Tampilkan postingan dengan label Academia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Academia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Mei 2013

Finally! :D

Aaaaahhhhh.....sudah lama sekali tidak membuka kotak penyimpanan yang sudah hampir usang ini! :D
Saatnya mengaktifkan kembali sistem-menulis-blog di otak saya. Saya bisa membayangkan bagian otak yang saya gunakan ketika menulis blog mulai berkedap-kedip dengan aktif.

Oke, dimulai dengan kalimat ini:

Resolusi yang saya tulis kemarin akhirnya menjadi kenyataan :D

Kalau belum tahu resolusi yang mana, yaitu resolusi yang saya tulis di beberapa postingan sebelumnya, yang berjudul S(u)atu Resolusi. Lupa? Tinggal scroll-down saja laman blog ini (ra penting).

Finally, skripsi saya sudah selesai. Perjuangan bolak-balik rumah sakit jiwa dan berkelana di rumah sakit lainnya, fotokopi yang mencapai total seratusan angket (yang banyak tersisa di kamar saya dan saya niatkan untuk diloak ketika tiba-tiba jatuh bangkrut), melewati tantangan printer yang rusak, dan juga setelah melewati sidang di pagi hari selama satu setengah jam pada tanggal 25 April 2013......berbuah manis. Keringat yang saya kucurkan terasa manis juga rasanya.

Beberapa hari sebelum sidang, saya sempat dicengkeram rasa cemas. Rasanya seperti jantung saya diremas setiap mengingat tanggal 25 April 2013 pukul 08.00. Perut saya terasa aneh seperti ada sesuatu yang terbang di dalamnya, bukan lagi kupu-kupu, tetapi sesuatu yang lebih besar dan tidak mengenakkan, walaupun tidak membuat saya mual. Tapi, ketika setelah sidang, saya mendengar DPS saya berkata, "Selamat, Nadya. Perjuangan panjang akhirnya selesai...kamu dinyatakan lulus..." (kedua tangan saya mencengkeram tepi meja di ruang sidang ketika mendengar kata ini) "dengan perbaikan."
Wow, rasanya lega. Revisi? Tak apalah. Wajar terjadi.

Namun perjuangan belum selesai. Saya menyelesaikan revisi sekitar seminggu, berburu tanda tangan dosen yang akan segera cus ke Aussie, meminta lembar pengesahan, berburu tanda tangan lagi, menjilid skripsi, menunggu dengan pasrah tanda tangan dari dekan, menyerahkan soft file skripsi ke perpus, mengumpulkan scan sertfikat non-akademik sebagai syarat yudisium, dan.....sekarang saya dalam posisi menunggu keluarnya Surat Keterangan Lulus (SKL) yang akan saya gunakan untuk mendaftar S2. Yah, wisuda saya masih sekitar 3 bulan lagi dan saya sudah membeli kain untuk kebaya wisuda, hahahahahaha. Saya masih galau mau mendesain kebaya yang seperti apa -__-

Anyway, lulus itu ternyata biasa saja, kalau menurut saya sih. Rasa bangga dan gembiranya hanya ketika diumumkan lulus sidang dan mungkin, ketika wisuda nanti. Mmmm, dan ketika saya melihat skripsi saya yang sudah dijilid (wow, keren, ini masterpiece yang saya hasilkan selama kuliah!). Selain itu rasanya biasa saja. Amat biasa saja.

Perjalanan masih panjang untuk diri saya ke depan; saya baru saja memulainya. Hidup tetap berjalan. Target-target akan disusun, harapan-harapan akan dihantarkan lewat doa, dan usaha-usaha yang lebih gigih akan dibutuhkan. Akan ada orang-orang baru untuk dikenal, tempat-tempat baru untuk dijelajahi atau sekedar didatangi, pengalaman-pengalaman baru, pahit dan manis, yang perlu dicecap untu menjadikan saya lebih dewasa. Saya merasa bergairah sekaligus deg-degan.

 Selamat datang, petualangan baru :)

Karena saya orang yang seringkali "bejo", saya akan menambahkan: Semoga beruntung!

*cheers!*


Jumat, 17 Agustus 2012

KKN: Antara Mitos dan Fakta

Setelah sebulan KKN, ada beberapa hal yang harus saya benahi kembali dalam otak saya, terkait skema awal saya tentang KKN. Ternyata, KKN itu...

#1
Mitos:
KKN biasanya di daerah terpencil dan sangat terbelakang. 
Fakta: 
Lokasi KKN saya tidak jauh dari kota. Memang sih, di atas bukit dan jalanannya turun-naik curam gitu, berbatu, banyak lubang, becek, dan licin kalo hujan. Tapi keluar dari gerbang kelurahan, belok dikit, turun bukit, sreeet...15 menit kemudian sampe deh ke kota besar. Saya sudah sempet beberapa kali ke swalayan terdekat :p Sempet juga mampir ke ATM dan ngambil duit buat jajan2 di swalayan itu...hahaha

#2
Mitos:
Biasanya kalo KKN itu satu tim ga tinggal di berdekatan, pada disebar ke rumah penduduk-penduduk.
Fakta:
Tim saya tinggal di sebuah pondokan milik Pak Dusun. Beliau punya 2 rumah. Nah, rumahnya yang baru dibangun ini dijadiin pondokan buat tim KKN saya, beliau tinggal di rumahnya yang lain. Rumah ini ada 2 bagian (bentuknya kayak rumah couple gitu). Satu bagian dipake sama anggota KKN yang cowok (ada 16 orang). Yang cewek (ada 7 orang termasuk saya) tinggal di sebelahnya, yang ditinggali sama anak Pak Dusun sekeluarga. Ehm, lebih tepatnya, yang cewek-cewek ini tinggal di kamar, bukan rumah. Berhubung yang cewek-cewek ini harus berbagi dengan keluarga anaknya Pak Dusun, kami tinggal di satu kamar dan keluarga Pak Dusun di kamar yang lain.
Jadi, bisa dibilang, tim kami hanya terpisah satu tembok aja, haha. Dan uniknya, ga ada plafon di rumah yang kami tinggali. Di langit-langit langsung keliatan seng dan kayu-kayu. Akibatnya, suara dari satu ruangan ke ruangan lain kedengeran jelas, udah kayak siaran langsung. Kalo ada yang lagi gosipin temennya, langsung kedengaran ke kamar sebelah. Kalo ada yang lagi mandi sambil nyanyi-nyanyi, kedengeran juga. Kalo ada yang boker, hmm...kadang-kadang kedengeran. Komunikasi kami berjalan dengan sangat mudah.

#3
Mitos:
Biasanya mahasiswa KKN itu ga masak sendiri. Dimasakin sama pemilik pondokan. Atau beli langsung.
Fakta:
Salah besar! Berhubung KKN saya di Kalimantan, yang notabene harganya mahal-mahal, kalau mau beli makanan yang langsung jadi itu minimal per orang menghabiskan Rp30.000 dalam sehari, untuk 3 kali makan. Belum sama minum. Memang sih, saya KKN selama bulan puasa, tapi jelas butuh makan buat sahur dan buka juga, itu pasti. Ada temen saya yang survei kalo-kalo ada warga yang bisa masakin, ternyata agak berat juga. Dan jatuhnya juga mahal. Akhirnya, untuk menghemat, hampir setiap hari kami masak sendiri. Baik buat sahur dan buat buka. Untung ada teman-teman se-tim saya yang asli Kalimantan. Mereka udah kayak toko kelontong dan supermarket logistik. Di dapur kami sudah ada modal minyak, beras, indomie, dll :') Hitung-hitung, belanja dan masak sendiri jatuhnya memang lebih hemat lho, apalagi setelah adanya sumbangan logistik dari para genk Kalimantan di tim saya. Selain itu, skill memasak para anggota tim pun mulai terasah. Udah muncul bibit-bibit jagoan bikin sambel, es dan koktail, bubur manado, sup jagung, bakwan jagung, tumis kangkung, sanggar (pisang garing a.k.a pisang goreng), fuyunghai, dan banyak jagoan lagi.   
Pernah juga sih, beberapa kali kami ikut buka bersama di sekolah dan di rumah tetangga. Ada juga tetangga yang -bahkan hampir menjelang malam buta- nganterin makanan dan cemilan buat kami :') Bener-bener rezeki yang tak terduga di malam hari.
Pas buka bersama di rumah tetangga juga asyik. Kami dijamu dengan berbagai macam makanan (saya sampai bingung milih lauk dan sayurnya, semua pengen disikat). Nah, ada satu momen yang ga akan saya lupakan waktu nyiapin buber di rumah tetangga ini: NGULITIN BEBEK! Agak ga tega juga sih awalnya, nyabutin bulu binatang sampai botak. Padahal beberapa minggu sebelum buber saya masih melihat itu bebek berenang-renang di empang :'(

#4
Mitos:
KKN itu pasti sibuk.
Fakta:
Ah...yang bener? Banyak kesempatan di mana saya mengalami 'mager day' alias malas gerak seharian. Seharian cuma guling-guling di kasur, ke kiri, ke kanan, roll depan, roll belakang. Trus siangnya bantuin masak atau belanja ke pasar tradisional, turun ke kota dengan aroma tubuh khas orang belum mandi (di lokasi KKN saya air susah, cuma ngalir 3 kali seminggu, dan warnanya kayak cofeemix, jadi mandi dihemat-hemat lah yaa). Trus sorenya TPA. Udah, gitu aja.
Tapi ada juga sih hari-hari di mana saya bener-bener merasa berguna. Kayak pas nyiapin acara Bioskop Edukasi di sekolah, koordinasi dengan Pemerintah setempat, ikut bantuin temen ngajarin ibu-ibu bikin kerajinan dari kain flanel, ikut arisan pemuda sampai tengah malem (walaupun ga ngapa-ngapain, ngantuk di pojokan), nyiapin penyuluhan buat warga dan pernah jadi pembicara juga pas penyuluhan, ngajar TPA plus ta'jilan bareng anak-anak TPA, ngajarin anak2 SD berhitung dan membaca...(well, percaya atau ga, di lokasi KKN saya, anak-anak banyak yang belum bisa baca walaupun udah SD...ngitung pun masih pake jari...dan masih sering salah...tambah kurang pun belum bisa...perkalian apalagi...ngajarinnya harus ekstra sabaaar T~T)
Ya...paling nggak, masih ada kesempatan di mana saya merasa ga jadi sampah KKN.

#5
Mitos:
Salah satu hal yang berkesan di hati mahasiswa KKN adalah: warganya ramah-ramaaaah <3
Fakta:
Hmm...hal pertama yang tim saya rasakan di sini adalah: kok dicuekin dan ga dianggep ya?
Jujur aja, pas kami dateng ke lokasi, ga ada yang bantuin kami packing barang ke pondokan. Penduduk yang melihat cuma sekedar melihat di depan rumah mereka, ga ada yang ikut bergerak. Paling cuma Pak Dusun sekeluarga.
Suatu saat, saya dan teman-teman saya berjalan-jalan keliling dusun, dan menebar senyuman serta sapaan ke warga. Dan warga yang kami sapa hanya menatap kami dengan ekspresi datar .__.
Pas penghijauan, teman saya yang ikut melakukan kegiatan dari awal sampai akhir, cerita kalau ga banyak warga yang membantu mereka menyangkul dan menanam. Hanya menonton saja. Yang bantu malah anak-anak kecil :)
Tapi pada akhirnya, selemah dan serapuh apapun itu, tetap ada ikatan yang kami rasakan terhadap warga-warga yang telah banyak membantu kami di lokasi, pada anak-anak yang hampir tiap hari memenuhi pondokan kami (yang kadang-kadang membuat kami kelimpungan juga karena sudah seperti day-care untuk balita dan anak-anak). Tetap ada kenangan yang indah bersama warga, secuek apapun kesan pertama yang kami dapatkan saat pertama kali menginjakkan kaki di dusun berbukit itu :)

#6
Mitos:
KKN adalah saat di mana benih-benih cinta muncul karena terbiasa.
Fakta:
Nah...kalo yang ini sih, saya percaya! Sebenarnya saya bukan orang yang cepat percaya soal pepatah, kalo belum ada buktinya. Tapi berhubung di tim KKN saya sudah mulai tercium bau-bau orang jadian, well, saya mengakui, pepatah itu memang benar. Banyak temen-temen saya yang jomblo yang digosipin dan dijodoh-jodohin. Ada yang ga digosipin, eh ujung-ujungnya jadian, ahahaha....ada-ada aja romansa KKN ini...  
N.B: Buat sepasang temenku, entah kalian beneran jadian atau tidak, hanya Tuhan dan kalian yang tahu. Aku hanya berdoa semoga apa pun yang terjadi adalah yang terbaik bagi kalian :3

Yak...itulah sekilas mitos dan fakta selama KKN. Pengalaman tiap orang bisa berbeda, maka harap maklum jika mitos dan fakta versi saya ini sangat subjektif...namanya juga versi saya, dari pengalaman saya.
Yang belum pernah KKN, mungkin bisa dijadiin bahan persiapan menghadapi medan KKN, haha :p
Banyak hal tak terduga menanti kalian.
Trust me :p

Senin, 02 Juli 2012

Pendekatan Instrumental Dalam Regulasi Emosi: Emosi Positf vs Emosi Negatif

Lagi-lagi, saya iseng memposting hasil tulisan saya untuk UTS. Kali ini tentang emosi. Saya yakin semua sudah tahu apa itu emosi positif, apa itu emosi negatif. Tapi, sebenarnya bukan hal simpel dalam menggolongkan bahwa marah itu negatif, bahagia itu positif. Ada pertimbangan yang lebih dalam terkait penggolongan emosi. Monggo disimak kalau mau tahu lebih lanjut, kalau tidak tertarik ya nggak papa... :)


Pendekatan Instrumental Dalam Regulasi Emosi: Emosi Positif vs Emosi Negatif

Nadya Anjani Rismarini
09/ 283173/ PS/ 05735

Abstrak
Selama ini kita mengenal istilah emosi positif dan emosi negatif. Emosi positif biasanya mengacu pada kebahagiaan, sedangkan emosi negatif mengacu pada kesedihan, ketakutan, atau kemarahan. Akan tetapi tidak selamanya manusia ingin merasakan emosi positf dan tidak selamanya emosi positif itu bernilai positif. Studi telah menunjukkan adanya pendekatan instrumental dalam regulasi emosi, ketika seseorang mungkin ingin merasakan emosi negatif tertentu agar tujuannya tercapai. Di sisi lain, emosi positif seperti kebahagiaan pun tidak selamanya bernilai positif.

Regulasi Emosi: Sebuah Pendekatan Instrumental
Dalam kesehariannya, manusia seakan diarahkan untuk merasakan emosi yang bernilai positif. Wajah-wajah tersenyum dan memancarkan kesenangan lebih diharapkan dan lebih bisa diterima oleh lingkungan daripada wajah-wajah murung yang memancarkan kesedihan, atau, wajah-wajah marah yang memancarkan permusuhan. Emosi, yang aslinya bersifat refleks, alami, dan bebas dari penilaian, layaknya menjadi sesuatu yang dapat dibedakan dan dinilai berdasarkan dua kubu: positif dan negatif, di mana yang negatif haruslah dihindari.
Akan tetapi, anggap saja emosi positif itu memang berdampak positif, dan emosi negatif itu memang berdampak negatif, bagaimana kita dapat menjelaskan orang yang merasa senang dan lega sehabis menangis? Bukankah menangis (bersedih) itu emosi negatif? Mengapa ada orang yang marah dan mengumpat lalu setelah itu merasa lega? Tampaknya, orang-orang tidak selalu ingin merasakan emosi yang positif.
Di dalam teori psikoanalisa, dikenal istilah pleasure principle, yang mana manusia dipandang sebagai makhluk hedonis, cenderung mencari kesenangan dan menghindari rasa sakit. Pertanyaan yang muncul adalah: Benarkah begitu jika dikaitkan dengan emosi? Apakah manusia ingin selalu merasakan kesenangan atau emosi-emosi lain yang tergolong positif? Jika benar, lalu apa gunanya kapasitas alami kita untuk merasakan berbagai macam emosi selain emosi positif? Kita dapat berpikir ulang mengenai makna positif dan negatif yang biasanya dilekatkan pada emosi: bisa jadi, positif dan negatif itu situasional dan tidak sesederhana yang dipaparkan dalam seminar-seminar motivasi diri.
Regulasi sendiri berarti “mengatur”, sehingga jika dikaitkan dengan emosi, regulasi emosi dapat berarti pengaturan, pengelolaan emosi. Regulasi emosi sering kita kaitkan dengan kestabilan emosi, adaptasi, dan lain-lain. Hal ini tidaklah salah, karena regulasi emosi memiliki konsekuensi yang penting bagi kesehatan dan fungsi adaptif (Tamir, 2011). Bagaimana pun, paradigma regulasi emosi yang ditinjau dari pendekatan instrumental barangkali membawa angin segar bagi pengetahuan kita akan emosi.
Pendekatan instrumental terhadap regulasi emosi menyatakan bahwa manusia mengatur emosi mereka agar dapat sukses meraih tujuan instrumental (Bonanno, 2001; Parrott, 1993; Tamir, 2009a dalam Tamir, 2011). Jadi, regulasi emosi bukanlah semata-mata ditujukan untuk merasakan emosi tertentu, akan tetapi regulasi ini digunakan untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan ini dapat diartikan sebagai target perubahan pada fisiologi, kognisi, motivasi, perilaku, atau lingkungan sosial. Maka tidak dapat kita simpulkan secara sederhana bahwa regulasi emosi berarti mengubah perasaan menjadi positif. Ada hal-hal yang jauh lebih kompleks daripada sekedar mencari kesenangan.
Lebih jauh lagi, emosi apa yang ingin dirasakan oleh seseorang tergantung pula oleh pleasure dan utility. Pleasure merujuk pada emosi yang positif, kesenangan; sedangkan utility merujuk pada manfaat emosi tertentu untuk pencapaian tujuan. Ketika manusia ingin mencapai tujuan instrumental, yang bersifat jangka panjang (long-term benefits), manusia rela menunda pleasure demi mendapatkan apa yang mereka inginkan. Dengan kata lain, manusia tak hanya mengejar pleasure, tetapi juga cenderung memilih emosi yang dirasa bermanfaat bagi mereka, dan emosi ini tidak harus selalu positif.
Tamir (2011) mencontohkan situasi ketika mahasiswa belajar untuk ujian. Mereka rela merasakan emosi tidak menyenangkan seperti stres dan lelah, menunda rencana bermain mereka, dengan harapan mendapatkan hasil yang baik. Mereka juga menginginkan pleasure, namun mereka mengutamakan ‘penderitaan’ terlebih dulu agar mendapatkan long-term benefits, yakni pleasure yang tertunda sebagai hasil dari kesuksesan dalam mencapai tujuan. Istilahnya, “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”.

Preferensi Emosi dan Personality Trait
Setiap individu mempunyai kepribadian yang berbeda. Kepribadian yang berbeda-beda ini pun menyebabkan adanya perbedaan kecenderungan dalam berperilaku, dan tentunya perbedaan kecenderungan preferensi emosi. Seseorang mungkin senang menyendiri di kamar yang tertutup sambil mendengarkan lagu-lagu sedih, sementara seorang lainnya berkelana di pesta-pesta sambil bercanda dan tertawa.
Berdasarkan Behavioral Concordance Model oleh Cote & Moskowitz, 1998, orang-orang cenderung lebih menyukai pengalaman yang konsisten dengan personality trait mereka. Individu mencari validasi self-theory mereka karena teori tersebut membuatnya mengerti dan dapat mengontrol realitas sosialnya, dengan kata lain indvidu akan mencari pengalaman yang konsisten dengan aspek karakteristiknya (Epstein, 1973, dalam Tamir, 2009). Preferensi emosi merupakan salah satu fungsi dari personality trait.
Sebagai bukti, data terbaru menunjukkan bahwa neoroticism berasosiasi dengan preferensi trait-consistent (Tamir, 2005 dalam Tamir, 2009) yang mana individu dengan neuroticism tinggi cenderung memiliki kekhawatiran dan kecemasan yang lebih tinggi (Watson, 2000 dalam Tamir, 2009) dan lebih termotivasi menghindari ancaman. Di lain sisi, individu yang memiliki extraversion tinggi merasakan emosi positif (misalnya kebahagiaan) yang lebih besar (Costa & McCrae, 1980 dalam Tamir, 2009) dan termotivasi untuk mendapatkan reward (Carver, dkk., 2000; Elliot & Thrash, 2002 dalam Tamir, 2009). Orang dengan extraversion rendah mengalami yang sebaliknya.
Adanya preferensi emosi yang terkait dengan personality trait ini dapat kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Bayangkan jika Anda adalah seorang introvert. Berada di tengah orang banyak dalam suatu pertemuan tidak membuat Anda merasa nyaman. Maka emosi yang ingin Anda rasakan adalah emosi yang sekiranya membuat orang ingin menjauhi Anda, misalnya jengkel. Sebaliknya, jika Anda adalah seorang ekstrovert yang suka keramaian dan suka bertemu dengan orang-orang baru, Anda cenderung merasakan emosi yang membuat orang-orang ingin berada di dekat Anda. Anda akan merasakan semangat dan kesenangan, yang terpancar dari sikap yang ramah dan luwes, sehingga akhirnya banyak orang yang mendekati Anda.      
Selain itu, kita cenderung merasakan emosi yang mendukung ekspektasi kita terhadap sesuatu atau situasi tertentu. Misalnya, emosi marah yang muncul ketika kita diremehkan seseorang. Kita tanpa sadar ingin merasakan emosi marah karena adanya perasaan ingin melawan. Emosi marah ini diperlukan sebagai “bahan bakar” dalam menghadapi lawan. Atau ketika seseorang baru saja putus dari kekasihnya. Ia mungkin lebih suka merasakan kebencian karena emosi ini barangkali dapat membantunya untuk berhenti mencintai dan mengharapkan pasangannya untuk kembali.


Emosi Negatif dan Positif: Kapan?
            Emosi adalah respon bagi keadaan-keadaan tertentu. Orang-orang merasakan kebahagiaan sebagai respon dari tercapainya tujuan, ketakutan sebagai respon dari adanya ancaman, dan kemarahan sebagai respon dari hinaan (Lazarus, 1991 dalam Gruber, Mauss, & Tamir, 2011). Bisa dibilang, emosi itu situasional. Ketika kita merasakan emosi yang tidak sesuai dengan situasi, emosi tersebut bisa saja bernilai negatif. Ketakutan dan kemarahan dapat bernilai positif jika muncul di situasi yang tepat. Hal yang sama pun dapat terjadi pada kebahagiaan.
Kebahagiaan akan bernilai negatif ketika tidak lagi berada dalam derajat yang normal, tidak lagi berada dalam situasi yang tepat, diraih dengan cara yang tidak semestinya, dan termasuk ke dalam tipe kebahagiaan yang salah. Seorang maniak merasa bahagia, namun tidak dalam derajat yang sewajarnya. Merasa bahagia ketika seorang teman menderita tentu bukan hal yang terpuji. Bahkan sebuah studi menunjukkan, pengejaran kebahagiaan (pursuit of happiness) dapat berujung pada hasil yang maladaptif karena dapat menyebabkan kekecewaan. Menginginkan kebahagiaan bukan saja dapat menurunkan kesejahteraan (well-being) seseorang, tetapi juga dapat membuatnya kesepian (Gruber, Mauss, & Tamir, 2011). Kata-kata bijak “yang terlalu itu tidak baik” berlaku di sini. Terlalu bahagia bukan hal yang menyehatkan, sama halnya dengan berusaha terlalu keras mengejar kebahagiaan.
Jika ditinjau dari pendekatan instrumental yang sudah dibahas di atas, tampaknya nilai positif dan negatif itu sendiri juga tergantung dari dampak emosi tersebut terhadap pencapaian tujuan instrumental individu. Jika merasakan sebuah emosi dapat mendukung tujuannya, maka emosi tersebut bernilai positif, dan sebaliknya. Saya membayangkan seorang anak yang menangis agar orang tuanya mau memberikan barang yang ia inginkan, yang mana emosi negatif (sedih, menangis) menjadi cara agar ia dipedulikan dan keinginannya dituruti. Di sini, emosi negatif bernilai positif.
             Tidak selamanya emosi yang dianggap positif itu memang positif dan emosi yang dianggap negatif itu memang negatif. Pemberian label positif terhadap emosi-emosi seperti senang dan bahagia, serta pemberian label negatif terhadap emosi-emosi seperti marah dan takut sebenarnya merupakan pembatasan yang sempit akan dimensi emosi manusia yang sesungguhnya sangat luas. Jika ditanya apakah marah itu emosi negatif, atau apakah senang itu emosi positif, jawabannya adalah “tergantung”. Tergantung situasi, tergantung derajatnya, serta tergantung apakah emosi tersebut berguna bagi pencapaian tujuan kita atau tidak.
             

DAFTAR PUSTAKA

Tamir, M. (2011). The Maturing Field of Emotion Regulation. Emotion Review,  3, 1, 3-7. Retrieved September 14, 2011, from  https://www2.bc.edu/~tamirm/download/Tamir_2011.pdf

Gruber, J., Mauss, I. B., Tamir, M. (2011). A Dark Side of Happiness? How, When, and Why Happiness Is Not Always Good. Perspectives on Psychological Science, 6, 3, 222-233. Retrieved November 7, 2011 from  http://yalepeplab.com/pdf/GruberMaussTamir_2011_DarkSideHappiness.pdf

Tamir, M. (2009). What Do People Want to Feel and Why? Pleasure and Utility in Emotion Regulation. Current Directions in Psychological Science, 18, 2, 101-105. Diakses pada Retrieved September 14,  2011 from https://www2.bc.edu/~tamirm/download/Tamir_CDir_2009.pdf

Tamir, M. (2009). Differential Preferences for Happiness: Extraversion and Trait-Consistent Emotion Regulation. Journal of Personality, 77, 2, 447-470. Retrieved September 14,  2011 from  https://www2.bc.edu/~tamirm/download/Tamir_JP_2009.pdf

Minggu, 24 Juni 2012

Emosi Cerdas, Hidup Sejahtera: Antara Emotional Intelligence dan Well-Being

Rasa-rasanya, sayang juga kalau apa yang saya tulis di waktu kuliah tidak saya bagikan di sini. Tulisan ini memang banyak kurangnya, namun saya rasa bisa memberi manfaat, paling tidak sedikit, bagi yang ingin belajar ataupun sekedar iseng-iseng cari tahu tentang IQ, EQ, dan Well-being. Selamat menikmati tulisan yang sejatinya adalah tugas ujian tengah semester ini. Yuuk mari...


Emosi Cerdas, Hidup Sejahtera:
Antara Emotional Intelligence dan Well-Being

Nadya Anjani Rismarini
09/283173/PS/05735

 Sekian tahun lamanya, kita telah dibuat percaya bahwa kecerdasan intelektual seseorang (yang diukur sebagai IQ- intelligence quotient) adalah prediktor utama kesuksesan. Masyarakat menilai bahwa orang yang ber-IQ tinggi akan memiliki pencapaian lebih banyak dalam hidup. Bagaimanapun, 10 tahun terakhir ini para peneliti menemukan bahwa kecerdasan emosional (EQ- emotional quotient) seseorang bisa jadi menjadi prediktor kesuksesan yang lebih utama dari IQ (Thibodeaux & Bond, 2007).
Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan kecerdasan emosional? Pada awal tahun 90an, Dr. John Mayer, Ph.D. dan Dr. Peter Salovey, Ph. D. memperkenalkan  istilah tersebut di dalam Journal of Personality Assessment. Kecerdasan emosional digambarkan sebagai kemampuan seseorang untuk memahami emosinya sendiri dan emosi orang lain, dan bertindak dengan tepat/sesuai berdasarkan pemahamannya tersebut. Pada tahun 1995, psikolog Daniel Goleman mempopulerkan istilah kecerdasan emosional dalam bukunya, Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. Kecerdasan emosional adalah tentang memiliki empati bagi orang lain; membela apa yang anda yakini dengan cara yang terhormat; tidak langsung melompat ke kesimpulan, melainkan mendapatkan gambaran keseluruhan sebelum bertindak.  Kunci dari kecerdasan emosional adalah memahami emosi anda dan emosi orang lain, dan bertindak dengan cara yang paling sesuai berdasarkan pemahaman anda tersebut.
Goleman (2001) membandingkan IQ dan EQ dalam ranah emosi dan kognitif. IQ, menurutnya, adalah kemampuan yang murni bersifat kognitif. Sedangkan kemampuan lainnya mengintegrasikan pemikiran dan perasaan dan masuk ke dalam domain “kecerdasan emosi”, sebuah istilah yang menekankan pentingnya peran emosi dalam pelaksanaannya. Semua kemampuan terkait kecerdasan emosional melibatkan keterampilan pada domain afektif, dan juga mengandung elemen-elemen kognitif. Kecerdasan emosional telah diajukan sebagai prediktor fungsi manusia yang positif (Mayer & Salovery, 1997, dalam Spences, Oades, & Caputi, 2004). Kecerdasan emosional telah dihubungkan dengan beberapa faktor seperti kepuasan hidup, psychological well-being, kesuksesan dalam pekerjaan dan performansi kerja (Adeyemi & Adeleye, 2008; Bar-On, 1997 & 2005; Salovey & Mayer, 1990).
Memiliki kecerdasan emosi yang sehat merupakan hal yang penting agar manusia dapat hidup bahagia dan sukses (Thibodeaux & Bonds, 2007). Kecerdasan emosional berhubungan dengan aksi manusia yang efektif dan aktualisasi diri, yang berhubungan pula dengan aksi manusia yang optimal (Bar-On, 2001 dalam Spences, Oades, & Caputi, 2004). Pernyataan-pernyataan tersebut menegaskan bahwa kecerdasan emosional memang memiliki pengaruh besar dalam kehidupan manusia, bagaimana manusia menjalani kehidupannya dengan positif dan optimal.
Konsep “fungsi optimal manusia” ini ternyata berkaitan dengan konsep well-being atau kesejahteraan. Para psikolog klinis seringkali mendiskripsikan well-being melalui beberapa teori (Ryff & Keyes, 1995), di antaranya adalah teori needs (kebutuhan) dari Maslow (1968) yang mana aktualiasi diri (self-actualization) menjadi needs yang berada di tingkat paling tinggi. Selain itu ada pula teori dari Rogers (1961) tentang fully functioning person. Menurutnya, terdapat beberapa ciri manusia yang berfungsi optimal, antara lain terbuka terhadap pengalaman, bebas mengekspresikan perasaan, bertindak secara independen, kreatif, dan memiliki hidup yang “kaya”; the good life. Bagi Rogers, inilah kondisi manusia yang ideal. Seperti Maslow, Ia juga menyatakan adanya tendensi manusia untuk mengaktualisasikan diri.
Secara umum, well-being adalah sebutan bagi kualitas hidup yang bagus (good life). Well-being juga dapat dirumuskan sebagai apa yang diperbuat oleh seseorang dalam kondisi aktual kehidupannya. Apa yang diperbuat orang terhadap kondisi tersebut (Michalos, 2007). Apa yang mereka persepsi dari kondisi tersebut, apa yang mereka rasakan dan pikirkan dari kondisi tersebut adalah fungsi dari well-being mereka. Jika tindakan, persepsi, perasaan, dan pemikiran mereka negatif, maka kualitas hidup mereka akan rendah, dengan kata lain: well-being yang rendah.
Apapun definisi tentang well-being, pada umumnya semua merujuk ke satu arah, di mana seseorang memiliki hidup yang berkualitas tinggi. Hidup bahagia, sukses, atau “kaya” seperti yang dikatakan Rogers. Konsep the good life ini tidak hanya meliputi faktor materi saja, tetapi juga psikologis: emosi yang positif, hubungan interpersonal yang berkualitas, dll. Dalam semua aspek ini, yang melibatkan banyak domain afektif, kecerdasan emosional menunjukkan pengaruhnya.
Ada satu contoh sederhana yang diutarakan oleh Martins, Ramalho, dan Morin (2010) tentang bagaimana kecerdasan emosi dapat menghambat kesuksesan. Misalnya saja seorang siswa yang merasa cemas karena akan megikuti ujian. Jika ia tidak bertindak tepat dalam mengatasi emosinya tersebut, ia akan benar-benar sakit. Jika ia tidak bisa melakukan tindakan yang tepat terhadap rasa cemas yang ia rasakan, ia bisa gagal ujian. Saya jadi membayangkan contoh seorang pelamar kerja yang akan mengikuti wawancara. Jika ia tidak memahami bagaimana harus menyiasati rasa cemasnya, performanya dalam wawancara bisa separah rasa cemas yang ia rasakan, dan hasilnya? Bisa saja ia gagal diterima. Ia gagal mengaktualisasikan dirinya. Tidak heran jika kecerdasan emosional juga banyak dihubungkan dengan kesuksesan dalam pekerjaan, yang lagi-lagi, juga termasuk salah satu aspek dalam well-being.
Tanpa kemampuan untuk mengetahui dan memahami emosi pribadi dan emosi orang lain (empati), tanpa kemampuan untuk bertindak berdasarkan pengetahuan tersebut, akan sulit bagi seseorang untuk menjalin hubungan interpersonal yang memuaskan. Tanpa kemampuan untuk menimbang, seseorang akan menjadi ceroboh dalam bertindak. Tanpa kecerdasan emosi, bahkan hanya ketiadaan beberapa aspek kecerdasan tersebut, kesejahteraan dan kepuasan hidup seseorang akan terganggu. Maka, tidaklah berlebihan jika kepopuleran EQ sebagai prediktor kesuksesan hidup yang mengarah kepada well-being kini mengalahkan popularitas IQ. Dengan emosi yang cerdas, hidup pun akan sejahtera.
Referensi:
Goleman, D. (2001). The Emotionally Intelligent Work[place (Chapter Two: Emotional Intelligence: Issues in Paradigm Building). Jossey-Bass
Martins, A; Ramalho, N; Morin, E. (2010). A Comprehensive Meta-Analysis of The Relationship Between Emotional Intelligence and Health. Personality and Individual Differences, 49, 554-564

Michalos, A. C. (2007). Education, Happiness and Wellbeing. Paper written for the International Conference on “Is Happiness Measurable and What Do Those Measures Mean for Public Policy?

Ryff, C. D; Keyes, C.L.M. (1995). The Structure of Psychological Well-Being Revisited. Journal of Personality and Social Psychology, 69(4), 719-727

Spences, G; Oades, L.G; Caputi, P. (2004). Trait Emotional Intelligence and Goal Self-Integration: Important Predictors of Emotional Well-Being? Personality and Individual Differences, 37, 449-461

Thibodeaux, J.B; Bond, D.S. (2007). What is Your Emotional Intelligence Quotient? (article) retrieved from http://www.nenetwork.org/roundtables/EmotionalIntelligenceQuotient.pdf on April 11, 2012, 13.38


diakses 12 April 2012, 21.56