarsuku di negeri kecil di Afrika tersebut memberi cukup alasan bagi saya untuk bersyukur dengan kehidupan saya yang senantiasa saya keluhkan. Menyedihkan, bahwa kadang-kadang kita harus melihat orang lain menderita terlebih dahulu untuk menyadari betapa beruntungnya nasib kita. Tapi mungkin memang begitulah salah satu cara untuk bersyukur.

Saya menonton Hotel Rwanda ketika SMA, saya lupa kelas berapa. Lewat DVD bajakan (tolong jangan dicontoh). Dan alasan saya menonton ulang lagi film itu adalah mata kuliah Isu-isu Kontemporer Psikologi Klinis. Ceritanya, film ini akan diputar di kelas dan mahasiswa akan mendiskusikan isu-isu psikologis terkait perang antarsuku. Dan saya diminta oleh Pak Dosen untuk bertanggungjawab menyediakan film itu. Jadi, ya, setelah mendapatkan film-nya, saya tonton lagi film itu. Dan saya menangis tanpa suara menontonnya. Saya kira, keesokan harinya, ketika saya, teman-teman, dan dosen menonton film itu di kelas, saya sudah tidak dapat menangis karena bosan. Tapi ternyata tidak. Saya gagal menahan keinginan untuk tidak menangis. Seorang teman perempuan juga mengalami hal serupa dengan saya. Untunglah kelas gelap sehingga tidak terlalu kelihatan kalau mata dan hidung saya memerah seperti tomat.

Saya tidak akan menceritakan selengkapnya isi film itu di sini. Sekedar ingin mengungkapkan perasaan yang campur aduk ketika menontonnya. Anak-anak dan wanita dibunuh. Orang-orang tak bersalah, yang tidak tahu apa-apa, menjadi korban. Perang itu membuat sekitar sejuta orang terbunuh, hanya karena identitas suku mereka. Dan dunia menolak melihatnya. Dunia menolak membantu dan berpura-pura tidak terjadi pembunuhan massal di sana.

Tinggal di Indonesia tentu saja sudah membuat kita akrab dengan berita-berita perang antarsuku. Di tempat kelahiran saya sendiri, Kalimantan Barat, seperti itu. Saya ingat ketika melihat dua orang berbeda suku bertengkar di depan pagar rumah saya, salah satunya menghunus senjata tajam. Saya cuma bisa bengong di depan pintu, tidak tahu apa yang harus dilakukan, bahkan masih bengong ketika ibu saya menarik saya ke dalam rumah dengan ketakutan, dan kami mengintip pertikaian kecil-yang untungnya berhasil didamaikan- itu melalui jendela.

Namun saya bukanlah korban. Saya tidak kehilangan rumah dan anggota keluarga. Saya tidak harus mengungsi. Saya tidak terluka. Dan saya membayangkan, ketika menonton film itu, bagaimana jika saya menjadi korban. Mungkin saya tidak akan kuliah sekarang. Mungkin, saya bahkan sudah kembali menjadi tanah. Dan untuk itu, saya merasa seperti....wow.

Ya. Kadang-kadang kita harus bersyukur bukan karena sesuatu terjadi, tetapi karena sesuatu tidak terjadi. Kadang-kadang kita harus merasa bahagia bukan karena tertimpa anugerah, tetapi karena tidak tertimpa musibah. Kadang-kadang kita harus merasa diberkati bukan karena mendapat sesuatu, tetapi karena tidak kehilangan sesuatu.