Ambil-nggak-ambil-nggak-ambil-nggak.....
Ah! Jadi ababil gini!
Padahal tinggal menuliskan kata "skripsi" di lembar KRS. Pekerjaan ringan yang ternyata memerlukan tekad yang kuat dan pertimbangan yang matang. Mau semester 7 atau semester 8, ternyata bukan pilihan yang gampang ditentukan.
Sepertinya saya harus sholat istikharah.
Before those swollen minds become a great brain-tumor, share it all with joy
Senin, 28 Mei 2012
Sabtu, 26 Mei 2012
3 Tahun Yang Lalu dan Sekarang
Jam 5 sore tadi adik saya berteriak-teriak histeris di depan laptop. Ternyata ia diterima di fakultas teknik sebuah perguruan tinggi negeri favorit. Glad to hear that. A lil bit surprised because he has never really studied; padahal selama ini adik saya hedon banget dan terkesan cuek dengan sekolah dan ujiannya -.-"
Jadi ingat 3 tahun yang lalu. Kalau adik saya teriak-teriak di depan laptop, saya terdiam beberapa saat, kemudian tersenyum ketika membaca sms singkat yang bertuliskan: "Selamat. Anda diterima di Fakultas Psikologi Universitas X. Registrasi bisa dilakukan....." dan blablabla. Tapi hanya kata "selamat" dan "psikologi" lah yang benar-benar saya perhatikan waktu itu.
Kalau yang pertama tahu adik saya diterima di fakultas impiannya adalah saya dan ibu saya, dulu yang pertama tahu saya diterima di psikologi adalah nenek saya, kemudian adik, dan beberapa teman SMA saya. Ya, nenek saya yang waktu itu sedang berkunjung dari Pontianak ke rumah saya di Jogja. Beliau lah orang pertama kepada siapa saya mengatakan: "Nek, Rini (nama panggilan saya di tengah keluarga) diterima di Psikologi Universitas X."
Seperti halnya saya dan ibu saya yang ikut gembira melihat adik saya lolos, nenek pun begitu. Tapi kami tidak saling berpelukan dan berjingkrak-jingkrak, tidak. Beliau hanya tersenyum dan mengucap hamdalah lalu berkata bahwa ia bangga bisa melihat cucunya diterima di perguruan tinggi favorit. Beliau bilang: "Nenek dari dulu pengin liat ada cucu nenek yang bisa kuliah di Universitas X. Akhirnya sekarang cita-citanya udah kesampaian."
Tidak seperti suasana hingar bingar beberapa jam yang lalu ketika adik saya merayakan ultahnya sekaligus kelolosannya, situasi ketika saya dinyatakan lolos jauh dari kesan hingar bingar. Orang tua tidak ada di rumah. Nenek dan adik saya tidak lama kemudian pergi tidur. Suasananya biasa-biasa saja. Namun saya ingat bahwa saat itulah saya merasa sangat damai. Seakan-akan tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan untuk sementara ini. Satu langkah menuju cita-cita menjadi seorang psikolog sudah terlewati. Saat itulah saya tidur benar-benar nyenyak setelah berbulan-bulan tidur dengan mimpi yang berkaitan dengan memecahkan soal dan lain2 (ya, saya sampai bermimpi mengerjakan soal aljabar dan trigonometri untuk persiapan ujian =_=). Saat itulah saya merasa benar-benar yakin dengan apa yang saya pilih.
Oke, sekarang rumah sudah sepi. Teman-teman adik saya yang tadi merayakan ultahnya sekaligus merayakan kelolosannya telah kembali ke habitat masing-masing. Euforia pun sebentar lagi berakhir. Ini bukan suatu akhir perjuangan. Inilah awal perjuangan. Saya yakin, adik saya pun akan merasakan apa yang saya rasakan ini 3 tahun kemudian ketika ia menjadi mahasiswa semester tua: Bahwa sebenarnya bisa diterima dan lolos itu sebenarnya bukanlah kebahagiaan maha besar. Bisa lulus dan mengabdikan diri sesuai ilmu yang dipelajari adalah kebahagiaan yang lebih besar lagi.
*ditulis oleh mahasiswa galau KKN, skripsi, dan magang yang jadi teringat masa lalunya ketika diterima di perguruan tinggi tempat ia belajar sekarang*
Jadi ingat 3 tahun yang lalu. Kalau adik saya teriak-teriak di depan laptop, saya terdiam beberapa saat, kemudian tersenyum ketika membaca sms singkat yang bertuliskan: "Selamat. Anda diterima di Fakultas Psikologi Universitas X. Registrasi bisa dilakukan....." dan blablabla. Tapi hanya kata "selamat" dan "psikologi" lah yang benar-benar saya perhatikan waktu itu.
Kalau yang pertama tahu adik saya diterima di fakultas impiannya adalah saya dan ibu saya, dulu yang pertama tahu saya diterima di psikologi adalah nenek saya, kemudian adik, dan beberapa teman SMA saya. Ya, nenek saya yang waktu itu sedang berkunjung dari Pontianak ke rumah saya di Jogja. Beliau lah orang pertama kepada siapa saya mengatakan: "Nek, Rini (nama panggilan saya di tengah keluarga) diterima di Psikologi Universitas X."
Seperti halnya saya dan ibu saya yang ikut gembira melihat adik saya lolos, nenek pun begitu. Tapi kami tidak saling berpelukan dan berjingkrak-jingkrak, tidak. Beliau hanya tersenyum dan mengucap hamdalah lalu berkata bahwa ia bangga bisa melihat cucunya diterima di perguruan tinggi favorit. Beliau bilang: "Nenek dari dulu pengin liat ada cucu nenek yang bisa kuliah di Universitas X. Akhirnya sekarang cita-citanya udah kesampaian."
Tidak seperti suasana hingar bingar beberapa jam yang lalu ketika adik saya merayakan ultahnya sekaligus kelolosannya, situasi ketika saya dinyatakan lolos jauh dari kesan hingar bingar. Orang tua tidak ada di rumah. Nenek dan adik saya tidak lama kemudian pergi tidur. Suasananya biasa-biasa saja. Namun saya ingat bahwa saat itulah saya merasa sangat damai. Seakan-akan tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan untuk sementara ini. Satu langkah menuju cita-cita menjadi seorang psikolog sudah terlewati. Saat itulah saya tidur benar-benar nyenyak setelah berbulan-bulan tidur dengan mimpi yang berkaitan dengan memecahkan soal dan lain2 (ya, saya sampai bermimpi mengerjakan soal aljabar dan trigonometri untuk persiapan ujian =_=). Saat itulah saya merasa benar-benar yakin dengan apa yang saya pilih.
Oke, sekarang rumah sudah sepi. Teman-teman adik saya yang tadi merayakan ultahnya sekaligus merayakan kelolosannya telah kembali ke habitat masing-masing. Euforia pun sebentar lagi berakhir. Ini bukan suatu akhir perjuangan. Inilah awal perjuangan. Saya yakin, adik saya pun akan merasakan apa yang saya rasakan ini 3 tahun kemudian ketika ia menjadi mahasiswa semester tua: Bahwa sebenarnya bisa diterima dan lolos itu sebenarnya bukanlah kebahagiaan maha besar. Bisa lulus dan mengabdikan diri sesuai ilmu yang dipelajari adalah kebahagiaan yang lebih besar lagi.
*ditulis oleh mahasiswa galau KKN, skripsi, dan magang yang jadi teringat masa lalunya ketika diterima di perguruan tinggi tempat ia belajar sekarang*
Minggu, 20 Mei 2012
Catatan Random Di Malam Hari
It is because the world is so full of suffering,
that your happiness is a gift.
It is because the world is so full of poverty,
that your wealth is a gift.
It is becuase the world is so unfriendly,
that your smile is a gift.
It is because the world is so full of war,
taht your peace of mind is a gift.
It is because the world is in such despair,
that your hope and optimism is a gift.
It is because the world is so afraid,
that your love is a gift.
Vision Statement by Robert Holden
Mau tidak mau saya jadi ingat tulisan ini ketika menonton sebuah film yang selalu membuat air mata saya jatuh, walaupun terhitung sudah tiga kali saya menonton film itu: Hotel Rwanda.
Film yang bercerita tentang perang antarsuku di negeri kecil di Afrika tersebut memberi cukup alasan bagi saya untuk bersyukur dengan kehidupan saya yang senantiasa saya keluhkan. Menyedihkan, bahwa kadang-kadang kita harus melihat orang lain menderita terlebih dahulu untuk menyadari betapa beruntungnya nasib kita. Tapi mungkin memang begitulah salah satu cara untuk bersyukur.
Saya menonton Hotel Rwanda ketika SMA, saya lupa kelas berapa. Lewat DVD bajakan (tolong jangan dicontoh). Dan alasan saya menonton ulang lagi film itu adalah mata kuliah Isu-isu Kontemporer Psikologi Klinis. Ceritanya, film ini akan diputar di kelas dan mahasiswa akan mendiskusikan isu-isu psikologis terkait perang antarsuku. Dan saya diminta oleh Pak Dosen untuk bertanggungjawab menyediakan film itu. Jadi, ya, setelah mendapatkan film-nya, saya tonton lagi film itu. Dan saya menangis tanpa suara menontonnya. Saya kira, keesokan harinya, ketika saya, teman-teman, dan dosen menonton film itu di kelas, saya sudah tidak dapat menangis karena bosan. Tapi ternyata tidak. Saya gagal menahan keinginan untuk tidak menangis. Seorang teman perempuan juga mengalami hal serupa dengan saya. Untunglah kelas gelap sehingga tidak terlalu kelihatan kalau mata dan hidung saya memerah seperti tomat.
Saya tidak akan menceritakan selengkapnya isi film itu di sini. Sekedar ingin mengungkapkan perasaan yang campur aduk ketika menontonnya. Anak-anak dan wanita dibunuh. Orang-orang tak bersalah, yang tidak tahu apa-apa, menjadi korban. Perang itu membuat sekitar sejuta orang terbunuh, hanya karena identitas suku mereka. Dan dunia menolak melihatnya. Dunia menolak membantu dan berpura-pura tidak terjadi pembunuhan massal di sana.
Tinggal di Indonesia tentu saja sudah membuat kita akrab dengan berita-berita perang antarsuku. Di tempat kelahiran saya sendiri, Kalimantan Barat, seperti itu. Saya ingat ketika melihat dua orang berbeda suku bertengkar di depan pagar rumah saya, salah satunya menghunus senjata tajam. Saya cuma bisa bengong di depan pintu, tidak tahu apa yang harus dilakukan, bahkan masih bengong ketika ibu saya menarik saya ke dalam rumah dengan ketakutan, dan kami mengintip pertikaian kecil-yang untungnya berhasil didamaikan- itu melalui jendela.
Namun saya bukanlah korban. Saya tidak kehilangan rumah dan anggota keluarga. Saya tidak harus mengungsi. Saya tidak terluka. Dan saya membayangkan, ketika menonton film itu, bagaimana jika saya menjadi korban. Mungkin saya tidak akan kuliah sekarang. Mungkin, saya bahkan sudah kembali menjadi tanah. Dan untuk itu, saya merasa seperti....wow.
Ya. Kadang-kadang kita harus bersyukur bukan karena sesuatu terjadi, tetapi karena sesuatu tidak terjadi. Kadang-kadang kita harus merasa bahagia bukan karena tertimpa anugerah, tetapi karena tidak tertimpa musibah. Kadang-kadang kita harus merasa diberkati bukan karena mendapat sesuatu, tetapi karena tidak kehilangan sesuatu.
that your happiness is a gift.
It is because the world is so full of poverty,
that your wealth is a gift.
It is becuase the world is so unfriendly,
that your smile is a gift.
It is because the world is so full of war,
taht your peace of mind is a gift.
It is because the world is in such despair,
that your hope and optimism is a gift.
It is because the world is so afraid,
that your love is a gift.
Vision Statement by Robert Holden
Mau tidak mau saya jadi ingat tulisan ini ketika menonton sebuah film yang selalu membuat air mata saya jatuh, walaupun terhitung sudah tiga kali saya menonton film itu: Hotel Rwanda.
Film yang bercerita tentang perang antarsuku di negeri kecil di Afrika tersebut memberi cukup alasan bagi saya untuk bersyukur dengan kehidupan saya yang senantiasa saya keluhkan. Menyedihkan, bahwa kadang-kadang kita harus melihat orang lain menderita terlebih dahulu untuk menyadari betapa beruntungnya nasib kita. Tapi mungkin memang begitulah salah satu cara untuk bersyukur.
Saya menonton Hotel Rwanda ketika SMA, saya lupa kelas berapa. Lewat DVD bajakan (tolong jangan dicontoh). Dan alasan saya menonton ulang lagi film itu adalah mata kuliah Isu-isu Kontemporer Psikologi Klinis. Ceritanya, film ini akan diputar di kelas dan mahasiswa akan mendiskusikan isu-isu psikologis terkait perang antarsuku. Dan saya diminta oleh Pak Dosen untuk bertanggungjawab menyediakan film itu. Jadi, ya, setelah mendapatkan film-nya, saya tonton lagi film itu. Dan saya menangis tanpa suara menontonnya. Saya kira, keesokan harinya, ketika saya, teman-teman, dan dosen menonton film itu di kelas, saya sudah tidak dapat menangis karena bosan. Tapi ternyata tidak. Saya gagal menahan keinginan untuk tidak menangis. Seorang teman perempuan juga mengalami hal serupa dengan saya. Untunglah kelas gelap sehingga tidak terlalu kelihatan kalau mata dan hidung saya memerah seperti tomat.
Saya tidak akan menceritakan selengkapnya isi film itu di sini. Sekedar ingin mengungkapkan perasaan yang campur aduk ketika menontonnya. Anak-anak dan wanita dibunuh. Orang-orang tak bersalah, yang tidak tahu apa-apa, menjadi korban. Perang itu membuat sekitar sejuta orang terbunuh, hanya karena identitas suku mereka. Dan dunia menolak melihatnya. Dunia menolak membantu dan berpura-pura tidak terjadi pembunuhan massal di sana.
Tinggal di Indonesia tentu saja sudah membuat kita akrab dengan berita-berita perang antarsuku. Di tempat kelahiran saya sendiri, Kalimantan Barat, seperti itu. Saya ingat ketika melihat dua orang berbeda suku bertengkar di depan pagar rumah saya, salah satunya menghunus senjata tajam. Saya cuma bisa bengong di depan pintu, tidak tahu apa yang harus dilakukan, bahkan masih bengong ketika ibu saya menarik saya ke dalam rumah dengan ketakutan, dan kami mengintip pertikaian kecil-yang untungnya berhasil didamaikan- itu melalui jendela.
Namun saya bukanlah korban. Saya tidak kehilangan rumah dan anggota keluarga. Saya tidak harus mengungsi. Saya tidak terluka. Dan saya membayangkan, ketika menonton film itu, bagaimana jika saya menjadi korban. Mungkin saya tidak akan kuliah sekarang. Mungkin, saya bahkan sudah kembali menjadi tanah. Dan untuk itu, saya merasa seperti....wow.
Ya. Kadang-kadang kita harus bersyukur bukan karena sesuatu terjadi, tetapi karena sesuatu tidak terjadi. Kadang-kadang kita harus merasa bahagia bukan karena tertimpa anugerah, tetapi karena tidak tertimpa musibah. Kadang-kadang kita harus merasa diberkati bukan karena mendapat sesuatu, tetapi karena tidak kehilangan sesuatu.
Langganan:
Postingan (Atom)