Rabu, 05 Juli 2017

Between The Lines, by Sara Bareilles

Time to tell me the truth
To burden your mouth for what you say
No pieces of paper in a way
'Cause I can't continue pretending to choose
These opposite sides on which we fall
The loving you later, if at all
No right minds could wrong be this many times

My memory is cruel
I'm queen of attention-to-details
Defending intentions if he fails
Until now, you told me her name
It sounded familiar in a way
I could've sworn I'd heard him say it ten thousand times
Oh, if only I had been listening

Leave unsaid, unspoken
Eyes wide shut, not open
You and me
Always between the lines
Between the lines.

I thought I, thought I was ready to bleed
That we'd move from the shadows on the wall
And stand in the center of it all
Too late, two choices to stay or to leave
Mine was so easy to uncover
He'd already left with the other
So I've learned to listen through silence

Leave unsaid, unspoken
Eyes wide shut, not open
You and me, always be...
You and me
Always be...

I tell myself all the words he surely meant to say
I talked until the conversation doesn't stay on
Wait for me I'm almost ready...
When he meant "let go"

Leave unsaid, unspoken
Eyes wide shut, not open
You and me, always be...
You and me
Always between the lines...
Between the lines.


Sabtu, 18 Februari 2017

Tentang Sebuah Nama yang Tak Bisa Diucapkan


Pada awalnya kupikir aku hanya membutuhkan sedikit hiburan dari kesepian. Sekedar pengalih perhatian akan tuntutan yang menekan, melihat begitu banyak teman yang sudah berlabuh di pelaminan. Ah, tidak. Mungkin itu bukan tuntutan; diriku saja yang merasa tak aman. Tapi gelombang was-was kerap menyapa, dan itu nyata adanya.

Pada awalnya kuyakinkan diriku bahwa aku hanya mencari pelarian; tidak ada yang namanya cinta. Temanku pun bilang aku hanya kesepian saja, jadi aku enyahkan suara kecil yang kerap berbisik, "Hei, memang begini rasanya jatuh cinta." Yah, lebih aman rasanya mendengar nasihat temanku karena diriku sendiri kadang ragu dengan perasaanku. Lagipula, aku takut dipandang terlalu percaya diri. Menakutkan memang, betapa lemahnya persepsi kita terhadap perasaan dan pikiran kita sendiri. 

Jadi, aku menjauh darimu, dan berharap perlahan-lahan bayanganmu akan semakin samar dan hilang. Aku tantang diriku untuk merasa biasa saja. Aku paksa diriku untuk percaya bahwa tidak ada apa-apa di antara kita. Aku hanya takut kehilangan logika. Kau tahu, logika adalah caraku bertahan untuk tetap waras selama mengalami hantaman-hantaman emosi yang luar biasa beberapa tahun belakangan. Aku tak mau kehilangan logika yang menjadi kekuatanku selama ini. 

Tidakkah kau lihat ironinya? Aku paksa diriku untuk biasa saja. Bukankah itu sebuah penyangkalan? Tidak, aku tidak merasa biasa saja. Aku memikirkanmu hampir setiap hari. Butuh kesibukan ekstra untuk membuatku mengalihkan fokusku dari khayalan babu yang sebagian besar berupa bayangan masa depan kita, yang kita lalui bersama.

Tapi, tentu saja, aku tak punya pilihan yang lebih aman selain berusaha biasa saja. Kau sudah menjadi milik orang lain. Aku bisa apa? Kadang-kadang aku ingin tertawa, betapa aku merasa takdir telah membuat lakon komedi parah dalam hidupku, dengan kita sebagai pemeran utamanya. Betapa perasaan yang begitu indah dan menghangatkan ternyata bisa menimbulkan luka yang mengerikan, hanya karena waktu yang tidak tepat. Seperti menyalakan api unggun dan tiba-tiba angin kencang membuat serpihan kayu yang menyala masuk ke bola matamu, membuatnya perih dan mengeluarkan air mata.

Tidak, aku tidak merasa biasa saja. Semakin sering aku menyangkalnya hanya membuatnya semakin merajalela. Seperti mencabut bulu kaki saja; mereka malah tumbuh lebih lebat, bahkan semakin cepat jika semakin sering dicabut. 

Jadi, kuputuskan untuk menerimanya saja. Menerima kondisiku yang membingungkan dan terkatung-katung. Menerima perasaanku yang tidak biasa saja. Menerima pikiran tentangmu yang kerap mengetuk kepalaku. Menerima bahwa sesungguhnya aku mencintaimu di waktu yang salah. Lalu memaafkan diriku karena toh perasaan ini tak akan muncul tanpa kekuasaan Tuhan. 

Maka aku maafkan diriku yang lemah, dan menerima bahwa perasaan ini mungkin adalah suatu ujian dari-Nya. Entah aku tak tahu apa mata kuliahnya. Mungkin tentang kesabaran? Aku masih berharap penantian diam-diam ini kelak berbuah manis. Atau mungkin lagi-lagi tentang merelakan? Jika memang begitu, aku berharap suatu hari Ia akan mempertemukanku dengan yang terbaik, setelah aku merelakanmu. Dan karena aku sendiri tidak tahu ini ujian tentang apa, kusimpulkan bahwa ini kemungkinan besar tentang penerimaan terhadap ketidakpastian.

Jadi, beginilah sekarang. Aku berjalan pelan-pelan di atas jembatan rapuh yang bergoyang. Menjaga perasaan dan pikiranku tetap dalam keseimbangan agar diriku tidak terpeleset dan terjatuh. Menjaga rasa cintaku agar tetap dalam kadar sedang-sedang saja, dengan selalu mengingat bahwa semua ini, termasuk perasaan yang kupendam ini, adalah milik Tuhan, jadi tak perlu rasanya kutelan semua bulat-bulat. Sembari aku menyeberang, aku akan tetap mencintaimu dengan cara yang paling santun yang bisa aku lakukan. Cukuplah kau merasakan bahwa bagiku kau lebih dari sekedar teman. Aku tak begitu peduli bagaimana akhirnya. Aku telah melepaskan semua ekspektasi. Aku hanya akan hidup untuk saat ini: membiarkan cintaku untukmu tetap menyala, tanpa membakar. 

Senin, 25 Januari 2016

Unspoken

I guess there was too little time and too little energy to explain. But some things are still going on my mind until this very minute. I had so much to say, honestly. But I didn't know why I can't just say it to you right away. I just smiled; that was not enough, but appropriate.

If you wanna know, just know that I loved you, even when I made that decision. That painful, but relieving in its own way, decision. That was one new thing I learned, to leave someone you still love because you don't wanna make any more damage to each other. All this time I thought I had enough love, strength, and patience to be with you, but I realized  that I was wrong. I was fragile and I refused to admit it. Now that I have tried to forgive myself, I don't have to make up my own flaws. I can't love you the right way, the way you deserve. You need someone better, and so do I. We don't have to face any more disappointment.

I know that you made mistakes too, you upset me when you said I didn't have enough patience. I hated those words because I gave all my effort to be a patient and strong woman for you only to hear that I wasn't enough, never enough. But. yes, I realized my weakness, I know you were right, even though  I didn't like the way you said it to me; it's like you never saw how I fought for you.

So, now, it's all crystal clear. I forced myself too hard in our relationship. I fell too hard and now I've lost all my strength. I might be selfish to leave you, but if I stayed, I would just hurt you as I'm too tired to love.

You have so many potentials and chances to grow. But unfortunately, not with me. Or, maybe, it's a fortune not to grow them with me. I thinks some space and time to rebuild ourselves again is the cure we need most now.

I never know whether I've made the right decision or not. Only time will tell. So, as we are heading on to our future and let the time slowly answer my -and maybe yours also- questions, we just need to grow, grow through grief and pain. Just grow and bloom. Let the best form of love come to us. And if one day we meet again, I hope to see you as a great man, even greater than you are right now.

Just...let go. Let go and be free.


Sabtu, 19 Desember 2015

Tentang Kehilangan, Sebuah Ladang, dan Perjalanan Baru

Aku pernah mendengar bahwa "kehilangan" akan membuat seseorang lebih dewasa.

Bagi diriku beberapa tahun lalu, hal ini masih menjadi sesuatu yang membingungkan. Bukankah lebih baik mencegah "kehilangan" itu dan membuktikan bahwa dirimu dewasa karena bisa mempertahankan sesuatu?
Bagi diriku beberapa tahun lalu, "kehilangan" adalah sebuah kata yang lebih baik dihindari. Siapa yang ingin kehilangan? Siapa yang membutuhkan kehilangan untuk menjadi lebih dewasa?

Diriku beberapa tahun lalu memang masih kekanak-kanakan.

Kini, usiaku 24 tahun dan hampir menjelang 25, dan aku baru mengerti benar apa itu "kehilangan". Bahkan "kehilangan" yang memang disengaja.

Begini ilustrasi singkatnya:

Sudah lima tahun lebih kau menanam dan menuai apa yang orang bilang cinta, dan proses itu bukannya main-main. Bisa dikatakan, kadang apa yang kau tanam dengan hati-hati ternyata tak berbuah manis. Apa yang kau tanam dengan sungguh-sungguh kadang tak jadi bunga yang mekar. Kadang-kadang. Bukannya aku menafikan ada saat-saat yang bisa kau sebut musim semi, di mana bunga-bunga bermekaran dan semuanya terasa terlahir kembali. Ada pula musim panas saat canda tawa mewarnai udara yang hangat dan langit yang cerah. Tapi aku bicara tentang kadang-kadang, dan hal ini mestilah berimbang dengan adanya musim gugur, saat semua bunga itu berguguran, dan musin dingin, saat matahari bahkan enggan bersinar dan hatimu diliputi kekosongan yang dingin.

Dalam lima tahun itu, musim-musim yang menyenangkan, menjemukan, dan menyedihkan silih berganti kau hadapi, agar ladang tumbuhan dan bebungaan yang kau tanam tetap terpelihara. Tapi sayangnya, pada suatu waktu, kau tertegun melihat betapa banyak luka-luka di tanganmu karena bercocok tanam dengan tanaman yang tak cocok dengan kapasitas dan ketekunanmu, yang malah membuatmu seluruh tubuhmu sakit dan melemah karena memaksakan diri. Kau akui bahwa kau tak sanggup lagi merawat ladangmu; dan akhirnya, begitu sederhana, kau menyerah.

Kau kehilangan semuanya. Harumnya bunga dan manisnya buah-buahan yang sempat kau petik. Dan kau juga kehilangan yang lainnya: rasa sakit karena duri-duri dan kelelahan yang menumpuk dalam merawat ladangmu. Akhirnya kau sadar bahwa semua itu impas.

Kau kehilangan, dengan penuh kesadaran. Kau sudah pertimbangkan baik buruknya meninggalkan ladang itu. Ladang yang selama ini sudah memberi kegembiraan sekaligus rasa sakit dan peluh yang bercucuran. Ada beberapa bekal yang kau ambil sebelum kau tinggalkan ladang itu, untuk mengingatkanmu akan apa yang sudah kau usahakan selama lima tahun tersebut. Bekal yang baik tentu saja; kau tidak perlu repot membawa duri dan semak untuk perjalananmu berikutnya, yang kau tak tahu kapan lamanya, sampai kau bisa membuka ladang baru lagi di tempat lain. Cukup kau ingat saja tanaman berduri apa yang patut kau waspadai agar lain kali kau lebih berhati-hati. Lain kali mungkin kau akan memilih ladang yang berada di medan yang lebih mudah, meskipun kau tahu pasti bahwa musim dingin dan musim gugur itu akan selalu datang. Ladang yang sebelumnya berada di medan yang curam. Angin kadang bertiup sangat kencang di tempat itu. Tidak semua orang bisa menanam di sana, kau pun akhirnya menyerah.
Tak apa-apa. Kau sudah berusaha.
________________________________________________________________________________

Aku yang sekarang sudah mengerti setidaknya, bahwa "kehilangan" bisa jadi sama dengan "kerelaan". Rela mengakui bahwa kau memang tidak bisa terus bertahan dan memberi dirimu kesempatan kedua untuk memulai awal yang baru. Mungkin inilah yang disebut dengan memaafkan dirimu sendiri. Mengizinkan kesalahan yang pernah ada menjadi pengingat namun bukan penghambat; dan membiarkan harapan menjadi penunjuk jalan dan penyemangat saat perjalanan kian sukar. Bukankah membuka ladang baru membutuhkan harapan alih-alih penyesalan?

Sabtu, 28 Februari 2015

Prokrastinasiku Kumat Lagi

Selamat datang di dunia kebut semalam.
Selamat datang di dunia beberapa jam menjelang deadline.
Selamat datang di dunia 'melakukan-apapun-untuk-menghindari-melakukan-hal-yang-tidak-disukai'.

Welcome, procrastination.

Selama kuliah, kebiasaan buruk ini benar-benar sulit saya kendalikan. Pernah sih dulu diterapi dengan pendekatan transpersonal...tapi ternyata, untuk saya, terapi itu sepertinya kurang cocok. Beberapa saat setelah terapi emmang efeknya luar biasa. Tapi lama-lama....prokrastinasi itu menyapa lagi. Teman lama yang berkunjung dan menawarkan kebahagiaan semu, sebuah fantasi liburan dari dunia laporan praktik dan tesis. Well, karena kemarin diterapi transpersonal, kayaknya saya jadi amat sangat menerima diri saya yang prokras ini. Saking menerimanya, saya jadi enggan berubah. Ah, entahlah, mungkin ini teori saya sendiri. Tapi yang jelas, hari-hari belakangan saya lalui hanya dengan makan-tidur-mengerjakan tugas teknik penulisan tesis yang juga dikerjakan dengan sistem menunda-minum-bernapas-hidup selo.

Ya, saya akui saya belum selesai dengan masalah prokrastinasi ini...dan self-esteem saya sebagai calon psikolog mulai menurun. Sisi baiknya, saya orang yang selalu percaya bahwa suatu ketika keadaan akan menjadi lebih baik. Jadi, mau prokras seperti apapun, saya pasti bisa menyelesaikan laporan dan tesis.


At least I've got hope, hahahaha.

Minggu, 21 Desember 2014

Own Love, Before You Give Love

Di suatu pagi, kelas Psikologi Positif.

Mahasiswa: "Bu, bisa ga kita memberikan cinta kepada orang lain meskipun kita ga mencintai diri kita sendiri?"
Dosen: (dengan santainya menjawab) "Tidak."
Mahasiswa tersebut agak mengernyitkan wajahnya. Aku mengamati dari tempat dudukku. Tampaknya ekspresinya adalah campuran antara tidak percaya dan kaget. Aku beralih melihat ekspresi dosenku. Wanita itu tersenyum kecil sambil mengangkat alis. Senyum yang khas. Aku selalu merasa beliau menyimpan sesuatu di balik senyum dan tawa cekikikan yang sering ia perdengarkan di depan para mahasiswanya. Setiap beliau tersenyum atau tertawa, aku selalu merasa senyuman atau tawa itu berarti sesuatu yang lebih dalam, seakan-akan ia menyimpan sebuah rahasia atau sebuah kebenaran hidup yang sangat berharga dan tidak ada orang lain yang tahu.

Ia kemudian mengambil beberapa spidol warna-warni di atas meja; ia menggenggam spidol-spidol tersebut dan memberikan mereka kepada seorang mahasiswa yang duduk di dekatnya. Ia berkata, "Coba kamu berikan ke orang di sampingmu."Mahasiswa itu dengan patuh memberikannya kepada mahasiswa lain yang duduk di sampingnya. Kemudian, sang dosen tersebut mengambil semua spidol yang dipegang oleh mahasiswa tersebut, lalu berkata, "Coba kamu kasih spidol ke orang di sampingmu." Sontak mahasiswa tersebut menjawab, "Lah ga bisa Bu, saya ga punya spidol."

Aku melihat ekspresi senyum yang penuh arti itu lagi-lagi membayangi wajah dosenku. Wanita itu berkata pelan dan dramatis, "Persis itu yang saya maksud."

Ia berjalan kembali ke depan kelas dengan santai. "Ketika kalian tidak punya cinta, kalian tidak akan bisa memberi orang lain cinta. Cinta yang kalian punya asalnya darimana? Bisa dari mana-mana, yang membuat kalian merasa dicintai. Ada orang yang mungkin ketika kita melihatnya kita berpikir ia tidak memiliki cinta dalam hidupnya, mungkin hidupnya terlalu mengerikan. Tapi bisa jadi ia bisa memberi cinta kepada orang lain. Kalau begitu, dia pasti memiliki cinta dalam dirinya sendiri. Pasti ada yang mencintainya dan membuatnya merasa dicintai. Entah darimana; mungkin dari sesuatu yang lebih besar darinya."

Kelas hening. Sepoi-sepoi suara hembusan angin buatan dari AC adalah satu-satunya suara yang kami dengar. Semuanya terhenyak ke dalam  pertanyaan besar:

Sudahkah kita memiliki cinta, sebelum berusaha memberikan cinta kepada orang lain?

Sudahkah kita merasa dicintai....termasuk oleh diri kita sendiri?

Selasa, 09 Desember 2014

Boleh Gagal is Such A Bliss

Baru-baru ini saya sedang membaca The Geography of Bliss dari Eric Weiner yang dipinjamkan pacar saya (thank you so much dear! you're such a great bliss to me :D). Buku yang menarik menurut saya. Sebuah kombinasi yang manis antara dokumentasi pribadi Eric Weiner yang berkeliling dunia untuk menemukan arti kebahagiaan, dan juga sisipan ilmu psikologi positif -hasil-hasil penelitian dan beberapa teori- yang kerap disertakan Eric dalam menjelaskan fenomena-fenomena yang ia temui.

Saya memang belum selesai membaca buku yang mengibur ini -yang membuat saya beberapa kali terpingkal sendiri di kamar dan merasa bahagia- tetapi ada satu bab tentang Islandia, negara kecil yang diselimuti es dan kegelapan, literally, di mana judul bab tersebut adalah: kebahagiaan adalah kegagalan. Bab tentang kebahagiaan ala Islandia ini banyak membuat saya merenung.

Berdasarkan percakapan Eric dan beberapa native Islandia yang ia temui, ada gambaran yang sangat menyenangkan di balik kelam dan dinginnya Islandia. Negara kecil tersebut penuh dengan seniman dan orang kreatif. Berganti pekerjaan ke bidang yang benar-benar berbeda dari pekerjaan sebelumnya bukan merupakan hal yang mustahil. Istilahnya, sekarang kamu bisa menjadi ilmuwan yang mempelajari kadar air dalam tanah dan bekerja di laboratorium, besoknya kamu mencoba berkarir di bidang industri kreatif sebagai penyair, lalu lusa kamu ingin bekerja di kantor pemerintahan. Setidaknya gambaran itulah yang saya dapatkan dari salah satu percakapan di buku tersebut.

Orang-orang di sana mencoba banyak hal. Mereka bebas menjadi apa yang mereka inginkan. Mereka bebas mencoba. Hal ini membuat mereka bahagia. Eric bahkan berkata bahwa teori "seniman itu tidak bahagia" tidak berlau di Islandia. Ia melihat banyak seniman yang bahagia, yang juga memelihara sedikit melankolia. Tapi bahagia.

Apa rahasianya?

Jawabannya sederhana, tapi menurut saya luar biasa.

Mereka yakin bahwa kegagalan adalah wajar. Seseorang tidak diharuskan untuk menjadi sukses dalam apa yang mereka lakukan. Seorang tokoh yang Eric wawancarai, seorang seniman, berkata bahwa jika seseorang tidak dibebani dengan keharusan untuk sukses, maka ia bisa bebas mencoba apa saja tanpa rasa takut. Sederhana.

Eric menulis bahwa di Islandia, gagal dalam rangka mencapai tujuan yang baik adalah hal yang baik. Ini yang mungkin orang-orang bilang "yang penting itu prosesnya" dan hal ini terwujud secara utuh, tanpa syarat. Kenapa saya bilang tanpa syarat? Karena bahkan kamu tidak perlu memastikan bahwa 'pada akhirnya' kamu akan sukses setelah serangkaian kegagalan itu. Di Islandia, kegagalan tidak perlu dipermanis dengan 'sukses pada akhirnya'. Sehari-hari, kita sering mendengar cerita inspiratif tentang seseorang yang gagal terus menerus, dalam bisnis misalnya, kemudian setelah usaha keras bertahun-tahun, melewati serangkaian episode kagagalan yang menyakitkan, akhirnya...sukses. Ya, kita -dengan menyakitkan saya katakan- akan bisa menoleransi kegagalan ketika akhirnya kita sukses. Kita punya harapan itu. Orang lain pun sama. Orang akan berpikir kita patut untuk dijadikan contoh, masuk koran atau apapun, ketika kita punya kisah kegagalan yang berahir kesuksesan. Kemudian, tentu bisa ditebak, dengan otomatis kita tidak akan bisa menerima kegagalan. Kita menjadi ambisius karena kita yakin pada akhirnya kita HARUS sukses. Kata Eric dalam bukunya, "kegagalan hanyalah menu pembuka."

Tidak begitu dengan Islandia.

Eric menulis bahwa di negara tersebut, kegagalan adalah menu utama. Menu utama, lho. Ini berarti, orang-orang memang tidak mengharuskan kesuksesan dalam mencoba apapun. Sounds pesimistic, eh? Menurut saya tidak. Ini adalah bentuk kebebasan yang membahagiakan. Toh, menu penutupnya juga belum tentu kegagalan, kan? Jadi ada harapan di ujung sana tentang kemungkinan sukses. Lagipula, coba kamu pikir, siapa yang mengharuskan kamu untuk sukses? Tidak ada. Oh, orangtua mungkin. Atau guru. Atau siapapun yang punya ekspektasi pada dirimu, yang akhirya pandangan dari mereka kamu internalisasi ke dalam dirimu. Tapi bukan kamu, kan? Saya jadi ingat perkataan dosen saya di kelas: Manusia terlahir bebas. Dalam beberapa hal, saya yakin ada batasannya, seperti misalnya ada kewajiban dalam agama yang harus kamu penuhi. Tapi di luar itu, kamu bisa memilih kamu mau jadi apa dan bagaimana. Kalau ada tuntutan, coba tanya lagi pada dirimu sendiri: Siapa yang menuntut? Suara siapa itu?

Dulu, saya adalah orang yang memuja kesuksesan. Saya takut gagal, jujur saja. Dalam kuliah, dalam hal apapun yang bisa dinilai. Saya membuat segala sesuatu di mata saya menjadi sebuah kompetisi. Akibatnya buruk. Harga diri saya mudah hancur ketika saya tidak mencapai 'kesuksesan' dalam standar saya, atau mungkin standar orang lain juga. Ketika saya bangkit untuk kembali berusaha, ambisilah yang menggerakkan saya. Pada akhirnya, memang, saya berhasil. Lalu tepat setelah itu saya kelelahan.

Bebas untuk mencoba tanpa takut gagal. Kedengarannya sangat surgawi bagi saya. Saya membayangkan saya berada di Islandia, betapa bahagianya saya mungkin. Yah...tapi toh itu juga cuma impian saya. Saya masih harus struggling di sebuah lingkungan yang membatasi saya untuk bebas mencoba tanpa takut gagal. Maklum, negara berkembang. Sebuah impian harus dijamin untuk menjadi nyata, karena modal untuk menggapai impian itu mahal sekali di sini. Coba-coba apa saja tanpa ada jaminan kamu sukses di bidang itu, bisa membuatmu bangkrut. Kalau di negara makmur, hidup mereka sudah ditanggung negara. Tidak ada rasa khawatir, bebas mencoba, tidak takut gagal. Coba bandingkan situasinya di sini, di mana seorang anak sudah didoktrin untuk "belajar rajin ya, biar nanti jadi orang sukses." Well, ini sebenarnya sudah salah satu bentuk cinta yang kondisional. Sukses =  hebat.

Saya membayangkan, suatu saat nanti,  ketika saya punya anak, saya akan mengizinkannya mencoba hal-hal yang ia minati. Kamu tidak perlu takut gagal, Nak. Teruslah berjalan ke depan, jangan terlalu sibuk lihat kiri-kanan takut kalau-kalau ada lubang kegagalan. Karena kalau kamu gagal pun, tetap ada tangan terbuka yang akan menerimamu tanpa syarat. Aseeeekkk....

Begitulah sekelumit renungan saya dari buku yang bahkan belum selesai saya baca. Haha. Cukup sekian dan terima kasih.

*langsung ngelanjutin The Geography of Bliss* 


Minggu, 14 September 2014

Teruslah Berjalan (Masa Bodoh dengan Apa yang Menantimu Di Depan)

Aku menatap layar laptop dan air mataku meleleh seketika. Sudah beberapa hari ini mataku seperti kantong penyimpan air dan dengan mudah bocor ketika aku harus melihat layar laptop. Aku tidak bisa melakukannya. Aku benci menulis semua laporan dan aku rasa laporan-laporan itu juga sama membenciku. Aku telah menghabiskan berhari-hari bahkan berminggu-minggu sebelumnya mencoba melarikan diri dari tugas yang menghantui ini.

Tapi sekarang sudah tidak ada lorong kecil yang bisa kugunakan untuk keluar hidup-hidup tanpa laporan. Mau tidak mau aku harus mengerjakannya saat ini karena besok aku harus mempresentasikan 5 kasus yang sudah aku tangani. Tapi aku malas, amat sangat malas sampai-sampai aku tidak tahu lagi apa ada padanan kata malas yang bisa menggambarkan betapa malasnya aku saat harus mengerjakan laporan.

Ah, kenapa semua terasa begitu sulit? Aku merutuki nasibku, bertanya-tanya apa yang bisa membuatku bertahan sampai sejauh ini. Terbersit pula keinginan untuk keluar dan meninggalkan semua usaha yang telah kulakukan kurang lebih setahun ini. Persetan dengan uang SPP yang telah aku dan orangtuaku bayarkan. Jika terus melanjutkan hal bodoh ini, akan lebih banyak uang yang keluar bukan? Entahlah, apakah ini adalah kelemahan, atau sebuah kekuatan, karena sekarang aku dengan jujur dapat mengatakan kepada diriku sendiri: Aku tidak mampu. Aku tidak kuat. Dan aku tidak tahu bagaimana harus melewati semua ini.

Susah untuk tidak membenci setiap aspek dalam hidup ketika roda sedang berada di bawah. Jika jiwaku adalah roda itu, ia sekarang tidak hanya berada di bawah, namun juga bocor dan berat untuk dibawa berjalan. Jiwa yang tak bisa memutar dirinya sendiri dan membutuhkan tangan untuk menambalnya.

Aku sadari semua kesulitan ini sedikit banyak berasal dari dalam diriku. Diriku yang belum selesai dengan masalahnya sendiri, sehingga terlalu lelah ketika harus mengatasi masalah orang lain. Diriku yang belum benar-benar pulih dari prokrastinasi yang ia lakukan sebagai wujud sikap pasif-agresif terhadap perintah yang tidak ia sukai (salah satu perintah itu adalah menulis laporan). Diriku yang lalai memproses dirinya sementara ia tahu ada beban emosi yang masih ia simpan terhadap ibunya, dan belum berhasil ia keluarkan dalam beberapa sesi humanistik dengan teman sekelasnya sebagai terapis.

Mataku terasa berat. Beban di pundakku rasanya tak tertanggung lagi. Aku ingin istirahat dari semua ini. Mungkin keadaan koma adalah istirahat terbaik yang aku butuhkan sekarang. Sakit yang cukup parah, sampai aku punya alasan yang lebih hebat daripada sekedar rengekan malas dan sentimental. Sialnya aku tahu bahwa pikiranku ini adalah distorsi kognisi dan tidak menyelesaikan apa-apa. Hhhh, salah satu sisi negatif dari belajar Psikologi adalah kau jadi lebih peka terhadap apa saja yang terjadi dalam dirimu. Ego defense mechanism apa yang kau gunakan, distorsi kognisi apa yang sedang bermain dalam pikiranmu, beban apa yang kau miliki dan belum teratasi. Dengan kata lain: kau tak bisa lagi bersembunyi dari dirimu sendiri. Ya, aku tak bisa lagi bersembunyi dari diriku sendiri.

Aku tak bisa bersembunyi dari diriku yang harus menyelesaikan 5 laporan ini. Dalam waktu semalam. Sambil masih tetap menangis, aku mengirim pesan singkat ke ibuku. Aku jarang mengeluh, dekat pun tidak, pada ibuku. Well, pada kedua orangtuaku sebenarnya. Tapi malam itu aku rasa aku butuh untuk mencurahkan sedikit saja dari kelelahan yang menghantamku tanpa ampun. Aku katakan bahwa kerja praktik ini begitu sulit, bahwa aku takut aku tidak akan lulus ujian psikolog. Aku malas mengerjakan laporan.

Send.

Beberapa menit kemudian  handphoneku berbunyi. Suara ayah terdengar dari ujung timur Indonesia. Ayah ternyata hanya jadi perantara saja karena setelah itu ia berkata, "Ibu mau ngomong," dan akhirnya suara ibuku terdengar di telinga kananku.

Tugasnya susah?
Ya begitulah. Puskesmasku sepi. Aku harus berusaha keras mencari klien yang bisa aku tangani. Jamku tidak memenuhi target. Aku ditinggal psikolog supervisorku cuti selama 2 minggu. Kasusnya susah. Laporan belum aku kerjakan. Besok laporan harus dikumpulkan.

Susah payah aku menahan isak agar suaraku tidak terdengar seakan aku habis menangis. Entah kenapa sulit sekali rasanya menangis di depan (di depan? ini bahkan hanya lewat telepon) ibuku. Aku tetap ingin terdengar menguasai diri.

Setelah sekitar 10 menit, ibuku memberi wejangan. Aku mengiyakan. Sambungan diputus. Dan perasaanku sudah lebih tenang. Untuk pertama kalinya, malam itu, aku sadar bahwa aku benar-benar membutuhkan sosok ibu. Kenyataan yang selama ini mungkin kunafikan, dan selama ini aku percaya bahwa hubunganku dengan ibu hanya sebatas hubungan finansial dan teknis, namun miskin secara emosional.

Aku telah menurunkan sedikit ego untuk memberi tahu ibu tentang kerapuhanku. That's enough. Aku sudah berproses. Proses yang harusnya aku lakukan sejak sebelum kerja praktik, karena dosenku selalu mewanti-wanti tiap mahasiswa untuk menyelesaikan masalah dan urusan mereka sebelum terjun ke lapangan. Aku tidak menduga seperih ini rasanya ketika kau memiliki unfinished business saat kerja praktik. Rasanya seakan-akan semua tenagamu tersedot habis karena sebenarnya kau hanya memiliki separo dari tenagamu; sisanya masih berpusar pada masalah yang belum kau selesaikan berhari-hari, berbulan-bulan, berminggu-minggu, bertahun-tahun yang lalu.

Mataku sembab, tapi aku tak bisa lari. Aku mulai mengetik dan mengetik, entah bagaimana jadinya. Teman-teman sekelompokku yang besok harus mengumpulkan laporan juga bernasib sama. Aku tidak sendirian. Aku terus mengetik dan mengetik, masa bodoh dengan hasilnya...

Aku rasa hidup ini pun sama. Kita akan terus berjalan dan berjalan, masa bodoh dengan apa yang menanti kita di depan. And knowing that, in that long journey, you are loved and you can love, is the best feeling ever...

Minggu, 23 Maret 2014

Time Flies

Rasanya belum lama ketika, aku ingat sekali, aku turun naik gedung G lantai 2 dan UKP, sambil membawa berkas pendaftaran S2 dalam dekapan. Rasanya juga belum terlalu lama ketika, pada pagi yang agak kelabu itu, aku mempresentasikan skripsi di depan 3 orang dosen dan kemudian dibombardir dengan berbagai pertanyaan -- yang akhirnya membuatku berhak menerima selembar kertas yang menegaskan tamatnya langkahku di S1.

Time flies.

Sekarang, di atas tempat tidurku yang dipenuhi berbagai buku kuliah S2 -baik yang memang aku baca ataupun yang sekedar aku miliki hanya untuk mendapatkan rasa aman- aku mulai berefleksi tentang proses-proses yang sudah mengantarkanku sampai ke detik ini. Ya, aku lebih sering berefleksi sekarang setelah dijejali berbagai macam perspektif timbulnya gangguan dan masalah pada manusia. Setelah dibawa ke dalam perjalanan transpersonal dan bertemu dengan bagian-bagian diriku yang lain, yang menghambat maupun yang mendukungku untuk maju. Setelah proses membuka diri yang rasanya sakit tapi melegakan.

Aku baru benar-benar belajar sekarang.

Belajar bahwa untuk menjadi kuat kau harus mengakui kelemahanmu dan menerimanya sebagai bagian dari dirimu.

Belajar bahwa kau tidak harus selalu sempurna.

Belajar bahwa hal-hal kecil yang kau lakukan pada orang lain dapat menimbulkan pengaruh yang signifikan, baik secara positif atau pun negatif, sehingga kau lebih menghargai perasaan orang lain; that everybody has his own scars.

Belajar bahwa cara terbaik untuk belajar adalah mengakui kekuranganmu dan mengosongkan kepala dan dadamu dari segala bentuk kesombongan; bahwa dengan mengakui kekurangan, kebingunganm dan kebodohanmu, sebenarnya kau telah membuka pintu ilmu pengetahuan yang sangat lebar ke dalam dirimu.
 
Belajar bahwa masih banyak, sangat banyak, alasan untuk bersyukur ketika kau menyadari bahwa orang-orang di sekelilingmu yang kau pikir mungkin sempurna dan bebas-masalah, ternyata memiliki beban yang lebih berat daripada yang kau duga.

Belajar untuk tetap tenang melalui segala bentuk perubahan yang mendadak dan tiba-tiba, serta situasi ekstrim yang tidak pernah kau bayangkan akan terjadi; misalnya ujian praktik jam 10 malam (dan lagi-lagi kau semestinya sujud syukur melihat teman-teman yang dapat jadwal jam 1 pagi).

 Belajar untuk mendengarkan, dengan hati.

Belajar bahwa sebelum menghadapi orang lain, kau harus berani menghadapi dirimu sendiri.

Belajar untuk tetap tenang dalam situasi sempit, seperti hasil tes dan pemeriksaan psikologis yang belum jadi sementara deadline tinggal 2 jam.

Belajar bahwa terkadang kau tidak bisa mendapatkan segala hal dalam waktu yang bersamaan; jika tugasmu belum selesai dan ada kuliah pagi, kau bisa bolos (entahlah, aku kurang yakin bagian ini bisa kau jadikan teladan yang baik atau sebaliknya).

Belajar bahwa semakin sering kau berhadapan dengan rasa sakitmu, melihatnya, mengakuinya, menerimanya....maka lama kelamaan kau akan merasa luka itu tidaklah sakit. Ketika kau diminta menjadi klien untuk pembelajaran kelas dan harus bercerita di depan sekitar belasan orang; ketika kau melihat kasusmu sendiri, lukamu sendiri, sisi gelapmu, dipresentasikan di depan kelas dan dianalisis bersama oleh dosen dan teman-temanmu....dan pada akhirnya kau sendiri bisa menertawakan dirimu.

Belajar untuk memaafkan orang-orang yang pernah berbuat salah kepadamu; karena mereka mungkin memilliki masalah yang juga mereka tanggung --dan tentunya karena tidak semua orang belajar Psikologi.

Dan mungkin...yang paling penting: belajar untuk melakukan segala sesuatu dengan cinta. Termasuk mengerjakan belasan laporan pemeriksaan psikologis, rancangan intervensi, dan review jurnal yang ketika kau kumpulkan ke dosen kau sudah pasrah apakah akan benar-benar dibaca atau tidak. Kalaupun kau belum bisa mencintai, lakukan saja; siapa tahu cinta itu akan muncul karena terbiasa.

Time flies.

Aku bahkan tidak sadar bahwa sekarang sudah hampir pukul 1 dini hari. Aku harap waktu dan Sang Pemiliknya tidak mengutukku karena aku melanggar jam malam bagi tubuhku sendiri. Entah kenapa aku juga tidak begitu mengantuk.

Tapi, untuk menutup, aku hanya akan menuliskan dua patah kata: Selamat malam.


Senin, 03 Februari 2014

Pekat

Nafas pekat itu berhenti sejenak
Sebelum racunnya menyentuh benak
dan air mata yang bitam kelam itu mengalir, mengandung tuak
Membuat muak

Pikirmu kau bisa berkelit lincah
Lidah-lidah berbisa yang berucap resah
Mengikat membelit segala yang kau inginkan musnah
Hanya karena tak sanggup menahan angan yang buncah

Pikirmu kau seniman ulung
Topeng-topengmu sandiwara bak pemulung
Mengais cinta untuk jiwa yang bingung
dalam ketakutan tanpa ujung

Tapi hatiku sudah bertapa
Ia melihat isyarat tak kasat mata
Sebelum nafas pekat dan air mata kelam itu kau buat senjata
Batinku siaga berjaga-jaga.


Yogyakarta, 2 Februari 2014

di atas kasur yang empuk, seempuk bualan seorang teman yang minta belas kasihan.


Jumat, 11 Oktober 2013

Thank You, Silence.

Many days we have passed without talks and chit-chats. These 3 days are just like those silent days. But now I choose to make the benefit out of it. No more crying and apologizing. No more pain and regrets. No more feeling alone and lonely. No more feelings like we cannot live without each other.

No more.

Now I'm feeling so light. Now I can taste the peace. Now I feel contempt with my own self. I am alone, but I'm not feeling alone. I am not lonely. I can feel the songs of silence. A pure melody that I've never heard before. I can hear the wind blows. I can see the sun shining bright. I can feel the warmth. I can feel my life now. I am awake.

Maybe we just need our time away. Maybe this silence is the best way to find again what we want. What we need. Maybe this is the time to think back, clearly, who we are, why we are together. To find ourselves again. Before we've gone too far and lost too deep in the labyrinth.

I don't know how long it takes until we finally talk again; whether we have to wait, or to start over. But I just want to say one thing: In this silence, I know who I am.
I hope you do the same way too.


Senin, 23 September 2013

Tidurku Tak Nyenyak Nanti Malam

Kadang samar, kadang jelas
Tidurku kini tak bisa pulas
Kepalaku beralas keraguan yang menganga jelas

Bias-bias senyum yang punya makna ganda:
entahkah nyata atau fatamorgana
Pemiliknya tak kunjung jelaskan kenapa
Membuat hati bertanya tanpa jeda

Kadang binar, kadang muram
Mata yang lembut bagai senja temaram
Buatku merasa: tidurku tak 'kan nyenyak nanti malam.

Yogyakarta, 23 September 2013

Senin, 22 Juli 2013

Ikhlas (?)

Don't wanna talk much here. Just wondering why dulu pernah denger beberapa orang berkata -kurang lebih- seperti ini:

"Sudah, gapapa...saya ikhlas kok."

"Bukannya mau menyombong, tapi saya ikhlas loh...dan alhamdulillah Allah memberikan yang berlipat ganda..."

Dari saya kecil sampai sekarang, sudah beberapa kali saya mendengar kalimat ini terucap. Dan dari kecil sampai sekarang, rasa heran saya tidak pernah berubah: Bagaimana bisa mereka mengatakan mereka ikhlas jika mereka memang ikhlas?

Bukankah ikhlas itu hanya Allah yang bisa menilai? Maka siapa kamu sok2 bilang "saya ikhlas"? Saya tidak peduli bahwa beberapa orang yang saya dengar mengucapkan kalimat ini adalah orang yang sudah berumur dan makan asam garam kehiduan, bagi saya....it just doesn't sound right. It sounds weird.

Saya rasa, berbahaya sekali ketika manusia berani mengatakan bahwa mereka ikhlas. Saya memang ga alim2 banget, tapi menurut saya ikhlas itu adalah kata yang sangat...sangat sakral mungkin. Ya....karena hanya Allah yang bisa menilai. Dan saya sendiri merasa manusia punya hati yang terlalu kotor untuk menilai perbuatan yang begitu murni. Apalagi menilai dirinya sendiri....narsistik.

Hhhh....bergembiralah mereka yang selalu meragukan dan mempertanyakan perbuatan yang mereka lakukan berlandaskan keikhlasan atau tidak. Bergembiralah mereka yang selalu takut jikalau mereka tidak ikhlas melakukan sesuatu, alih2 dengan pede berkata: "Saya ikhlas".

Minggu, 23 Juni 2013

BBM....Boring.

Tidak biasanya saya menulis soal kebijakan politik. Tapi karena jengah setiap hari melihat TV, Fesbuk, bahkan Twitter dipenuhi berita tentang BBM (yang sekarang sepertinya merupakan kepanjangan dari Bahan Bakar Masalah, karena perdebatan apapun tentangnya kerap berujung menjadi masalah) yang sekarang naik....berapa? 2000 rupiah? Oke.

Masyarakat terpolarisasi: kubu pro dan kubu kontra. Kata yang pro "gapapa lah, subsidi kemarin malah jatuh ke segelintir orang; orang-orang kaya," lalu "hutang kita sudah banyak, BBM harus dinaikkan" ada juga yang menyerimpetkan hal ini dengan masalah lain seperti "beli rokok aja kuat bung, masa beli bensin ga kuat" atau "beli kendaraan maha aja kuat, masa masih pakai premium, ga rela kalo dinaikkan" bla, bla, bla. Kubu kontra bilang, "oke, kalau sekarang kita harus membayar sendiri subsidi yang kemarin diberikan, semoga uang yang kita bayarkan jatuh ke tangan yang tepat, jangan disalahgunakan lagi. apalagi harga-harga pada naik juga." bla bla bla. Ya, saya dengan harga burjo pun mengikuti kurs minyak dunia dan melonjak seiring naiknya BBM sekarang ini.

Tahu apa yang ada dalam otak saya?

Saya muak dengan segala macam perdebatan, diskusi, dan analisis-analisis baik ilmiah maupun tidak ilmiah, pendapat berkelas maupun ngawur. Bukan muak juga sih, "muak" is a strong word, too strong buat orang yang kurang kritis seperti saya. Bosan, lebih tepatnya. Bosan juga dengan demo-demo bakar ban yang tidak ramah lingkungan dan bikin emosi saking stupid-nya.

Bagi saya, apapun kebijakannya, selama orang-orang masih berwatak curang, culas, kikir, suka korupsi, baik di tingkat rendahan maupun di tingkat atas.....tidak akan ada kebijakan yang bijak.

BBM disubsidi, dinaikkan, diturunkan, dikali, dibagi, dikuadratkan, bla bla bla....jika masih ada pihak yang korup (baik dalam Pemerintahan maupun dari kalangan rakyat sendiri) semua akan berakhir petaka.

Saya mungkin apatis. Tidak pro maupun kontra. Saya hanya bebal semua perdebatan tak berujung, strategi politik yang entah menguntungkan atau merugikan siapa. Bebal dengan demo-demo bakar ban, yang mungkin dilakukan oleh mahasiswa yang kalo di kelas ga tau apa-apa jadinya bakatnya ya bakar ban itu. Saya bersyukur masih ada mahasiswa yang santun menyuarakan pendapatnya.

Ah, yasudahlah. Kesannya kok jadi sewot sekali. Padahal ya saya masih mampu2 aja, fine2 kalo harga2 naik. Bahkan saya berniat untuk ganti Pertamax mulai sekarang. Saya cuma berdoa semoga kebijakan-kebijakan ini dibuat oleh orang-orang yang berakhlak baik dan Tuhan meridhoinya; bukan sebaliknya. Saya khawatir kalau yang terjadi malah sebaliknya.

Selamat hari Minggu. Selamat ganti Pertamax bagi yang tidak setuju Premium naik (kalo dihitung-hitung kayaknya lebih menguntungkan kalau sekalian ganti Pertamax) dan bagi yang setuju, Selamat juga karena akhirnya BBM dinaikkan, kalian pasti senang. Dan bagi yang mungkin kayak saya, golongan yang-sudah-terlalu-malas-untuk-memihak, jalani aja kebijakan baru ini dengan wajah tenang. Keep Calm and Enjoy Your Day. Akhir kata, semoga Tuhan melindungi bangsa ini dari orang-orang yang bahkan tidak adil sejak dalam pikiran.

Well, ternyata saya masih bisa mendoakan bangsa ini. Ternyata saya tidak apatis2 amat :)

Kamis, 20 Juni 2013

Catatan Kecil Kala Kucing Tertidur Di Sampingku


Kadang-kadang aku berpikir betapa hewan peliharaan mempunyai cinta yang begitu tulus kepada majikannya. Aku punya dua ekor kucing yang sangat kusayangi, namun kerap aku harus menyabet mereka dengan kain agar berhenti menyobek-nyobek sofa kesayangan orang tuaku. Tapi, tetap saja, di malam hari salah satu dari mereka -atau bahkan keduanya- akan naik ke tempat tidurku, berbaring melingkar sambil bersandar di perutku, dadaku, dan kadang-kadang juga di belakang punggungku. Hewan yang kita anggap bodoh, namun karena kebodohan itu mereka pun tidak mengingat-ingat kejahatan yang kita lakukan pada mereka. Saat kita mengulurkan tangan membelai kepala mereka, kesalahan kita termaafkan. Begitu kita menyajikan sepiring ikan di depan mereka, mereka akan tetap memakannya tanpa merasa jijik. Entah apakah itu karena mereka tidak punya harga diri –mau saja disuap dengan belaian atau makanan- atau karena mereka pemaaf? Manusia yang punya harga diri lebih tinggi kadang tak bisa menerima perbuatan baik orang lain yang telah melukai mereka. Apakah memang harga diri manusia lebih tinggi? Atau malah terlalu angkuh?

Rabu, 19 Juni 2013

Surat Keterangan Sehat

Karena saya pengen nulis tapi bingung apa yang mau ditulis, jadinya saya sembarang nulis aja.

Ceritanya hari Sabtu lalu saya melipir ke puskesmas kecamatan yang ada di dekat rumah saya. Kurang lebih jam 10.30 saya berangkat dari rumah. Sekitar 5 menit kemudian, saya udah di parkiran puskesmas. Melenggang masuk dengan santai, hati saya tidak segontai langkah saya yang lebar-lebar. Ciut juga rasanya melihat antrian bapak-ibu-balita-lansia di ruang tunggu. Saya mendatangi loket dan bertanya kepada perawat yang ada, "Mbak, kalau mau minta surat keterangan sehat gimana ya...?" Tanpa memandang saya, perawat itu langsung menjawab sekenanya, "Pendaftarannya udah tutup Mba, jam 10 tadi." Saya menoleh ke tempat registrasi dan...ya, saya baru lihat. Tulisannya TUTUP. Duh, kok bisa-bisanya saya lupa kalau hari Sabtu itu jam pelayanan puskesmas lebih singkat dari hari biasa.

Oke deh, saya akhirnya bermotor lagi, tapi entah kenapa saya malas pulang ke rumah. Saya pun dengan sangat impulsif mendatangi rumah sakit swasta yang juga terletak di dekat rumah saya. Siapa tahu bisa minta surat di sana, pikir saya. Lagipula, saya juga ingin tahu bagaimana sih rumah sakit itu. Saya biasanya lewat di depan rumah sakit tersebut dan melihat halamannya yang nyaman, dengan dua kursi taman model klasik yang ditempatkan di bawah pohon mungil. Penasaran, saya jambangi saja rumah sakit itu. Syukur-syukur bisa dapat surat juga.

Lobby sepi. Di kursi penunggu, hanya ada seorang lelaki paruh baya yang saya duga tengah menunggu salah satu keluarganya, mungkin anak atau istri, berobat. Tidak ada karyawan berseragam. Tapi ada seorang wanita yang duduk di depan loket registrasi sambil menggendong bayinya. "Ada yang bisa dibantu, Mba?" tanyanya. Saya bilang saja mau minta surat keterangan sehat. Kata wanita itu saya harus daftar dulu. Begitulah kemudian saya mengisi form pendaftaran dan menunggu sambil melihat acara yang diputar di televisi di ruang tunggu.

Tidak lama kemudian, seorang perawat berwajah ramah memanggil saya dan membawa saya ke ruang periksa. Dia sempat menanyakan,"Minta surat sehat buat apa Mba?" Saya jawab langsung, "Pendaftaran S2 Mba." Kemudian berbincang sedikit tentang kuliah S1 saya sebelumnya. Lalu mulai pemeriksaan pertama: berat badan. Saya naik ke timbangan. 40 kg. "Ya ampun, kecilnya," kata si perawat itu agak kaget. Saya cuma terkekeh. Seterusnya saya disuruh duduk di atas tempat tidur berwarna hijau. Perawat itu memeriksa tekanan darah saya. Saya tahu pasti ada yang aneh dengan tekanan darah saya ketika melihat ekspresi perawat itu. Mengerutkan kening dan mengulangi pemeriksaan sekali lagi. Dua kali lengan saya dililit dan ditekan-tekan dengan alat yang saya lupa namanya itu. "Rendah ya, Mba? Cuma 100/70" katanya. "Oh, memang rendah kayaknya," sahut saya, "sering pusing kalo bangun tidur." "Mau saya tulis normal atau rendah nih?" tanyanya. Sambil tertawa saya menjawab, "Tulis rendah aja gapapa Mba, yang penting masih bisa berfungsi baik dan sehat." "Sering-sering minum air putih ya," katanya. Saya memang jarang minum air putih. Oke, akan saya coba.

Selanjutnya, bertemu dengan dokter. Ternyata dokternya masih muda sekali, sepertinya belum ada 27 tahun. Perawat memberitahukan hasil pemeriksaan tadi. Dokter bertanya, "Tinggi badan?" "155" jawab saya. Lalu saya minta juga sekalian tes buta warna. Dokter itu keluar lagi mengambil alat tes buta warna: Tes Ishihara. Setelah mengetes saya kurang lebih 5 menit, dokter menulis lembar surat keterangan sehat dan...selesai. Saya keluar lagi menunggu surat untuk saya yang sudah jadi.

Begitu nama saya dipanggil di loket pembayaran, saya diberikan kartu pasien dan juga surat keterangan sehat. Selain itu ada rincian pelayanan. Pemeriksaan medis 35.000. Administrasi 15.000. Total 50.000. Padahal kalo di puskesmas cuma 8.000 doang. Ah, yasudahlah. Hitung2 pengalaman juga.

Setelah membayar, saya pulang (ga pulang dink, habis itu saya ke bengkel nyervis motor) dengan tas berisi bukti pembayaran dan sehelai kecil Surat Keterangan Sehat dan Tidak Buta Warna seharga 50.000.....

Senin, 10 Juni 2013

Selera

Kadang masih bingung kenapa ada orang yang disebut punya selera yang tinggi dan selera yang rendah. Apakah selera punya alat ukur tersendiri yang valid dan reliabel? Apa ada "Skala Selera" begitu? Apa ada "Skala Selera Humor", "Skala Selera Berpakaian", atau bahkan "Skala Selera Musik"?

Bukan hanya itu. Sebenarnya apa saja sih aspek-aspek dari selera humor, fashion, musik, dll itu? Kalau mau mengukur suatu variabel. kita pasti harus tahu kan aspek atau indikator apa saja yang ada dalam variabel tersebut?

Bagi saya sih, selera bukan stratifikasi, tapi lebih sebagai diferensiasi. Selera orang berbeda-beda. "Selera tidak dapat diperdebatkan" adalah satu hal yang saya pelajari di mata kuliah Filsafat Umum waktu semester 1 dulu (dan satu-satunya materi yang nyantol di otak saya). Jadi ga perlu ya sepertinya mengukur selera seseorang tinggi atau rendah.

Sepertinya akan lebih tepat jika selera itu dideskripsikan, bukan diukur. Misalnya: "selera humornya cerdas"". Bisa juga "selera musiknya lembut". Mungkin juga bisa kita bilang "selera berpakaiannya unik, seksi, dll".

Ah, trus ngapain juga saya memperdebatkan pengertian "selera" ini?

Selamat menunaikan selera masing-masing :)

Jumat, 31 Mei 2013

'Cause Everybody's Changing...


"Semua hal berubah, kecuali perubahan itu sendiri."


Ya, itu benar.
Kita semua berubah, bahkan yang paling konsisten dari kita pun pasti pernah berubah walau tidak signifikan. Kalau kata Dumbledore, bahkan orang yang paling bijaksana pun terkadang perlu menarik kembali perkataannya. Perubahan adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari.

Saya pun begitu.

Kadang-kadang, saya membongkar lemari meja belajar ketika bersih-bersih, dan menemukan diary lama ketika SD, SMP, SMA. Menemukan hasil tes IQ waktu SMP dan SMA. Menemukan kliping-kliping artis idola saya. Lalu saya tersenyum-senyum sendiri.

Betapa saya berubah begitu banyak.

Waktu saya membaca kembali diary ketika SD, ada terbesit sedikit rasa sedih ketika membacanya (tampaknya dulu saya bukan seorang anak yang bahagia; cenderung penyendiri dan kaku, pemurung dan merasa bersalah) namun di sisi lain ada rasa bahagia ketika melihat diri saya sekarang, yang sudah jauh lebih bahagia :)

Begitu juga waktu saya membaca diary SMP dan SMA. Well, harus saya akui, waktu SMP, saya punya pemikiran yang rumit untuk anak seusia saya waktu itu, idealis, anti-mainstream, kaku (yang membuat saya sempat mengalami masa-masa bullying) dan....konsep diri yang buruk. Things got better ketika SMA. Saya sudah menjadi seorang gadis yang sedikit lebih fleksibel, mau membuka diri, dan jauh lebih supel daripada sebelumnya. Perjalanan saya menuju aktualisasi diri baru saja dimulai. Pemikiran-pemikiran saya tentang kehidupan jauh lebih dewasa dan bijaksana, lebih dalam, dan lebih positif. Tapi memang sih, di balik semua perubahan itu, saya masih seorang yang introvert. Hanya saja lebih bisa membawa diri di situasi sosial. Saya ketika SMA adalah seorang gadis yang jauh lebih hangat daripada saya waktu SMP.

Bahkan, hasil tes IQ pun berubah.

Saya melihat IQ saya waktu SMP: 113. Lalu saya bandingkan dengan IQ waktu SMA: 121. Tampaknya saya lebih pintar ketika SMA daripada ketika SMP -.-

Tapi saya tidak tahu IQ saya sekarang berapa. Semoga saja bisa melampaui batas standar tes masuk S2; itu yang utama.

Abova all, walaupun saya berubah, selalu, saya tetaplah saya. Karena manusia berubah. Berubah bukan berarti menjadi orang lain; kamu ya tetap kamu, tapi kamu yang berbeda. Segala aksi yang kamu lakukan tetap dalam kuasa rasio dan emosimu; pikiran dan perasaanmu tetaplah milikmu. Terlalu naif rasanya jika menghakimi perubahan yang mutlak adanya. Hmm...asalkan agama dan keyakinan terhadap Tuhan tidak berubah.

Saya rasa, kata-kata dari novelis Neil Gaiman yang saya kutip dari novelnya yang baru saya baca, The Graveyard Book (novel keren, wajib baca!) ini bisa mejadi penutup buat posting ini:


“You're always you, and that don't change, and you're always changing, and there's nothing you can do about it.”



Minggu, 26 Mei 2013

Finally! :D

Aaaaahhhhh.....sudah lama sekali tidak membuka kotak penyimpanan yang sudah hampir usang ini! :D
Saatnya mengaktifkan kembali sistem-menulis-blog di otak saya. Saya bisa membayangkan bagian otak yang saya gunakan ketika menulis blog mulai berkedap-kedip dengan aktif.

Oke, dimulai dengan kalimat ini:

Resolusi yang saya tulis kemarin akhirnya menjadi kenyataan :D

Kalau belum tahu resolusi yang mana, yaitu resolusi yang saya tulis di beberapa postingan sebelumnya, yang berjudul S(u)atu Resolusi. Lupa? Tinggal scroll-down saja laman blog ini (ra penting).

Finally, skripsi saya sudah selesai. Perjuangan bolak-balik rumah sakit jiwa dan berkelana di rumah sakit lainnya, fotokopi yang mencapai total seratusan angket (yang banyak tersisa di kamar saya dan saya niatkan untuk diloak ketika tiba-tiba jatuh bangkrut), melewati tantangan printer yang rusak, dan juga setelah melewati sidang di pagi hari selama satu setengah jam pada tanggal 25 April 2013......berbuah manis. Keringat yang saya kucurkan terasa manis juga rasanya.

Beberapa hari sebelum sidang, saya sempat dicengkeram rasa cemas. Rasanya seperti jantung saya diremas setiap mengingat tanggal 25 April 2013 pukul 08.00. Perut saya terasa aneh seperti ada sesuatu yang terbang di dalamnya, bukan lagi kupu-kupu, tetapi sesuatu yang lebih besar dan tidak mengenakkan, walaupun tidak membuat saya mual. Tapi, ketika setelah sidang, saya mendengar DPS saya berkata, "Selamat, Nadya. Perjuangan panjang akhirnya selesai...kamu dinyatakan lulus..." (kedua tangan saya mencengkeram tepi meja di ruang sidang ketika mendengar kata ini) "dengan perbaikan."
Wow, rasanya lega. Revisi? Tak apalah. Wajar terjadi.

Namun perjuangan belum selesai. Saya menyelesaikan revisi sekitar seminggu, berburu tanda tangan dosen yang akan segera cus ke Aussie, meminta lembar pengesahan, berburu tanda tangan lagi, menjilid skripsi, menunggu dengan pasrah tanda tangan dari dekan, menyerahkan soft file skripsi ke perpus, mengumpulkan scan sertfikat non-akademik sebagai syarat yudisium, dan.....sekarang saya dalam posisi menunggu keluarnya Surat Keterangan Lulus (SKL) yang akan saya gunakan untuk mendaftar S2. Yah, wisuda saya masih sekitar 3 bulan lagi dan saya sudah membeli kain untuk kebaya wisuda, hahahahahaha. Saya masih galau mau mendesain kebaya yang seperti apa -__-

Anyway, lulus itu ternyata biasa saja, kalau menurut saya sih. Rasa bangga dan gembiranya hanya ketika diumumkan lulus sidang dan mungkin, ketika wisuda nanti. Mmmm, dan ketika saya melihat skripsi saya yang sudah dijilid (wow, keren, ini masterpiece yang saya hasilkan selama kuliah!). Selain itu rasanya biasa saja. Amat biasa saja.

Perjalanan masih panjang untuk diri saya ke depan; saya baru saja memulainya. Hidup tetap berjalan. Target-target akan disusun, harapan-harapan akan dihantarkan lewat doa, dan usaha-usaha yang lebih gigih akan dibutuhkan. Akan ada orang-orang baru untuk dikenal, tempat-tempat baru untuk dijelajahi atau sekedar didatangi, pengalaman-pengalaman baru, pahit dan manis, yang perlu dicecap untu menjadikan saya lebih dewasa. Saya merasa bergairah sekaligus deg-degan.

 Selamat datang, petualangan baru :)

Karena saya orang yang seringkali "bejo", saya akan menambahkan: Semoga beruntung!

*cheers!*


Minggu, 31 Maret 2013

Posting Random Untuk Kesekian Kalinya

Sejak beberapa hari lalu, waktu saya banyak tercurahkan untuk skripsi yang selama ini saya enyahkan sementara dari pikiran. Input, analisis data, dan segala macam hal berkaitan dengan skripsi membuat saya berkeringat. Sekarang pun baru saja saya bersantai sejenak dari kegiatan menulis Bab 4.

Memang pada dasarnya saya tidak betah kerja berjam-jam dengan hal yang sama tanpa selingan. Jadi, alih-alih meneruskan, saya meninggalkan tab berjudul "Bab 4" dan membuat tab baru. Menulis sebuah file berjudul "Halaman Motto" -__-

Yah, bagaimana lagi. Daripada bosan, mendingan saya nyicil halaman motto. Setelah itu, saya nyicil nulis Halaman Persembahan, ahahaha.....

Oke. Sudah malam. Waktunya tidur. Sepertinya menulis Bab 4 membuat saya agak korslet.