Aku menatap layar laptop dan air mataku meleleh seketika. Sudah beberapa hari ini mataku seperti kantong penyimpan air dan dengan mudah bocor ketika aku harus melihat layar laptop. Aku tidak bisa melakukannya. Aku benci menulis semua laporan dan aku rasa laporan-laporan itu juga sama membenciku. Aku telah menghabiskan berhari-hari bahkan berminggu-minggu sebelumnya mencoba melarikan diri dari tugas yang menghantui ini.
Tapi sekarang sudah tidak ada lorong kecil yang bisa kugunakan untuk keluar hidup-hidup tanpa laporan. Mau tidak mau aku harus mengerjakannya saat ini karena besok aku harus mempresentasikan 5 kasus yang sudah aku tangani. Tapi aku malas, amat sangat malas sampai-sampai aku tidak tahu lagi apa ada padanan kata malas yang bisa menggambarkan betapa malasnya aku saat harus mengerjakan laporan.
Ah, kenapa semua terasa begitu sulit? Aku merutuki nasibku, bertanya-tanya apa yang bisa membuatku bertahan sampai sejauh ini. Terbersit pula keinginan untuk keluar dan meninggalkan semua usaha yang telah kulakukan kurang lebih setahun ini. Persetan dengan uang SPP yang telah aku dan orangtuaku bayarkan. Jika terus melanjutkan hal bodoh ini, akan lebih banyak uang yang keluar bukan? Entahlah, apakah ini adalah kelemahan, atau sebuah kekuatan, karena sekarang aku dengan jujur dapat mengatakan kepada diriku sendiri: Aku tidak mampu. Aku tidak kuat. Dan aku tidak tahu bagaimana harus melewati semua ini.
Susah untuk tidak membenci setiap aspek dalam hidup ketika roda sedang berada di bawah. Jika jiwaku adalah roda itu, ia sekarang tidak hanya berada di bawah, namun juga bocor dan berat untuk dibawa berjalan. Jiwa yang tak bisa memutar dirinya sendiri dan membutuhkan tangan untuk menambalnya.
Aku sadari semua kesulitan ini sedikit banyak berasal dari dalam diriku. Diriku yang belum selesai dengan masalahnya sendiri, sehingga terlalu lelah ketika harus mengatasi masalah orang lain. Diriku yang belum benar-benar pulih dari prokrastinasi yang ia lakukan sebagai wujud sikap pasif-agresif terhadap perintah yang tidak ia sukai (salah satu perintah itu adalah menulis laporan). Diriku yang lalai memproses dirinya sementara ia tahu ada beban emosi yang masih ia simpan terhadap ibunya, dan belum berhasil ia keluarkan dalam beberapa sesi humanistik dengan teman sekelasnya sebagai terapis.
Mataku terasa berat. Beban di pundakku rasanya tak tertanggung lagi. Aku ingin istirahat dari semua ini. Mungkin keadaan koma adalah istirahat terbaik yang aku butuhkan sekarang. Sakit yang cukup parah, sampai aku punya alasan yang lebih hebat daripada sekedar rengekan malas dan sentimental. Sialnya aku tahu bahwa pikiranku ini adalah distorsi kognisi dan tidak menyelesaikan apa-apa. Hhhh, salah satu sisi negatif dari belajar Psikologi adalah kau jadi lebih peka terhadap apa saja yang terjadi dalam dirimu. Ego defense mechanism apa yang kau gunakan, distorsi kognisi apa yang sedang bermain dalam pikiranmu, beban apa yang kau miliki dan belum teratasi. Dengan kata lain: kau tak bisa lagi bersembunyi dari dirimu sendiri. Ya, aku tak bisa lagi bersembunyi dari diriku sendiri.
Aku tak bisa bersembunyi dari diriku yang harus menyelesaikan 5 laporan ini. Dalam waktu semalam. Sambil masih tetap menangis, aku mengirim pesan singkat ke ibuku. Aku jarang mengeluh, dekat pun tidak, pada ibuku. Well, pada kedua orangtuaku sebenarnya. Tapi malam itu aku rasa aku butuh untuk mencurahkan sedikit saja dari kelelahan yang menghantamku tanpa ampun. Aku katakan bahwa kerja praktik ini begitu sulit, bahwa aku takut aku tidak akan lulus ujian psikolog. Aku malas mengerjakan laporan.
Send.
Beberapa menit kemudian handphoneku berbunyi. Suara ayah terdengar dari ujung timur Indonesia. Ayah ternyata hanya jadi perantara saja karena setelah itu ia berkata, "Ibu mau ngomong," dan akhirnya suara ibuku terdengar di telinga kananku.
Tugasnya susah?
Ya begitulah. Puskesmasku sepi. Aku harus berusaha keras mencari klien yang bisa aku tangani. Jamku tidak memenuhi target. Aku ditinggal psikolog supervisorku cuti selama 2 minggu. Kasusnya susah. Laporan belum aku kerjakan. Besok laporan harus dikumpulkan.
Susah payah aku menahan isak agar suaraku tidak terdengar seakan aku habis menangis. Entah kenapa sulit sekali rasanya menangis di depan (di depan? ini bahkan hanya lewat telepon) ibuku. Aku tetap ingin terdengar menguasai diri.
Setelah sekitar 10 menit, ibuku memberi wejangan. Aku mengiyakan. Sambungan diputus. Dan perasaanku sudah lebih tenang. Untuk pertama kalinya, malam itu, aku sadar bahwa aku benar-benar membutuhkan sosok ibu. Kenyataan yang selama ini mungkin kunafikan, dan selama ini aku percaya bahwa hubunganku dengan ibu hanya sebatas hubungan finansial dan teknis, namun miskin secara emosional.
Aku telah menurunkan sedikit ego untuk memberi tahu ibu tentang kerapuhanku. That's enough. Aku sudah berproses. Proses yang harusnya aku lakukan sejak sebelum kerja praktik, karena dosenku selalu mewanti-wanti tiap mahasiswa untuk menyelesaikan masalah dan urusan mereka sebelum terjun ke lapangan. Aku tidak menduga seperih ini rasanya ketika kau memiliki unfinished business saat kerja praktik. Rasanya seakan-akan semua tenagamu tersedot habis karena sebenarnya kau hanya memiliki separo dari tenagamu; sisanya masih berpusar pada masalah yang belum kau selesaikan berhari-hari, berbulan-bulan, berminggu-minggu, bertahun-tahun yang lalu.
Mataku sembab, tapi aku tak bisa lari. Aku mulai mengetik dan mengetik, entah bagaimana jadinya. Teman-teman sekelompokku yang besok harus mengumpulkan laporan juga bernasib sama. Aku tidak sendirian. Aku terus mengetik dan mengetik, masa bodoh dengan hasilnya...
Aku rasa hidup ini pun sama. Kita akan terus berjalan dan berjalan, masa bodoh dengan apa yang menanti kita di depan. And knowing that, in that long journey, you are loved and you can love, is the best feeling ever...
Before those swollen minds become a great brain-tumor, share it all with joy
Minggu, 14 September 2014
Minggu, 23 Maret 2014
Time Flies
Rasanya belum lama ketika, aku ingat sekali, aku turun naik gedung G lantai 2 dan UKP, sambil membawa berkas pendaftaran S2 dalam dekapan. Rasanya juga belum terlalu lama ketika, pada pagi yang agak kelabu itu, aku mempresentasikan skripsi di depan 3 orang dosen dan kemudian dibombardir dengan berbagai pertanyaan -- yang akhirnya membuatku berhak menerima selembar kertas yang menegaskan tamatnya langkahku di S1.
Time flies.
Sekarang, di atas tempat tidurku yang dipenuhi berbagai buku kuliah S2 -baik yang memang aku baca ataupun yang sekedar aku miliki hanya untuk mendapatkan rasa aman- aku mulai berefleksi tentang proses-proses yang sudah mengantarkanku sampai ke detik ini. Ya, aku lebih sering berefleksi sekarang setelah dijejali berbagai macam perspektif timbulnya gangguan dan masalah pada manusia. Setelah dibawa ke dalam perjalanan transpersonal dan bertemu dengan bagian-bagian diriku yang lain, yang menghambat maupun yang mendukungku untuk maju. Setelah proses membuka diri yang rasanya sakit tapi melegakan.
Aku baru benar-benar belajar sekarang.
Belajar bahwa untuk menjadi kuat kau harus mengakui kelemahanmu dan menerimanya sebagai bagian dari dirimu.
Belajar bahwa kau tidak harus selalu sempurna.
Belajar bahwa hal-hal kecil yang kau lakukan pada orang lain dapat menimbulkan pengaruh yang signifikan, baik secara positif atau pun negatif, sehingga kau lebih menghargai perasaan orang lain; that everybody has his own scars.
Belajar bahwa cara terbaik untuk belajar adalah mengakui kekuranganmu dan mengosongkan kepala dan dadamu dari segala bentuk kesombongan; bahwa dengan mengakui kekurangan, kebingunganm dan kebodohanmu, sebenarnya kau telah membuka pintu ilmu pengetahuan yang sangat lebar ke dalam dirimu.
Belajar bahwa masih banyak, sangat banyak, alasan untuk bersyukur ketika kau menyadari bahwa orang-orang di sekelilingmu yang kau pikir mungkin sempurna dan bebas-masalah, ternyata memiliki beban yang lebih berat daripada yang kau duga.
Belajar untuk tetap tenang melalui segala bentuk perubahan yang mendadak dan tiba-tiba, serta situasi ekstrim yang tidak pernah kau bayangkan akan terjadi; misalnya ujian praktik jam 10 malam (dan lagi-lagi kau semestinya sujud syukur melihat teman-teman yang dapat jadwal jam 1 pagi).
Belajar untuk mendengarkan, dengan hati.
Belajar bahwa sebelum menghadapi orang lain, kau harus berani menghadapi dirimu sendiri.
Belajar untuk tetap tenang dalam situasi sempit, seperti hasil tes dan pemeriksaan psikologis yang belum jadi sementara deadline tinggal 2 jam.
Belajar bahwa terkadang kau tidak bisa mendapatkan segala hal dalam waktu yang bersamaan; jika tugasmu belum selesai dan ada kuliah pagi, kau bisa bolos (entahlah, aku kurang yakin bagian ini bisa kau jadikan teladan yang baik atau sebaliknya).
Belajar bahwa semakin sering kau berhadapan dengan rasa sakitmu, melihatnya, mengakuinya, menerimanya....maka lama kelamaan kau akan merasa luka itu tidaklah sakit. Ketika kau diminta menjadi klien untuk pembelajaran kelas dan harus bercerita di depan sekitar belasan orang; ketika kau melihat kasusmu sendiri, lukamu sendiri, sisi gelapmu, dipresentasikan di depan kelas dan dianalisis bersama oleh dosen dan teman-temanmu....dan pada akhirnya kau sendiri bisa menertawakan dirimu.
Belajar untuk memaafkan orang-orang yang pernah berbuat salah kepadamu; karena mereka mungkin memilliki masalah yang juga mereka tanggung --dan tentunya karena tidak semua orang belajar Psikologi.
Dan mungkin...yang paling penting: belajar untuk melakukan segala sesuatu dengan cinta. Termasuk mengerjakan belasan laporan pemeriksaan psikologis, rancangan intervensi, dan review jurnal yang ketika kau kumpulkan ke dosen kau sudah pasrah apakah akan benar-benar dibaca atau tidak. Kalaupun kau belum bisa mencintai, lakukan saja; siapa tahu cinta itu akan muncul karena terbiasa.
Time flies.
Aku bahkan tidak sadar bahwa sekarang sudah hampir pukul 1 dini hari. Aku harap waktu dan Sang Pemiliknya tidak mengutukku karena aku melanggar jam malam bagi tubuhku sendiri. Entah kenapa aku juga tidak begitu mengantuk.
Tapi, untuk menutup, aku hanya akan menuliskan dua patah kata: Selamat malam.
Time flies.
Sekarang, di atas tempat tidurku yang dipenuhi berbagai buku kuliah S2 -baik yang memang aku baca ataupun yang sekedar aku miliki hanya untuk mendapatkan rasa aman- aku mulai berefleksi tentang proses-proses yang sudah mengantarkanku sampai ke detik ini. Ya, aku lebih sering berefleksi sekarang setelah dijejali berbagai macam perspektif timbulnya gangguan dan masalah pada manusia. Setelah dibawa ke dalam perjalanan transpersonal dan bertemu dengan bagian-bagian diriku yang lain, yang menghambat maupun yang mendukungku untuk maju. Setelah proses membuka diri yang rasanya sakit tapi melegakan.
Aku baru benar-benar belajar sekarang.
Belajar bahwa untuk menjadi kuat kau harus mengakui kelemahanmu dan menerimanya sebagai bagian dari dirimu.
Belajar bahwa kau tidak harus selalu sempurna.
Belajar bahwa hal-hal kecil yang kau lakukan pada orang lain dapat menimbulkan pengaruh yang signifikan, baik secara positif atau pun negatif, sehingga kau lebih menghargai perasaan orang lain; that everybody has his own scars.
Belajar bahwa cara terbaik untuk belajar adalah mengakui kekuranganmu dan mengosongkan kepala dan dadamu dari segala bentuk kesombongan; bahwa dengan mengakui kekurangan, kebingunganm dan kebodohanmu, sebenarnya kau telah membuka pintu ilmu pengetahuan yang sangat lebar ke dalam dirimu.
Belajar bahwa masih banyak, sangat banyak, alasan untuk bersyukur ketika kau menyadari bahwa orang-orang di sekelilingmu yang kau pikir mungkin sempurna dan bebas-masalah, ternyata memiliki beban yang lebih berat daripada yang kau duga.
Belajar untuk tetap tenang melalui segala bentuk perubahan yang mendadak dan tiba-tiba, serta situasi ekstrim yang tidak pernah kau bayangkan akan terjadi; misalnya ujian praktik jam 10 malam (dan lagi-lagi kau semestinya sujud syukur melihat teman-teman yang dapat jadwal jam 1 pagi).
Belajar untuk mendengarkan, dengan hati.
Belajar bahwa sebelum menghadapi orang lain, kau harus berani menghadapi dirimu sendiri.
Belajar untuk tetap tenang dalam situasi sempit, seperti hasil tes dan pemeriksaan psikologis yang belum jadi sementara deadline tinggal 2 jam.
Belajar bahwa terkadang kau tidak bisa mendapatkan segala hal dalam waktu yang bersamaan; jika tugasmu belum selesai dan ada kuliah pagi, kau bisa bolos (entahlah, aku kurang yakin bagian ini bisa kau jadikan teladan yang baik atau sebaliknya).
Belajar bahwa semakin sering kau berhadapan dengan rasa sakitmu, melihatnya, mengakuinya, menerimanya....maka lama kelamaan kau akan merasa luka itu tidaklah sakit. Ketika kau diminta menjadi klien untuk pembelajaran kelas dan harus bercerita di depan sekitar belasan orang; ketika kau melihat kasusmu sendiri, lukamu sendiri, sisi gelapmu, dipresentasikan di depan kelas dan dianalisis bersama oleh dosen dan teman-temanmu....dan pada akhirnya kau sendiri bisa menertawakan dirimu.
Belajar untuk memaafkan orang-orang yang pernah berbuat salah kepadamu; karena mereka mungkin memilliki masalah yang juga mereka tanggung --dan tentunya karena tidak semua orang belajar Psikologi.
Dan mungkin...yang paling penting: belajar untuk melakukan segala sesuatu dengan cinta. Termasuk mengerjakan belasan laporan pemeriksaan psikologis, rancangan intervensi, dan review jurnal yang ketika kau kumpulkan ke dosen kau sudah pasrah apakah akan benar-benar dibaca atau tidak. Kalaupun kau belum bisa mencintai, lakukan saja; siapa tahu cinta itu akan muncul karena terbiasa.
Time flies.
Aku bahkan tidak sadar bahwa sekarang sudah hampir pukul 1 dini hari. Aku harap waktu dan Sang Pemiliknya tidak mengutukku karena aku melanggar jam malam bagi tubuhku sendiri. Entah kenapa aku juga tidak begitu mengantuk.
Tapi, untuk menutup, aku hanya akan menuliskan dua patah kata: Selamat malam.
Senin, 03 Februari 2014
Pekat
Nafas pekat itu berhenti sejenak
Sebelum racunnya menyentuh benak
dan air mata yang bitam kelam itu mengalir, mengandung tuak
Membuat muak
Pikirmu kau bisa berkelit lincah
Lidah-lidah berbisa yang berucap resah
Mengikat membelit segala yang kau inginkan musnah
Hanya karena tak sanggup menahan angan yang buncah
Pikirmu kau seniman ulung
Topeng-topengmu sandiwara bak pemulung
Mengais cinta untuk jiwa yang bingung
dalam ketakutan tanpa ujung
Tapi hatiku sudah bertapa
Ia melihat isyarat tak kasat mata
Sebelum nafas pekat dan air mata kelam itu kau buat senjata
Batinku siaga berjaga-jaga.
Yogyakarta, 2 Februari 2014
di atas kasur yang empuk, seempuk bualan seorang teman yang minta belas kasihan.
Sebelum racunnya menyentuh benak
dan air mata yang bitam kelam itu mengalir, mengandung tuak
Membuat muak
Pikirmu kau bisa berkelit lincah
Lidah-lidah berbisa yang berucap resah
Mengikat membelit segala yang kau inginkan musnah
Hanya karena tak sanggup menahan angan yang buncah
Pikirmu kau seniman ulung
Topeng-topengmu sandiwara bak pemulung
Mengais cinta untuk jiwa yang bingung
dalam ketakutan tanpa ujung
Tapi hatiku sudah bertapa
Ia melihat isyarat tak kasat mata
Sebelum nafas pekat dan air mata kelam itu kau buat senjata
Batinku siaga berjaga-jaga.
Yogyakarta, 2 Februari 2014
di atas kasur yang empuk, seempuk bualan seorang teman yang minta belas kasihan.
Langganan:
Postingan (Atom)