Rasanya belum lama ketika, aku ingat sekali, aku turun naik gedung G lantai 2 dan UKP, sambil membawa berkas pendaftaran S2 dalam dekapan. Rasanya juga belum terlalu lama ketika, pada pagi yang agak kelabu itu, aku mempresentasikan skripsi di depan 3 orang dosen dan kemudian dibombardir dengan berbagai pertanyaan -- yang akhirnya membuatku berhak menerima selembar kertas yang menegaskan tamatnya langkahku di S1.
Time flies.
Sekarang, di atas tempat tidurku yang dipenuhi berbagai buku kuliah S2 -baik yang memang aku baca ataupun yang sekedar aku miliki hanya untuk mendapatkan rasa aman- aku mulai berefleksi tentang proses-proses yang sudah mengantarkanku sampai ke detik ini. Ya, aku lebih sering berefleksi sekarang setelah dijejali berbagai macam perspektif timbulnya gangguan dan masalah pada manusia. Setelah dibawa ke dalam perjalanan transpersonal dan bertemu dengan bagian-bagian diriku yang lain, yang menghambat maupun yang mendukungku untuk maju. Setelah proses membuka diri yang rasanya sakit tapi melegakan.
Aku baru benar-benar belajar sekarang.
Belajar bahwa untuk menjadi kuat kau harus mengakui kelemahanmu dan menerimanya sebagai bagian dari dirimu.
Belajar bahwa kau tidak harus selalu sempurna.
Belajar bahwa hal-hal kecil yang kau lakukan pada orang lain dapat menimbulkan pengaruh yang signifikan, baik secara positif atau pun negatif, sehingga kau lebih menghargai perasaan orang lain; that everybody has his own scars.
Belajar bahwa cara terbaik untuk belajar adalah mengakui kekuranganmu dan mengosongkan kepala dan dadamu dari segala bentuk kesombongan; bahwa dengan mengakui kekurangan, kebingunganm dan kebodohanmu,
sebenarnya kau telah membuka pintu ilmu pengetahuan yang sangat lebar ke
dalam dirimu.
Belajar bahwa masih banyak, sangat banyak, alasan untuk bersyukur ketika kau menyadari bahwa orang-orang di sekelilingmu yang kau pikir mungkin sempurna dan bebas-masalah, ternyata memiliki beban yang lebih berat daripada yang kau duga.
Belajar untuk tetap tenang melalui segala bentuk perubahan yang mendadak dan tiba-tiba, serta situasi ekstrim yang tidak pernah kau bayangkan akan terjadi; misalnya ujian praktik jam 10 malam (dan lagi-lagi kau semestinya sujud syukur melihat teman-teman yang dapat jadwal jam 1 pagi).
Belajar untuk mendengarkan, dengan hati.
Belajar bahwa sebelum menghadapi orang lain, kau harus berani menghadapi dirimu sendiri.
Belajar untuk tetap tenang dalam situasi sempit, seperti hasil tes dan pemeriksaan psikologis yang belum jadi sementara deadline tinggal 2 jam.
Belajar bahwa terkadang kau tidak bisa mendapatkan segala hal dalam waktu yang bersamaan; jika tugasmu belum selesai dan ada kuliah pagi, kau bisa bolos (entahlah, aku kurang yakin bagian ini bisa kau jadikan teladan yang baik atau sebaliknya).
Belajar bahwa semakin sering kau berhadapan dengan rasa sakitmu, melihatnya, mengakuinya, menerimanya....maka lama kelamaan kau akan merasa luka itu tidaklah sakit. Ketika kau diminta menjadi klien untuk pembelajaran kelas dan harus bercerita di depan sekitar belasan orang; ketika kau melihat kasusmu sendiri, lukamu sendiri, sisi gelapmu, dipresentasikan di depan kelas dan dianalisis bersama oleh dosen dan teman-temanmu....dan pada akhirnya kau sendiri bisa menertawakan dirimu.
Belajar untuk memaafkan orang-orang yang pernah berbuat salah kepadamu; karena mereka mungkin memilliki masalah yang juga mereka tanggung --dan tentunya karena tidak semua orang belajar Psikologi.
Dan mungkin...yang paling penting: belajar untuk melakukan segala sesuatu dengan cinta. Termasuk mengerjakan belasan laporan pemeriksaan psikologis, rancangan intervensi, dan review jurnal yang ketika kau kumpulkan ke dosen kau sudah pasrah apakah akan benar-benar dibaca atau tidak. Kalaupun kau belum bisa mencintai, lakukan saja; siapa tahu cinta itu akan muncul karena terbiasa.
Time flies.
Aku bahkan tidak sadar bahwa sekarang sudah hampir pukul 1 dini hari. Aku harap waktu dan Sang Pemiliknya tidak mengutukku karena aku melanggar jam malam bagi tubuhku sendiri. Entah kenapa aku juga tidak begitu mengantuk.
Tapi, untuk menutup, aku hanya akan menuliskan dua patah kata: Selamat malam.
Before those swollen minds become a great brain-tumor, share it all with joy
Minggu, 23 Maret 2014
Senin, 03 Februari 2014
Pekat
Nafas pekat itu berhenti sejenak
Sebelum racunnya menyentuh benak
dan air mata yang bitam kelam itu mengalir, mengandung tuak
Membuat muak
Pikirmu kau bisa berkelit lincah
Lidah-lidah berbisa yang berucap resah
Mengikat membelit segala yang kau inginkan musnah
Hanya karena tak sanggup menahan angan yang buncah
Pikirmu kau seniman ulung
Topeng-topengmu sandiwara bak pemulung
Mengais cinta untuk jiwa yang bingung
dalam ketakutan tanpa ujung
Tapi hatiku sudah bertapa
Ia melihat isyarat tak kasat mata
Sebelum nafas pekat dan air mata kelam itu kau buat senjata
Batinku siaga berjaga-jaga.
Yogyakarta, 2 Februari 2014
di atas kasur yang empuk, seempuk bualan seorang teman yang minta belas kasihan.
Sebelum racunnya menyentuh benak
dan air mata yang bitam kelam itu mengalir, mengandung tuak
Membuat muak
Pikirmu kau bisa berkelit lincah
Lidah-lidah berbisa yang berucap resah
Mengikat membelit segala yang kau inginkan musnah
Hanya karena tak sanggup menahan angan yang buncah
Pikirmu kau seniman ulung
Topeng-topengmu sandiwara bak pemulung
Mengais cinta untuk jiwa yang bingung
dalam ketakutan tanpa ujung
Tapi hatiku sudah bertapa
Ia melihat isyarat tak kasat mata
Sebelum nafas pekat dan air mata kelam itu kau buat senjata
Batinku siaga berjaga-jaga.
Yogyakarta, 2 Februari 2014
di atas kasur yang empuk, seempuk bualan seorang teman yang minta belas kasihan.
Jumat, 11 Oktober 2013
Thank You, Silence.
Many days we have passed without talks and chit-chats. These 3 days are just like those silent days. But now I choose to make the benefit out of it. No more crying and apologizing. No more pain and regrets. No more feeling alone and lonely. No more feelings like we cannot live without each other.
No more.
Now I'm feeling so light. Now I can taste the peace. Now I feel contempt with my own self. I am alone, but I'm not feeling alone. I am not lonely. I can feel the songs of silence. A pure melody that I've never heard before. I can hear the wind blows. I can see the sun shining bright. I can feel the warmth. I can feel my life now. I am awake.
Maybe we just need our time away. Maybe this silence is the best way to find again what we want. What we need. Maybe this is the time to think back, clearly, who we are, why we are together. To find ourselves again. Before we've gone too far and lost too deep in the labyrinth.
I don't know how long it takes until we finally talk again; whether we have to wait, or to start over. But I just want to say one thing: In this silence, I know who I am.
I hope you do the same way too.
No more.
Now I'm feeling so light. Now I can taste the peace. Now I feel contempt with my own self. I am alone, but I'm not feeling alone. I am not lonely. I can feel the songs of silence. A pure melody that I've never heard before. I can hear the wind blows. I can see the sun shining bright. I can feel the warmth. I can feel my life now. I am awake.
Maybe we just need our time away. Maybe this silence is the best way to find again what we want. What we need. Maybe this is the time to think back, clearly, who we are, why we are together. To find ourselves again. Before we've gone too far and lost too deep in the labyrinth.
I don't know how long it takes until we finally talk again; whether we have to wait, or to start over. But I just want to say one thing: In this silence, I know who I am.
I hope you do the same way too.
Langganan:
Postingan (Atom)