Jumat, 30 Desember 2011

"Sudah lama, Pak."

Tiba-tiba inget kejadian pas SMP ini dan saya tertawa sendiri.

Di suatu siang, ketika pembagian hasil ujian Tarikh (Sejarah Islam).
Guru          : "Ini ada murid yang ngisi jawaban nyeleneh..."
Seisi kelas  : "Apa, Pak?" (penasaran)
Guru          : (mengambil salah sau kertas dari tumpukan, membacakan soal) "Kapan Nabi Muhammad SAW wafat? Jawabannya: 'Sudah lama, Pak.' Ckckck."

Ckckck -.-"

NB: Murid itu bukan saya lho.

Kamis, 29 Desember 2011

Menjelang UAS (Ujian Agak Serem)

Hah..lama kali diriku tak posting di blog sendiri!
Kembali menyapa. Dengan membawa beban di dada *sigh.

Ya, tidak sampai 2 minggu lagi saya harus menghadapi Ujian Agak Serem a.k.a UAS.
Walaupun saya sudah memanfaatkan sekitar 2,5 tahun di universitas, sudah ter-habituasi dengan yang namanya UAS, tapi UAS kali ini sepertinya membuat saya agak khawatir. Tugas yang dikumpulkan ketika UAS masih banyak yang menumpuk. Jadi kekhawatiran saya terhadap UAS tidak hanya berkaitan dengan UAS tersebut, tetapi juga tugas-tugas yang mendampinginya. Let's say, yang serem itu tugas-tugasnya, bukan UAS-nya -,- Inilah alasan kenapa saya jadi jarang posting. Pikiran saya dipenuhi oleh tugas dan tanggung jawab lain, serta masalah pribadi --->curcol

Untuk hari H-UAS sendiri, saya tidak begitu merasa terbebani. Makanya saya bilang "agak" serem aja. Yang penting saya udah berusaha semampu saya. Lalu tinggal berdoa, hahaha ---> sungguh seorang hamba pemalas dan tak terpuji -___-

Tugas-tugas ini harus saya kalahkan. Saya pasti bisa. PASTI!

Paling tidak saya masih punya aktivitas hiburan untuk memompa semangat (baca: latihan paduan suara :)) So, nikmati sajalah hidup ini....

Maaf kalo cuma numpang ngeluh. Saya butuh mengeluh dulu untuk membuang penat, lalu baru memompa semangat. Selamat datang UAS! :D

Sekian. Terima kasih.
*gapenting

Sabtu, 24 Desember 2011

Monolog Galau

Tidak ada gunanya kamu memendam amarahmu.

Kamu tahu, semua sudah berakhir. Jangan simpan apapun, apalagi yang jelek-jelek, dalam hatimu.
Tidakkah kamu sadar bahwa semua ini hanya membuatmu semakin menderita?
Dengan tidak memaafkannya, tak ada lagi yang bisa kamu dapatkan kecuali wajah yang semakin terlihat tua dan hati yang semakin penuh dendam.

Kebencian yang kamu pelihara selama hampir 3 bulan ini tidak akan membuatnya kembali, tidak pula membuatnya peduli. Tidak pula membuat waktu terhenti atau berjalan mundur. Dia akan tetap bersenang-senang, melanjutkan hidupnya, mencari cinta yang lain, sementara kamu tetap sengsara karena menunggu saat-saat ia menderita untuk membuatmu bahagia. Kapan itu? Kapan? Kamu tidak mungkin mempertaruhkan seluruh hidupmu yang berharga hanya demi melihatnya menderita di depan matamu. Kamu lah yang akan menderita jika seperti itu. Waktumu akan banyak terbuang sia-sia.

Maafkan dia.

Maafkan.

Seperti tulisan yang kamu buat bulan yang lalu, ajarilah dirimu sendiri untuk memaafkannya. Jangan pernah ingat-ingat lagi kesalahannya. Begitu kamu merasakan panas dan sesak di dada tiap kali melihatnya, tutup matamu. Tarik napas. Ingatlah kebaikannya. Kamu akan merasa lebih baik. Dengan memaafkannya, kamu akan mendapatkan kedamaian dan kebahagiaan. Kebahagiaanmu akan menarik seseorang yang dijanjikan, entah siapa gerangan, yang sama bahagianya denganmu, untuk menjadi pengganti yang lebih baik.

Maafkan dia.

Maafkan.

Demi kebaikan dirimu sendiri.