Senin, 23 September 2013

Tidurku Tak Nyenyak Nanti Malam

Kadang samar, kadang jelas
Tidurku kini tak bisa pulas
Kepalaku beralas keraguan yang menganga jelas

Bias-bias senyum yang punya makna ganda:
entahkah nyata atau fatamorgana
Pemiliknya tak kunjung jelaskan kenapa
Membuat hati bertanya tanpa jeda

Kadang binar, kadang muram
Mata yang lembut bagai senja temaram
Buatku merasa: tidurku tak 'kan nyenyak nanti malam.

Yogyakarta, 23 September 2013

Senin, 22 Juli 2013

Ikhlas (?)

Don't wanna talk much here. Just wondering why dulu pernah denger beberapa orang berkata -kurang lebih- seperti ini:

"Sudah, gapapa...saya ikhlas kok."

"Bukannya mau menyombong, tapi saya ikhlas loh...dan alhamdulillah Allah memberikan yang berlipat ganda..."

Dari saya kecil sampai sekarang, sudah beberapa kali saya mendengar kalimat ini terucap. Dan dari kecil sampai sekarang, rasa heran saya tidak pernah berubah: Bagaimana bisa mereka mengatakan mereka ikhlas jika mereka memang ikhlas?

Bukankah ikhlas itu hanya Allah yang bisa menilai? Maka siapa kamu sok2 bilang "saya ikhlas"? Saya tidak peduli bahwa beberapa orang yang saya dengar mengucapkan kalimat ini adalah orang yang sudah berumur dan makan asam garam kehiduan, bagi saya....it just doesn't sound right. It sounds weird.

Saya rasa, berbahaya sekali ketika manusia berani mengatakan bahwa mereka ikhlas. Saya memang ga alim2 banget, tapi menurut saya ikhlas itu adalah kata yang sangat...sangat sakral mungkin. Ya....karena hanya Allah yang bisa menilai. Dan saya sendiri merasa manusia punya hati yang terlalu kotor untuk menilai perbuatan yang begitu murni. Apalagi menilai dirinya sendiri....narsistik.

Hhhh....bergembiralah mereka yang selalu meragukan dan mempertanyakan perbuatan yang mereka lakukan berlandaskan keikhlasan atau tidak. Bergembiralah mereka yang selalu takut jikalau mereka tidak ikhlas melakukan sesuatu, alih2 dengan pede berkata: "Saya ikhlas".

Minggu, 23 Juni 2013

BBM....Boring.

Tidak biasanya saya menulis soal kebijakan politik. Tapi karena jengah setiap hari melihat TV, Fesbuk, bahkan Twitter dipenuhi berita tentang BBM (yang sekarang sepertinya merupakan kepanjangan dari Bahan Bakar Masalah, karena perdebatan apapun tentangnya kerap berujung menjadi masalah) yang sekarang naik....berapa? 2000 rupiah? Oke.

Masyarakat terpolarisasi: kubu pro dan kubu kontra. Kata yang pro "gapapa lah, subsidi kemarin malah jatuh ke segelintir orang; orang-orang kaya," lalu "hutang kita sudah banyak, BBM harus dinaikkan" ada juga yang menyerimpetkan hal ini dengan masalah lain seperti "beli rokok aja kuat bung, masa beli bensin ga kuat" atau "beli kendaraan maha aja kuat, masa masih pakai premium, ga rela kalo dinaikkan" bla, bla, bla. Kubu kontra bilang, "oke, kalau sekarang kita harus membayar sendiri subsidi yang kemarin diberikan, semoga uang yang kita bayarkan jatuh ke tangan yang tepat, jangan disalahgunakan lagi. apalagi harga-harga pada naik juga." bla bla bla. Ya, saya dengan harga burjo pun mengikuti kurs minyak dunia dan melonjak seiring naiknya BBM sekarang ini.

Tahu apa yang ada dalam otak saya?

Saya muak dengan segala macam perdebatan, diskusi, dan analisis-analisis baik ilmiah maupun tidak ilmiah, pendapat berkelas maupun ngawur. Bukan muak juga sih, "muak" is a strong word, too strong buat orang yang kurang kritis seperti saya. Bosan, lebih tepatnya. Bosan juga dengan demo-demo bakar ban yang tidak ramah lingkungan dan bikin emosi saking stupid-nya.

Bagi saya, apapun kebijakannya, selama orang-orang masih berwatak curang, culas, kikir, suka korupsi, baik di tingkat rendahan maupun di tingkat atas.....tidak akan ada kebijakan yang bijak.

BBM disubsidi, dinaikkan, diturunkan, dikali, dibagi, dikuadratkan, bla bla bla....jika masih ada pihak yang korup (baik dalam Pemerintahan maupun dari kalangan rakyat sendiri) semua akan berakhir petaka.

Saya mungkin apatis. Tidak pro maupun kontra. Saya hanya bebal semua perdebatan tak berujung, strategi politik yang entah menguntungkan atau merugikan siapa. Bebal dengan demo-demo bakar ban, yang mungkin dilakukan oleh mahasiswa yang kalo di kelas ga tau apa-apa jadinya bakatnya ya bakar ban itu. Saya bersyukur masih ada mahasiswa yang santun menyuarakan pendapatnya.

Ah, yasudahlah. Kesannya kok jadi sewot sekali. Padahal ya saya masih mampu2 aja, fine2 kalo harga2 naik. Bahkan saya berniat untuk ganti Pertamax mulai sekarang. Saya cuma berdoa semoga kebijakan-kebijakan ini dibuat oleh orang-orang yang berakhlak baik dan Tuhan meridhoinya; bukan sebaliknya. Saya khawatir kalau yang terjadi malah sebaliknya.

Selamat hari Minggu. Selamat ganti Pertamax bagi yang tidak setuju Premium naik (kalo dihitung-hitung kayaknya lebih menguntungkan kalau sekalian ganti Pertamax) dan bagi yang setuju, Selamat juga karena akhirnya BBM dinaikkan, kalian pasti senang. Dan bagi yang mungkin kayak saya, golongan yang-sudah-terlalu-malas-untuk-memihak, jalani aja kebijakan baru ini dengan wajah tenang. Keep Calm and Enjoy Your Day. Akhir kata, semoga Tuhan melindungi bangsa ini dari orang-orang yang bahkan tidak adil sejak dalam pikiran.

Well, ternyata saya masih bisa mendoakan bangsa ini. Ternyata saya tidak apatis2 amat :)