Jumat, 11 Oktober 2013

Thank You, Silence.

Many days we have passed without talks and chit-chats. These 3 days are just like those silent days. But now I choose to make the benefit out of it. No more crying and apologizing. No more pain and regrets. No more feeling alone and lonely. No more feelings like we cannot live without each other.

No more.

Now I'm feeling so light. Now I can taste the peace. Now I feel contempt with my own self. I am alone, but I'm not feeling alone. I am not lonely. I can feel the songs of silence. A pure melody that I've never heard before. I can hear the wind blows. I can see the sun shining bright. I can feel the warmth. I can feel my life now. I am awake.

Maybe we just need our time away. Maybe this silence is the best way to find again what we want. What we need. Maybe this is the time to think back, clearly, who we are, why we are together. To find ourselves again. Before we've gone too far and lost too deep in the labyrinth.

I don't know how long it takes until we finally talk again; whether we have to wait, or to start over. But I just want to say one thing: In this silence, I know who I am.
I hope you do the same way too.


Senin, 23 September 2013

Tidurku Tak Nyenyak Nanti Malam

Kadang samar, kadang jelas
Tidurku kini tak bisa pulas
Kepalaku beralas keraguan yang menganga jelas

Bias-bias senyum yang punya makna ganda:
entahkah nyata atau fatamorgana
Pemiliknya tak kunjung jelaskan kenapa
Membuat hati bertanya tanpa jeda

Kadang binar, kadang muram
Mata yang lembut bagai senja temaram
Buatku merasa: tidurku tak 'kan nyenyak nanti malam.

Yogyakarta, 23 September 2013

Senin, 22 Juli 2013

Ikhlas (?)

Don't wanna talk much here. Just wondering why dulu pernah denger beberapa orang berkata -kurang lebih- seperti ini:

"Sudah, gapapa...saya ikhlas kok."

"Bukannya mau menyombong, tapi saya ikhlas loh...dan alhamdulillah Allah memberikan yang berlipat ganda..."

Dari saya kecil sampai sekarang, sudah beberapa kali saya mendengar kalimat ini terucap. Dan dari kecil sampai sekarang, rasa heran saya tidak pernah berubah: Bagaimana bisa mereka mengatakan mereka ikhlas jika mereka memang ikhlas?

Bukankah ikhlas itu hanya Allah yang bisa menilai? Maka siapa kamu sok2 bilang "saya ikhlas"? Saya tidak peduli bahwa beberapa orang yang saya dengar mengucapkan kalimat ini adalah orang yang sudah berumur dan makan asam garam kehiduan, bagi saya....it just doesn't sound right. It sounds weird.

Saya rasa, berbahaya sekali ketika manusia berani mengatakan bahwa mereka ikhlas. Saya memang ga alim2 banget, tapi menurut saya ikhlas itu adalah kata yang sangat...sangat sakral mungkin. Ya....karena hanya Allah yang bisa menilai. Dan saya sendiri merasa manusia punya hati yang terlalu kotor untuk menilai perbuatan yang begitu murni. Apalagi menilai dirinya sendiri....narsistik.

Hhhh....bergembiralah mereka yang selalu meragukan dan mempertanyakan perbuatan yang mereka lakukan berlandaskan keikhlasan atau tidak. Bergembiralah mereka yang selalu takut jikalau mereka tidak ikhlas melakukan sesuatu, alih2 dengan pede berkata: "Saya ikhlas".